Tuesday, May 14, 2019

9 Ramadhan | Menjalani Hidup dengan Merasa Cukup


*

Bismillahirrahmanirrahim.

9 Ramadhan 1440H

-

Manusia memang tidak pernah merasa puas karena memiliki keinginan yang lebih tinggi daripada kebutuhannya. Hal ini wajar saja terjadi. Akan tetapi sebagai seorang manusia, kita harus bisa mengendalikan diri kita dan hawa nafsu kita agar tidak melampaui batas. Ingatlah bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menciptakan makhluk dengan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak perlu untuk merisaukan apa yang belum kita miliki.

Ibnu Jauzy Rahimahullah mengatakan bahwa, "Musibah besar adalah seseorang yang merasa sudah baik dan cukup dengan ilmu yang dimiliki."

Dalam Firman-Nya, Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan,

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An Nahl : 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki yang halal yang bisa membuat orang bersyukur. Rezeki haram akan membuat orang merasa kurang dan semakin tamak serta rakus dalam menumpuk harta untuk kepentingannya semata karena merasa semua itu adalah rezeki yang diperolehnya karena hasil usahanya sendiri. Ia terlupa untuk melibatkan Allah.

Rasulullah shalallahu 'alayhi wa sallaam bersabda,
“Seorang hamba yang mencari harta tanpa cara yang haram akan mendapat keberkahan dalam hartanya. Adapun yang mencari harta dengan cara tanpa yang halal, ia akan dijerumuskan ke dalam neraka bersama hartanya tersebut.“

Abdul Al Qadir Al Izzi berkata,
“Kualitas keagamaan seseorang bergantung pada kualitas makanan yang ia dapat. Semakin halal makanan seseorang, semakin giat pula ibadahnya. Semakin banyak ia memakan yang haram, semakin terpuruk semangat ibadahnya. Semakin sering ia memikirkan cara mencari harta halal, semakin sering ia memikirkan cara meningkatkan amalanya. Semakin sering ia mencari harta haram, semakin banyak ia melanggar aturan Allah.“

Abdullah bin Abbas RA berkata,
“Allah tidak akan menerima ibadah seseorang jika dalam perutnya terdapat barang haram.“

Suatu saat Sufyan Al Tsauri menghadiri walimah dengan membawa makanan sendiri. Padahal tuan rumah telah menyediakan  makanan untuk para tamunya. Sang tuan rumah pun bertanya tentang alasan Al-Tsausri membawa makanan dari rumah. Al Tsauri menjawab, “Engkau mengetahui secara pasti dari mana engkau mendapatkan makananmu. Begitu pula aku mengetahui dari mana makanan yang kubawa ini. Seseorang hendaknya mengetahui asal-usul makanannya.”

Pada kesempatan lain Al Tsauri ditanya keutamaan shaf pertama dalam shalat berjamaah. Dia menjawab, “Periksa dulu makananmu! Sebab jika makananmu halal, di mana pun shaf shalatmu, engkau pasti mendapat keutamaan. Sebaliknya jika makananmu haram, engkau akan mendapat siksa dan murka Allah meski shalatmu di shaf terdepan.“

Makanan yang dikonsumsi seseorang berpengaruh terhadap kualitas kecerdasannya. Karena itu, kecerdasan dan kesalehan anak bergantung pada makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Semakin banyak anak mengomsumsi makanan haram, kecerdasannya akan semakin turun.

Makanan halal adalah energi untuk meningkatkan semangat dalam berbagai hal. Semangat hidup bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Semangat belajar bergantung pada makanan yang dimakan. Bahkan ketajaman tulisan seseorang bergantung pada kualitas makanan yang ia konsumsi saat menulis.

Wallahu a'lam.

Belum setengah perjalanan di bulan Ramadhan, jangan sampai kebablasan kalap sama makanan dan minuman.
Ingatlah pesan bahwa kita dianjurkan untuk berhenti makan sebelum kekenyangan.

SEMANGAT Ramadhan!
Selamat berburu kebaikan dengan senantiasa berbaik-baik melakukan segala macam amalan baik!

📝 Artikel KUTUB
#LY1440H
#Ramadhan1440H
#RamadhanProduktif
#semangARTramadhan
#SEMANGATRamadhan
#YukMenujuBaik
#MenujuBaikItuBaik

No comments:

Post a Comment