Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Wednesday, July 6, 2016

Happy 'Eid Mubarak 1437H

Bismillahirrahmanirrahim.


Untuk kali ini ngga akan berlama-lama dalam merangkai kata.

Begitu banyak hal yang sebenarnya perlu direnungkan.

Mulai dari ibadah, lisan, perbuatan, termasuk bagaimana hari-hari kita di bulan Ramadhan yang telah lalu :'

Illahi Rabbi.. maafkan hamba-Mu ini yang seringkali lupa diri sampai-sampai hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi..

#istighfar

Alhamdulillah, suatu nikmat yang tiada terkira ketika bisa diperjumpakan kembali dengan bulan Syawal yang begitu masyaaAllah ini :')

Sepertinya ngga perlu banyak berkata-kata karena diri ini memang banyak salah, khilaf dan kurangajarnya.

Mohon maaf lahir dan bathin atas segala macam hal yang barangkali dirasa tidak berkenan bahkan mengecewakan.

"大好きなその笑顔くもらせてごめんね
祈っても時の流れ速すぎて遠くまで
流されたから戻れなくて.."
♪ Pieces

Selamat berSEMANGAT! 

Semoga aku, kamu, dia, mereka dan kita semuanya benar-benar "pantas" dikatakan sebagai seorang pemenang yang karena Kuasa dan Kebesaran-Nya telah mempertemukan kita dengan bulan Suci penuh Berkah ini :')

Illahi Rabbi..
Semoga Engkau senantiasa mencintai kami..
Allahumma aamiin :')

DIY, 2016年07月06日

Saturday, July 2, 2016

26 Ramadhan 1437H - Kita Sudah Jauh Berjalan, Apa yang Sudah Kita Bawa?

Bismillahirrahmanirrahim.

26 Ramadhan 1437H


Menemukan Kesejatian Diri
Oleh: Muhammad Anis Matta, Lc

Kita sudah relatif jauh berjalan. Banyak yang sudah kita lihat dan yang kita raih. Tapi banyak yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret. Dan masih banyak lagi.

Jadi, mari kita berhenti sejenak disini!
Ber’itikaf.

Kita memerlukan saat-saat itu, saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.

Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.

I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan.

Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.

Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.

Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh.

Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.

Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.

Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS. Al Hadid: 16)

Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.

Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.

***

Beberapa hari menuju penghujung Ramadhan, sudah sejauh mana diri kita melangkah?
Perubahan seperti apa yang sudah kita bawa?
Sudah lebih baik-kah diri ini?
Mari tanyakan pada diri~

*renungan sekaligus pengingat dari dan untuk diri sendiri 🍃

25 Ramadhan 1437H - Ramadhan Masih Belum Usai

Bismillahirrahmanirrahim.

25 Ramadhan 1437H


Mumpung Masih Ramadhan..

Allah menjanjikan bagi siapa saja yang mau bersedekah, Allah akan memeliharanya dari segala bentuk kekhawatiran dan segala bentuk kesedihan. Anda saat ini sedang punya masalah? Makanya ayo segera bersedekah..

Mumpung Masih Ramadhan..

Mumpung masih bisa berlomba-lomba melakukan kebaikan. Karena tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang. Tidak ada yang tahu apakah kita bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan?
Wallahu'alam.

Deketin Allah dengan Sedekah. Deketin juga Keluarga Allah, Para Penghafal Qur’an. Biar kita semua jadi ahlul Qur’an. Insya Allah.

***

Ingat, Ramadhan belum usai

Jangan berhenti sebelum kakimu menginjak garis finish!

Seorang alim ulama’ berkata;
.
:العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات
.
"Yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan penutupnya, bukan kekurangan yang terjadi di permulaannya"

Jangan sampai terbalik!
Awal-awal ramadhan begitu semangat, tetapi akhirnya loyo…

Ayo semangat!
Siapa tahu malam ini atau malam-malam yang masih tersisa adalah malam lailatul qadr.

Rasulullah SAW tidak keluar dari tempat I’tikafnya, sampai benar-benar kakinya mencapai garis FINISH.

Yang mudik, tetap dijaga lisannya untuk selalu basah dengan dzikrullah.

Yang belum khatam qur’annya, pending semua aktivitas yang bisa dipending, usahakan sebelum terbenam mentari di akhir ramadhan tahun ini, kecuali kau sudah mengkhatamkannya.
.
إِنْ شَاءَ اللّه
.
BISA..
Asalkan niat dan berazam.

Ingat belum saatnya menebar, ucapan selamat. Karena kau belum mencapai finish

- Ustadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah MA, hafidzohulloh

24 Ramadhan 1437H - AYO I'TIKAF

Bismillahirrahmanirrahim.

24 Ramadhan 1437H


Allahumma shayyiban naafi'aan. MasyaaAllah, berkah.. berkah.. berkah.. ☔💦

Tetiba sempat ditunjukkan video singkat gitu tentang i'tikaf. Oleh karenanya, AYO I'TIKAF 🙌✨

Dari دكتور رسلي حسبي Lc. MA :
Sekilas FIQIH I'TIKAF

Dalam tinjauan bahasa Arab, al-i’tikaf bermakna al-ihtibas (tertahan) dan al-muqam (menetap).
(sumber: At-Ta’rifat karya ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali Asy-Syarif Al-Husaini Al-Jurjani atau sering disebut dengan Al-Jurjani)

Sedangkan definisinya menurut para fuqaha adalah:
.
الْمُكْثُ فِي الْمَسْجِدِ بِنِيَّةِ القُرْبَةِ
.
Menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
(Mu’jam Lughah Al-Fuqaha karya Muhammad Rawwas Qal’ah Ji 1/76)

Atau:
.
لُزُومُ الْمَسْجِدِ لِطَاعَةِ اللهِ وَالاِنْقِطَاعِ لِعِبَادَتِهِ، وَالتَّفَرُّغِ مِنْ شَوَاغِلِ الْحَيَاةِ
.
Menetap di masjid untuk taat dan melaksanakan ibadah kepada Allah saja, serta meninggalkan berbagai kesibukan dunia.

Hukum dan Dalil Disyariatkannya I’tikaf

Hukumnya sunnah, dan sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan karena hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw) di sepuluh hari terakhir Ramadhan. I’tikaf menjadi wajib jika seseorang telah bernadzar untuk melakukannya.

Dalil-dalilnya:
.
وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
.
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (Al-Baqarah (2): 125).
.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا (رواه البخاري)
.
Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Nabi Muhammad saw selalu i’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun wafatnya, beliau i’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari).
.
قَوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ [رواه البخاري ومسلم]
.
Aisyah ra berkata: Rasulullah saw melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya melakukan i’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf seorang istri harus seizin suaminya.

Tujuan dan Manfaat I’tikaf

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tujuan disyariatkannya i’tikaf adalah agar hati terfokus kepada Allah saja, terputus dari berbagai kesibukan kepada selain-Nya, sehingga yang mendominasi hati hanyalah cinta kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, semangat menggapai kemuliaan ukhrawi dan ketenangan hati sepenuhnya hanya bersama Allah swt. Tentunya tujuan ini akan lebih mudah dicapai ketika seorang hamba melakukannya dalam keadaan berpuasa, oleh karena itu i’tikaf sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan khususnya di sepuluh hari terakhir.
(Zadul Ma’ad 2/82)

Adapun manfaat i’tikaf di antaranya adalah:
  1. Terbiasa melakukan shalat lima waktu berjamaah tepat waktu.
  2. Terlatih meninggalkan kesibukan dunia demi memenuhi panggilan Allah.
  3. Terlatih untuk meninggalkan kesenangan jasmani sehingga hati bertambah khusyu’ dalam beribadah kepada Allah swt.
  4. Terbiasa meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Al-Quran, berdzikir, qiyamullail, dan ibadah lainnya dengan kualitas dan kuantitas yang baik.
  5. Terlatih meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bagi penghambaannya kepada Allah swt.
  6. Memperbesar kemungkinan meraih lailatul qadar.
  7. Waktu i’tikaf adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah dan bertaubat kepada Allah swt.
Rukun I’tikaf

Rukun i’tikaf ada empat:
(sumber: Raudhah At-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin karya Imam An-Nawawi: 1/281)
  1. Mu’takif (orang yang beri’tikaf)(المُعْتَكِفُ)
  2. Niat (النِّيَّة)
  3. Menetap (اللُّبْثُ). Tidak ada batasan minimal yang disebutkan oleh Al-Quran maupun Hadits tentang lamanya menetap di masjid. Namun untuk i’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan waktu i’tikaf yang ideal dimulai pada saat maghrib malam ke-21 sampai maghrib malam takbiran.
  4. Tempat i’tikaf (المُعْتَكَفُ فِيهِ)
Syarat I’tikaf
  1. Syarat yang terkait dengan mu’takif : beragama Islam, berakal sehat, mampu membedakan perbuatan baik dan buruk (mumayyiz), suci dari hadats besar (tidak junub, haid, atau nifas).
  2. Syarat yang terkait dengan tempat i’tikaf : masjid yang dilakukan shalat Jumat dan shalat berjamaah lima waktu di dalamnya agar mu’takif tidak keluar dari tempat i’tikafnya untuk keperluan tersebut.
Yang Membatalkan I’tikaf
  1. Kehilangan salah satu syarat i’tikaf yang terkait dengan mu’takif.
  2. Keluar dengan seluruh badan dari tempat i’tikaf, kecuali untuk memenuhi hajat (makan, minum, dan buang air jika tidak dapat dilakukan di lingkungan masjid) dan melaksanakan kewajiban yg tak dapat ditunda seperti menghadiri jenazah orang tua, dan menjenguk orang sakit bila menjadi kewajiban mu'takif.
Mengeluarkan sebagian anggota badan dari tempat i’tikaf tidak membatalkan i’tikaf sesuai dengan ungkapan ‘Aisyah ra:
.
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُخْرِجُ رَأْسَهُ مِنَ الْمَسْجِدِ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ
.
Nabi Muhammad saw mengeluarkan kepalanya dari masjid (ke ruangan rumahnya) saat beliau i’tikaf lalu aku mencucinya sedang aku dalam keadaan haid.
(HR. Bukhari).

Adab atau hal yang harus diperhatikan oleh Mu’takif
  1. Selalu menghadirkan keagungan Allah di dalam hati sehingga niatnya terus terjaga.
  2. Menyibukkan diri dengan amal yang dapat mencapai tujuan i’tikaf.
  3. Bersahaja dan tidak berlebihan dalam melakukan perbuatan mubah seperti makan, minum, berbicara, tidur dan hal-hal lain yang biasa dilakukan di luar masjid.
  4. Menjauhi amal perbuatan yang dapat merusak tujuan i’tikaf seperti pembicaraan tentang materi (jual beli, kekayaan dan lain-lain).
  5. Memelihara kebersihan diri dan tempat i’tikaf serta menjaga ketertiban dan keteraturan dalam segala hal.
  6. Tidak melalaikan kewajiban yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya, seperti nafkah untuk keluarga, menolong orang yang terancam keselamatannya, dan lain-lain.
***

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya 😊

SEMANGAT Ramadhan!

23 Ramadhan 1437H - Iqra! BACA.

Bismillahirrahmanirrahim.

23 Ramadhan 1437H


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari…” - Pramoedya A. Toer, Anak Semua Bangsa

"Seorang penulis hendaknya memiliki tiga hal yaitu daya sentuh, daya isi, dan daya memahamkan. Untuk memilikinya, seorang penulis haruslah ia yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Ia harus rajin membaca dan bersemangat menelaah banyak referensi. Jika ia ingin menulis tentang sebuah permasalahan, ia akan mengumpulkan banyak sekali bahan. Tidak cukup satu atau dua buku lantas berpuas diri mengambil kesimpulan dan menulisnya." - Salim A. Fillah

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya dunia sampai dengan hari ini (/ω\*)

Salah satu hal yang masyaaAllah hari ini adalah ketika bersiap untuk ujian, lalu melihat ke arah Kartu Ujian yang ternyata kelas dari empat mata kuliah terakhir yang diujikan tuh membentuk suatu kata. Yap, kata tersebut adalah "BACA". Apakah ini sebuah kebetulan? Aku rasa tidak :'D

Setelah 'sadar' dan 'ngeh' akan hal tersebut, secara ngga langsung tertampar juga karena yang namanya Kartu Ujian aja bisa mengingatkan cobaaa. Duh, masyaaAllah ( ´艸`) *terharu*

"Buku -guru yang biasanya jujur itu- sering dapat diajak berunding sekalipun dia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kita." - Pramoedya A. Toer, Mereka yang Dilumpuhkan

Alhamdulillah ujiannya 'nyaris' beres karena besok adalah hari terakhir :'D/
Maka hampir tiba saatnya untuk mengejar apa yang perlu dikejar. Memaksimalkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan. Berusaha untuk lebih mesra bersama surat cinta-Nya. Dan juga selamat membaca! Duh, sastra lamaaa.. akhirnya ada juga waktu kita bersama *halah 😚📚📑📒📓📔📕📗📘📙📖💕

“Sejak kecil saya sudah membaca surat kabar dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan Belanda. Tapi, sekarang ini, bahkan di keluarga saya sendiri, anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Saya tidak pernah mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Mengapa mereka tidak tertarik untuk tahu lebih banyak hal-hal yang penting terjadi di negeri ini? Mereka tidak lagi punya budaya membaca, mereka lebih senang menonton televisi. Ini yang terjadi di keluarga saya sendiri, dan saya rasa hal yang sama terjadi di kebanyakan orang Indonesia. Mereka hanya menonton televisi dan tidak punya keinginan untuk menambah ilmu.” lihat Terbakar Amarah Sendirian: Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre’ Vitchek dan Rossie Indira [Gramedia, Jakarta, 2006, hal. 62]

Selamat Ramadhan!
Salam sehat dan SEMANGAT! 🙌😚✨

22 Ramdahan 1437H - Jangan Sampai Ada dan Tiadamu di Dunia Ini Tak Ada Bedanya

Bismillahirrahmanirrahim.


22 Ramadhan 1437H




Jangan pernah ingin menjadi orang yang biasa saja, karena penduduk bumi terlalu banyak. Dunia hanya memperhatikan orang-orang yang tak biasa. Dunia tak punya waktu memperhatikan orang yang hidupnya rata-rata.



Ada miliaran manusia yang hidup dalam satu generasi. Tetapi hanya ada segelintir saja orang yang namanya kemudian muncul menjadi bintang. Sementara sebagian besar lainnya terpaksa alur hidupnya sangat sederhana: lahir, hidup beberapa saat, kemudian meninggalkan dunia tanpa ada sedikitpun jejak sejarah yang layak dikenang generasi setelahnya.



Jadilah manusia yang kehadirannya selalu dinanti, dibutuhkan, dicintai dan disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Manusia yang hadirnya sangat didamba, selalu ditunggu kedatangannya, ditangisi kepergiannya, dan bila pergi menyisakan sedih di kalbu.



Jangan sampai ada dan tiadanya dirimu di dunia ini tak ada bedanya. Ukir namamu di panggung sejarah.



*Ahmad Rifa'i Rif'an dalam buku dengan judul dan font yang sama seperti pada gambar

***



Alhamdulillah, malam hari ini secara ngga sengaja tergerak untuk lihat-lihat tayangan televisi dan ternyata bertepatan dengan salah satu program yang malam hari ini mengundang bapak Presiden ketiga NKRI. Adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, salah satu orang yang menginspirasi dan masyaaAllah pokoknya ( ´艸`)



Indonesia pernah mempunyai seorang pemimpin Muslim yang amanah dan berpengetahuan tinggi (hafizhun 'alim), yakni Prof. Dr. BJ Habibie. "Beliau ahli tahajjud, ahli puasa Senin Kamis, gemar membaca Al-Qur'an, dan seorang ahli pesawat yang keilmuannya diakui oleh dunia internasional. Selama menjadi presiden RI, beliau terbukti sukses melaksanakan tugasnya," ujar Prof. Didin Hafidhuddin, Guru Besar Agama Islam IPB Bogor.



Beberapa dari pihak keluarganya, mulai dari anak; cucu; adik serta kakak beliau sempat ditanyakan oleh pembawa acara terkait dengan "Sosok Habibie" di mata keluarga. Kemudian sebagian besar pihak yang ditanyakan tersebut menjawab bahwa beliau tuh belajar terus. Duh, ya ampun.. malu deh sama pak Habibie(´﹏` )



"Saya dalam hal ini bukan ahli dalam ilmu kepemimpinan. Orang semua tahu aslinya Habibie itu seperti apa. Tapi dalam kehidupan, saya insya Allah kurang dari 2 bulan lagi berusia 80 tahun. Dan saya telah melalui banyak sekali masalah-masalah yang harus diselesaikan dengan baik. Satu yang saya pelajari, harus kerja keras. Kedua, harus rasionil. Ketiga, harus profesional dalam bidang," kata Habibie.



Habibie mengatakan, yang terpenting dalam kehidupan itu adalah bagaimana menuntaskan tugas yang diemban. Itu lebih daripada menjadi seorang pahlawan.



"Jangan sekali-kali mau menjadi pahlawan. Kepahlawanan itu mahal, dan kita tidak mau dan tidak penting menjadi pahlawan. Yang penting adalah kita menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Tugas apa saja," kata suami almarhumah Ainun ini.



"...Kesimpulannya, saya tidak kejar duit. 
Saya kejar pekerjaan yang bisa menjadikan saya unggul. 
Tetapi pekerjaan itu halal.
Sekarang kita bicara mengenai keunggulan.
Anda harus menjalani proses pembuatan yang nilai outputnya iman dan takwa bernilai tinggi. Budayanya jitu, agamanya jitu. 
Agama kita sama, Alquran dan Sunnah. 
Budayanya saja yang beda. 
Tetapi, budaya itu harus bersinergi dengan agama. 
Tidak cukup. Anda harus terampil dalam bidang.
Sehingga bersinergi antara agama, budaya, Iptek dan ketrampilan.
Outputnya produktivitasnya meningkat. 
Tapi kalau produktivitas meningkat, tapi menganggur bagaimana jadi unggul? 
Anda bisa menjadi unggul jikalau anda diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah kompleks.
Mulai nanti sederhana, sistematis dan makin kompleks," kata Habibie.




"Jadikan jiwamu sebagai jiwa perkasa yang berkata, 'Wahai diriku, percayalah bahwa Tuhanmu tak pernah lengah darimu. Allah selalu memperhatikanmu. Dia selalu mengawasimu. Tunjukkan pada-Nya bahwa engkau tidak akan pernah berputus asa terhadap rahmat-Nya. Tunjukkan pada-Nya bahwa engkau selalu berupaya dan bekerja keras untuk menyelesaikan ujian dengan ikhtiar dan doa sepenuh jiwa.'" - Ahmad Rifa'i Rif'an



Oleh karenanya, jangan pernah takut untuk bermimpi besar. Yakinlah bahwa Allah tuh sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Kalau diawal udah ngga yakin akan Kuasa dan Ketetapan-Nya, maka ngga perlu terlalu kaget apabila keinginan tak lantas dikabulkan. Yang penting doa dan usaha tuh harus seirama, senada dan harus balance. Titik.



Btw kalau mengingat Habibie yang sebelumnya seolah ngga dipandang sama negeri sendiri, padahal di negeri seberang sudah diakui akan prestasi dan kerja kerasnya. Maka, ngga perlu khawatir ketika ada orang yang berpendapat lain terhadap apa yang kita lakukan. Biarlah orang berkata apa. Selama itu baik dan ngga bertentangan dengan apa yang disyari'atkan, mengapa harus takut? 😏



Selamat memanfaatkan sisa waktu yang dimiliki!



Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Monday, June 27, 2016

21 Ramadhan 1437H - DuaPerTiga (2/3) Ramadhan telah Berlalu~

Bismillahirrahmanirrahim.

21 Ramadhan 1437H


"Di sela pagi-Mu yang tenang. Hamba kembali terkenang. Perjalanan hari kemarin yang sangat panjang. Rasanya hilang, sekilas pandang. Tinggal menanti: Esok ajal menjelang. Namun, apa yang bisa ku bawa pulang?" - @photopena

Alhamdulillah karena masih diberikan waktu dan kesempatan untuk dapat sampai pada hari ke dua-puluh-satu Ramadhan. Pertanyaannya adalah, sudah sampai mana persiapan kita? Baik untuk menghadapi sesuatu yang pasti terjadi dan juga untuk mempersiapkan perbekalan menuju hari yang dijanjikan.....

*terdiam*

Kali ini berniat untuk 'nampar' diri sendiri lagi :'
Petang lalu sempat bukabuka dan bacabaca salah satu jejaring sosial dan tanpa sengaja ada pengingat nih, khususnya untuk diri sendiri.

Duapuluh hari Ramadhan telah berlalu, kemudian sudah sejauh mana diri ini melangkah? Apakah masih 'stuck' pada titik yang sama, ataukah justru bingung tak tau arah? Duh, semoga ngga lebih dominan parahnya yaaa (╥﹏╥)

Baiklah, langsung saja...

"Lantas, sejauh mana engkau yakin Allah menerima ibadahmu selama 20 hari lalu? Masihkah malas untuk 10 hari yang tersisa?"

Selama 11 bulan, aku sering berkata bahwa aku selalu merindukannya.
Selama itu pula, aku seakan telah mempersiapkan yang terbaik untuk menyambutnya.

Dan sekarang DIA telah hadir.

Aku sedang berada di dalamnya.
Tenggelam selama lebih 20 hari bersamanya.

Di 10 hari yang tersisa,
Muncul pertanyaan menohok dalam hati.
Sudah sempurnakan ibadahku selama 20 hari kemarin?
Sudah sesuaikah dengan janji-janji yang telah kupersiapkan selama 11 bulan?

Di 10 hari yang tersisa,
Dimana puncak segala kebaikannya berada.
Yang menjadi saat dimana sebuah malam paling mulia turun bersama ribuan malaikatnya.
Sampai dimana usahamu untuk mencari kemuliaan malam itu?
Masihkah harus melewatinya dengan sia-sia sama seperti 20 hari sebelumnya?

Seberapa yakin kamu percaya Allah menerima ibadahmu 20 hari kemarin?
Masihkah malas untuk menyempurnakannya di 10 hari yang tersisa?

@IndonesiaTauhid

***

Duhai diri, bergegas untuk melengkapi segala macam kekurangan yang ada pada diri. Manfaatkan sisa waktu yang dimiliki untuk terus berbenah lagi. Maksimalkan tiap detiknya agar tak menyesal di kemudian hari. Lakukan saat ini, jangan tunggu nanti-nanti (!)

Selamat memanfaatkan sisa waktu yang dimiliki ✊✨
Manusia memang ngga ada yang sempurna, tetapi berusaha untuk menyempurnakan kekurangan diri bukan suatu hal yang salah kan? Dengan catatan hal itu dilakukan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan :)

SEMANGAT Ramadhan! 👏💪👍✊💥

20 Ramadhan 1437H - Budayakan "tabayyun"

Bismillahirrahmanirrahim.

20 Ramadhan 1437H


Senin, 4 Mei 2015
Oleh: Rudifillah el Karo

Saudaraku...
Maukah engkau ku tunjukkan satu cara memuliakanku?
Sebagai tanda cintamu kepadaku karena Allah.
Agar aku jauh dari musibah fitnah di muka bumi ini.
Juga untuk menjaga kemuliaanmu di hadapan Allah dan ummat manusia.
Yaitu; jika ada berita tentangku... Tabayyunlah...

Sungguh, sifat tabayyun itu hanya Allah letakkan di hati ORANG BERIMAN.
Orang yang berhati-hati dalam menjaga diri dan saudaranya.
Orang yang tidak ingin ada musibah yang menimpa diri dan saudaranya.
Karena dia tahu setiap PRASANGKA adalah BERITA PALING DUSTA.

"Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

“Jauhilah kalian dari kebanyakan prasangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS. Al Hujuraat : 12)

Saudaraku...
Bukankah Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita tentang menjaga diri dari buruknya prasangka.
Bahwa jika prasangka itu benar maka ia adalah ghibah dan jika tidak maka ia adalah fitnah.
Maka jangan pernah jerumuskan dirimu dalam perkara ini, apalagi itu tentangku.
Sebagai bukti bahwa engkau memuliakanku karena Allah.

Jika nanti kita bertemu di akhirat...
Aku ingin bertemu denganmu sebagai saudara yang saling menjaga kehormatan.
Sebagai golongan yang bertabayyun karena cinta.
Sebagai kaum yang menjaga lidah dari fitnah dan ghibah.
Sebagai orang yang saling mencari udzur bagi saudaranya.

Saudaraku...
Mari saling menjaga dengan bertabayyun.

***

Iyaaaa, alhamdulillah untuk hari ini dikejutkan dengan beberapa hal yang masyaaAllah (/ω\)
Selain itu, baik disadari ataupun tidak rasanya telah diingatkan untuk terus tabayyun atau klarifikasi atau kroscek terhadap apapun itu. Titik.

Berkaitan dengan tabayyun, salah satu contoh konkret adalah mengenai broadcast yang beredar dimanapun itu. Ketika mendapat suatu informasi, alangkah baiknya kita klarifikasi berkenaan dengan valid atau tidaknya informasi tersebut. Jangan sampai kita justru menjadi pihak yang ikut menyebarkan kabar meragukan, terlebih lagi jika itu tak ada sumbernya #istighfar

Oleh karenanya, mari saling mengingatkan dalam kebaikan kemudian budayakan untuk ber-tabayyun terhadap informasi apapun itu. Yuk, jangan jadi makhluk yang dengan mudahnya menelan mentah-mentah tanpa mengolah informasi yang didapat. Teliti. Telusuri. Kroscek. Klarifikasi. Dan tabayyun-lah..

Semoga aku, kamu, dia, mereka dan kita semua termasuk hamba-Nya yang cerdas serta senantiasa ber-tabayyun atas informasi yang didapat. Illahi Rabbi, semoga Engkau tetap Mencintai kami. Allahumma aamiin!

SEMANGAT Ramadhan!

19 Ramadhan 1437H - OBAT HATI, ada lima perkara

Bismillahirrahmanirrahim.

19 Ramadhan 1437H


Untuk kali ini mari sedikit mengingat penggalan lirik dari salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Opick, Tombo Ati atau Obat Hati judulnya...

1. Baca Qur'an dan maknanya

Ramadhan tuh salah satu momen special yang amat teramat sangat sayang sekali jika harus dilalui tanpa adanya 'sesuatu' yang berbeda dengan bulan lainnya, dalam hal ini membaca Al Qur'an misalnya. Umumnya ketika tiba bulan Ramadhan tuh sebagian orang membuat targetan Ramadhan, termasuk targetan khatam Al Qur'an. Nah, sama-sama mengingatkan yaaa.. alangkah baiknya yang dikejar tuh bukan hanya targetan khatam Arabnya saja, tetapi juga terjemahannya. Karena kurang gimanaaa gitu yaaa kalau misalnya kita rajin baca tetapi ngga tau arti atau maknanya.. #ntms

2. Shalat malam dirikanlah

Berkaitan dengan shalat malam pada bulan Ramadhan, baik tarawih-witir ataupun tahajjud tuh sebenarnya lebih memungkinkan untuk dilakukan pada bulan ini. Tahajjud misalnya, sebelum sahur tuh kan kita bisa menunaikan shalat yang paling ngga dua rakaat ajaaa. Sehingga untuk tahajjud, pada bulan Ramadhan ini memang lebih banyak peluang begitu sedikit alasan untuk tidak menunaikannya.. kecuali kesiangan ._.

3. Dzikir malam perpanjanglah

Sedikit mengingat perihal mengenai doa pada postingan kemarin, sungguh.. Allah tuh Memerintahkan kita sebagai hamba-Nya untuk terus dan terus berdoa serta banyak memohon pada-Nya, banyak-banyak mengingat-Nya serta senantiasa menyertakan-Nya dalam tiap langkah kaki kita. Karena bagaimanapun kita harus sadar bahwa DIA selalu Mengawasi diri kita ini. (!)

4. Perbanyaklah berpuasa

Nah, ini diaaa.. Bulan Ramadhan kan disebut juga bulan Puasa, karena salah satu ibadah wajib pada bulan ini adalah berpuasa selama satu bulan penuh kecuali adanya alasan syar'i yang membuat kita diperbolehkan untuk 'absen' berpuasa. Duh, ada yang kurang gitu yaaa kalau Ramadhan malah bolos puasa tak beralasan. Selain itu, jangan sampai puasanya jalan tetapi yang lima waktunya malah bolong atau berlubang. Innalillah.. semoga kita bisa memaksimalkan sisa Ramadhan tahun ini. Aamiin.

5. Berkumpullah dengan orang shalih/a

Untuk poin terakhir ini, sekedar mengingatkan saja bahwa Ramadhan tuh biasanya dijadikan momen untuk berkumpul bersama siapapun itu. Nah, jangan sampai momen kumpul itu berlalu dengan sia-sia. Boleh aja ikut agenda bukber sana-sini, tetapi jangan sampai justru melalaikan apa yang menjadi kewajiban kita seperti misalnya ketika bukber tapi malah maghribannya bablas begitu saja. Astaghfirullah :'

Jadi, maksud berkumpul dengan orang shalih/a disini adalah mereka yang masih tetap mengingatkan dalam kebaikan. Ngga harus yang sempurna atau gimana-gimana karena pada hakikatnya manusia itu ngga ada yang sempurna, tetapi menyempurnakan diri bukan menjadi suatu hal yang salah kan? Oleh karenanya, jangan pernah segan untuk mengingatkan terutama dalam hal-hal yang mengarah pada kebaikan. Selama yang kita lakukan itu baik, mengapa harus takut?

Btw alhamdulillah hari ini bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat yang cukup lama tak jumpa. Semoga aku, kamu, dia, mereka dan kita semua senantiasa berada dalam lindungan serta penjagaan-Nya. Allahumma aamiin.

SEMANGAT memanfaatkan sisa waktu di bulan Ramadhan! 👏✊💪💥

18 Ramadhan 1437H - Berdoalah kepada-KU niscaya akan AKU kabulkan

Bismillahirrahmanirrahim.

18 Ramadhan 1437H


Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Akan tetapi pengaruh do’a pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang do’anya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya sendiri. Boleh jadi do’a itu adalah do’a yang tidak Allah sukai karena melampaui batas. Boleh jadi do’a tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak menghadirkan hatinya kala berdo’a. Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya do’a dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (Al Jawaabul Kaafi , hal. 21)


dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,
.
ﻟَﻴْﺲَ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ
.
“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a. ” (HR. Tirmidzi)
.
Doa yang dimaksudkan disini tentunya adalah doa yang mengarah kepada kebaikan serta membawa kebermanfaatan. Sebagai seorang manusia, maka janganlah berputus asa ataupun berhenti berharap pada-Nya. Selama itu tidak bertentangan dengan apa yang DIA perintahkan, maka teruslah berdoa dan yakinlah bahwa DIA adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa.



“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)



Doa dikabulkan dengan berbagai macam cara yang memang telah DIA siapkan. Bisa saja langsung dikabulkan ketika itu, bisa dikabulkan tetapi harus bersabar menanti 'momen'nya, bisa juga justru dikabulkan dengan ganti yang lebih baik ntah disadari ataupun tidak.



Mungkin sekali-duakali dalam kehidupan kita rasanya Allah ngga segera mengabulkan doa kita. Tetapi sadarkah bahwa tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi karena Allah ingin tau sejauh mana keseriusan kita terhadap doa yang dipanjatkan tersebut. DIA mungkin ingin agar kita lebih mendekat pada-Nya. DIA mungkin ingin agar kita lebih mengharap kepada-Nya. Oleh karenanya, tetap berbaik sangka kepada Allah terhadap setiap do'a yang kita panjatkan. Karena bagaimanapun juga, DIA punya berjuta cara untuk mengemas serta mengabulkan doa-doa kita melalui hal-hal yang berada di luar batas pikir manusia.



“Berdoa bukan cara memberi tahu Allah apa yang kita perlukan, sebab Allah Mahatahu,
Maha Bijaksana. Berdoa itu berbincang mesra agar Allah mengaruniakan yang terbaik
untuk kita dengan ilmu dan kuasa-Nya yang sungguh Maha Segalanya.."
(Salim A. Fillah, Menyimak Kicau Merajut Makna)



Berdoalah mulai dari hal sederhana, sekecil apapun itu. Kemudian dalam proses terkabulnya doa tersebut, manfaatkan untuk memperbaiki diri. Karena bisa jadi, doa yang sampai saat ini belum dikabulkan oleh-Nya justru terhalangi dengan amal perbuatan kita sendiri. Berbaik sangkalah pada-Nya, sungguh.. kalau bukan kepada-Nya, maka kepada siapa lagi kita berharap?



Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya..

Thursday, June 23, 2016

17 Ramadhan 1437H - PERJUANGKAN atau TINGGALKAN (!)

Bismillahirrahmanirrahim.

17 Ramadhan 1437H



MasyaaAllah, kali ini mungkin lanjutan dari berdamai dengan diri (^^;)



Pagi yang telah lalu sempat dapat pesan di beberapa grup,



"Apa kabar dengan imanmu, masihkah ia tulus dan ikhlas dalam menggapai ridha-Nya?"



"Apa kabar dengan amanah yang menopangmu, masihkah ia engkau kelola dengan baik? dengan semangat seperti dulu kawan? dengan komitmen yang engkau bentuk?"



"Apa kabar dengan semangat yang masih terkubur dalam jiwamu, masihkah ia bertahan? masihkah ia kuat? masihkah ia bergelora?"



Sejujurnya, agak merinding juga ketika mengetik - membaca - mengingatnya..



Kali ini berbicara terkait skala prioritas. Sebelumnya ketika awal masa hijrah di SMA tuh sempat beberapa kali diingatkan untuk mengutamakan apa yang penting dan mendesak. Bukan sekedar penting ataupun mendesak, melainkan yang benar-benar keduanya.



Hal ini tentu berkaitan juga bahwa kita tuh ngga boleh dzalim sama diri sendiri, bukan begitu? Berbuat baik itu amat perlu, termasuk bergabung dalam lalala untuk menebarkan kebaikan. Tetapi jangan hanya sampai disitu, kita juga harus tau sejauh mana kapasitas diri yang kita miliki. Jangan sampai "ayuk" sana-sini tapinya malah berujung dzalim, baik sama amanah yang diemban dan terlebih lagi dengan diri. *menatap sinis ke depan kaca kemudian terdiam 💦



"Sahabat..



Sejauh manakah engkau bertahan saat lemah, disaat teman-teman meninggalkanmu, disaat teman-teman tidak menghiraukanmu?



Sejauh manakah engkau berjuang saat futur, disaat yang lain tidak semangat, disaat yang lain lelah, disaat yang lain bosan?



Mampukah engkau terus semangat, kawan?



Sejauh manakah engkau ta'at saat bimbang, disaat keraguan menghinggapi dadamu, disaat ketidakpercayaan menghiasi pikiranmu?



Mampukah engkau ta'at? mampukah engkau tetap menjadi tauladan? mampukah engkau tetap komitmen terhadap jalan yang kau pilih?



Sejauh manakah engkau istiqomah terhadap amanah, disaat yang lain mundur, disaat yang lain left, disaat yang lain tanpa kabar, disaat yang lain lalai?



Mampukah engkau istiqomah, kawan? mampukah engkau terus bertahan dan berjuang?"



...



Salah satu pelajaran yang dijadikan sebagai pengingat hari ini adalah, bahwa sebelum kita meminta orang lain untuk komitmen atau istiqomah, maka alangkah baiknya kita kembalikan juga kepada diri sendiri. Jangan sampai menjadi orang yang menuntut ini-itu dari orang lain, sedang dirinya hanya berleha-leha di tengah peluh keringat orang lain (?) (╥﹏╥)



Ramadhan.. semoga kami bukan termasuk orang yang hanya sekedar 'ngaku-ngaku' merindukanmu, padahal ketika kau datang amal ibadah serta perbuatan kami tidak jauh berbeda dengan bulan lainnya..



Illahi Rabbi.. semoga kami termasuk dalam golongan hamba-Mu yang tidak pernah lupa untuk mengucap syukur, mengenai apapun yang terjadi dalam kehidupan kami. Allahumma aamiin.



📝 catatan sekaligus tamparan dari dan untuk diri sendiri ❕

16 Ramadhan 1437H - Kalau Memang Serius, BUKTIKAN !

Bismillahirrahmanirrahim.


16 Ramadhan 1437H



Alhamdulillah, kali ini ingatkan diri kembali untuk melanjutkan perjuangan pada sisa-sisa waktu yang dimiliki agar nantinya tak menyesal di kemudian hari.


Kalau ngakunya memang serius, maka buktikan. Targetan Ramadhan yang sudah dipersiapkan sejak awal, segera dimaksimalkan.



Kalau ngakunya memang serius, maka buktikan. Merasa ngga aman sama mata kuliah yang semester ini, maka maksimalkan baca-perlajari-pahami selagi masih ada kesempatan.



Kalau ngakunya memang serius, maka buktikan. Manfaatkan waktu yang dimiliki pada Ramadhan kali ini untuk menambah amalan kebaikan, bukan hanya sekedar mengikuti arus kehidupan yang memang terus berjalan.



Kalau ngakunya memang serius, maka buktikan. Ketika ada suatu hal yang diinginkan, maka perkuat doa dan benar-benar diusakan bukan hanya sekedar duduk manis menanti datangnya keajaiban.



"Hitunglah menit tiap menit ramadhan kita. Apakah sudah kita isi dengan amalan, atau masih juga biasa saja.
Harusnya..
Ramadhan yg sekali setahun ini kita istimewakan setiap menitnya.
Karena jika tidak.. Seperti yg sudah-sudah. Ramadhan akan berlalu, dan diujung ramadhan kita akan mendapati ibadah kita kurang istimewa.. Lalu seperti yg sudah-sudah.. Berharap ramadhan tahun depan bisa lebih baik.
Seolah yakin bahwa tahun depan masih ketemu.
Ingat menit per menitnya kawan..
Setiap hembusan nafas di bulan ini,.pahala sedang tinggi tingginya.
Apa lagi yg menghalangi kita untuk beribadah dengan sebaik-baiknya?" - Andre Raditya



Ketika kita mengeluhkan bahwa apa yang kita perjuangan tak mungkin jadi kenyataan, maka ingatlah bahwa "..Jika AKU menghendaki, cukup AKU berkata 'jadi' maka jadilah.." - QS. Yaasin : 82



Ketika kita ragu untuk berbuat kebaikan, maka ingatlah bahwa "..Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun niscaya ia akan melihat balasannya.." - QS. Al Zalzalah : 7



Ketika kita merasa bahwa apa yang kita hadapi begitu sulit rasanya, maka ingatlah bahwa "..AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.." - QS. Al Baqarah : 286



Oleh karenanya, selagi masih ada waktu, jangan menunggu nanti-nanti. Tetap semangat menuju perubahan! Sekalipun perlahan, itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?



"Kalau ramadhan saja sudah tidak bisa menyemangati ibadahmu..
Mungkin memang hanya tinggal kematian yg bisa membuatmu menyesal.." - Andre Raditya



📝 catatan sekaligus tamparan dari dan untuk diri sendiri 💦

Wednesday, June 22, 2016

15 Ramadhan 1437H - Bagaimana Kabar Imanmu Hari Ini ?

Bismillahirrahmanirrahim.

15 Ramadhan 1437H



Alhamdulillah, masih diberikan waktu dan kesempatan untuk dapat berjumpa dengan pertengahan Ramadhan kali ini.



Tak terlepas dari itu, bagaimana kabar ibadah Ramadhannya? Apakah masih sama saja dengan bulan-bulan lainnya? Apakah sama sekali tidak ada bedanya? Mari tanyakan pada diri.



Kemudian, bagaimana targetan Ramadhannya? Sudahkah bisa dikatakan maksimal dalam pelaksanaannya? Ataukah justru 'masih' hanya berupa tulisan semata? Sekali lagi, mari tanyakan pada diri.



Petang ini secara tak sengaja baca tulisan yang sekaligus menjadi tamparan juga, khususnya untuk diri pribadi:
"Hal yang paling sulit dari puasa bukanlah menjaga diri dari batalnya PUASA. Melainkan yang paling sulit dari puasa adalah mencegah diri kita dari batalnya mendapatkan PAHALA PUASA.
Puasa bisa diganti di bulan lain.
Tapi ramadhan tak akan sama dengan bulan yang lain.
Catat itu." - Andre Raditya



Jadi teringat beberapa hari sebelumnya sempat terlibat diskusi sekaligus momen untuk introspeksi diri bersama, bahwa ibadah yang telah, sedang dan akan kita lakukan seperti shalat dan puasa tuh belum ada jaminan diterima oleh DIA. Maka dari itu, menjadi hamba yang merugilah kita apabila sudah merasa puas dengan itu semua. Duh (╥_╥)



Ibadah sahur, berbuka dan sholat Tarawih.. Seharusnya menjadi ibadah yang ditunggu-tunggu.. Karena hanya setahun sekali.. Dan lagi.. Kesemuanya ada di bulan yg Allah muliakan dan rasulullah istimewakan..
Jika kamu masih bermalasan beribadah di bulan seperti ini.
Tanyakan pada dirimu, "DOSA BESAR APAKAH GERANGAN YANG SUDAH ENGKAU LAKUKAN DALAM HIDUP, Hingga hatimu tak lagi bisa merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah?"


- Andre Raditya



Hari sebelumnya juga diingatkan, jangan sampai Ramadhan disamakan seperti bulan-bulan lainnya. Paling tidak, manfaatkan waktu luang di bulan Ramadhan ini untuk memperbaiki interaksi kita dengan Al Qur'an di samping ibadah wajib dan sunnah lainnya yang juga baiknya kita tunaikan.



Teruntuk kau, duhai diri.. selagi masih ada waktu dan kesempatan mari perbaiki yang dirasa masih kurang pada diri kita, mulai dari segi ibadah, perkataan serta perbuatan. Semoga kita nantinya benar-benar mencapai kemenangan. Allahumma aamiin~



SEMANGAT memanfaatkan sisa-sisa waktu yang dimiliki!
SEMANGAT Ramadhan!



📝 catatan dari dan untuk diri sendiri

Monday, June 20, 2016

14 Ramadhan 1437H - TUGAS yang selesai adalah TUGAS yang DIKERJAKAN

Bismillahirrahmanirrahim.

14 Ramadhan 1437H


Sebelumnya pernah baca kalimat ini di akunnya komikngampus. Rasanya sederhana memang, tapi lumayan 'jleb' juga loh :'D 

Iyaaa, tugas ngga akan pernah selesai jika tak dikerjakan. Kira-kira seperti itulah negasinya. 

Berbicara mengenai tugas, maka ngga jauh kaitannya dengan yang namanya kewajiban. Dalam kalimat mainstream yang maksudnya sudah umum dan familiar didengar tuh disebutkan bahwa kewajiban yang harus kita tunaikan di dunia ini memang lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang kita miliki. Oleh karenanya, kembali kepada pribadi masing-masing untuk menyiasati agar kewajiban tersebut dapat maksimal ditunaikan dalam waktu yang terbatas. 

Alhamdulillah.. ada beberapa pengingat, baik yang langsung ataupun tak langsung didapatkan hari ini. Duh, terimakasih banyak :') 

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." - QS. Al 'Ashr 


Teruntuk kau duhai diri, yuk maksimalkan lagi pemanfaatan waktu yang dimiliki. Jangan sampai terlanjur menyesal di kemudian hari. Karena masih banyaknya tuntutan yang belum juga terpenuhi. 


Hey, selamat Ramadhan! 

Selamat bertugas! 

Dan selamat berSEMANGAT! 


*catatan dari dan untuk diri sendiri 

#selfreminder

12 Ramadhan 1437H - Jadilah PAHLAWAN, Bukan PECUNDANG

Bismillahirrahmanirrahim.

12 Ramadhan 1437H



Sayyid Qutb berkata, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."



"Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (sampai saat kemenangan), dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya." - QS. Al Ahzab : 23



Subhanallah..
Alhamdulillah..
MasyaaAllah..
Allahu Akbar..



Sebelumnya Puji serta Syukur kepada DIA, Dzat Pemilik Alam Semesta yang karena Kuasa dan Kebesaran-Nya lah kita masih diperjumpakan dengan hari ke-12 Ramadhan yang begitu luar biasa ini. Duh, masyaaAllah (╥_╥) *terharu



Mungkin ngga banyak dulu yang bisa disampaikan melalui tulisan singkat dan sederhana ini, karena begitu banyaknya hal luar biasa yang dirasa, sampai-sampai ngga puas jika hanya diungkap dalam segelintir kata. InsyaaAllah catatan perjalanan akan disempurnakan dalam postingan di blog mendatang *bukan promosi ✌



Alhamdulillah..
Salah satu hal yang masih membekas adalah sharing singkat tentang PAHLAWAN. Yaaa... bagaimanapun dan sebisa mungkin kita tuh harus bisa memberi kesan baik terhadap orang sekitar. Ngga mau juga kan kalau dianggap sebagai pecundang? u.u



"Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.



Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tak ada keberanian tanpa resiko.



Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan . Inilah yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama menderita masuk penjara, sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata. - Anis Matta



Selamat berbuat baik!
Selamat berlomba dalam kebaikan!
Selamat melanjutkan estafet perjuangan!
Daaaann selamat berSEMANGAT!