Monday, October 9, 2017

Perbandingan Peran Audit di Indonesia & Pakistan


Sistem ekonomi Islam adalah temuan yang sangat berharga untuk mengatur perekonomian saat ini, perkembangan perbankan syariahpun begitu pesat di berbagai belahan dunia, salah satunya Negara Pakistan. Negara Pakistan atau bisa disebut juga Republik Islam Pakistan, dengan nama ibu kota Islamabad yang mayoritas penduduknya adalah muslim, penduduk muslimnya mencapai 919.000 jiwa. Pertumbuhan ekonomi islam pada Negara ini tumbuh dengan cukup pesat.

Dalam dua dasawarsa terakhir, menurut bank pemerintahan Pakistan melaporkan bahwa asset bank islam pada bulan September 2014 adalah 1102 miliar rupee dan deposito mereka tercatat adalah 934 miliar rupee, market share perbankan syariah asset dan simpanan di industri perbankan secara keseluruhan meningkat 10.7 persen pada akhir September 2014. Pada bulan September 2015 asset bank syariah mencapai 1511 miliar rupee dan deposito yang ada mencapai 1271 miliar rupee.

Hal ini menunjukan bahwa industri keuangan syariah diadopsi secara kumulatif sebagai perbandingan untuk perbankan konvensional. Hal itu menyebabkan menjadi peluang besar untuk melakukan banyak kecurangan. Setelah kejadian ini, bank pemerintahan Pakistan memutuskan untuk setiap lembaga keuangan syariah memiliki konsistensi dalam tata kelola keuangannya. Dengan adanya tata kelola dan cara yang sesuai dengan keuangan syariah yang berlaku, maka akan dapat memudahkan mendapatkan kebijakan yang tepat dan diterima oleh para pemangku kebijakan di bank syariah, seperti nasabah, investor, pemegang saham, karyawan, dan lain-lain.

Tentu dengan adanya tata kelola yang sesuai syariah belum cukup untuk menangani celah-celah kecurangan yang mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, audit syariah hadir di Pakistan atas dasar keprihatinan terhadap institusi keuangan islam di Pakistan. Dihadirkan pula para auditor syariah untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Pakistan.

Berbeda hal dengan audit syariah di Indonesia, jika audit di Pakistan hadir karena masih banyak celah kecurangan dalam pelaksanaan dan tata kelolanya, di Indonesia para auditor syariah hadir untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Indonesia. Seharusnya yang menjadi auditor syariah adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS), tapi dalam pratiknya yang menjalankan tugas audit bukanlah DPS.

Dewan Pengawas Syariah adalah sebuah fitur istimewa dalam lembaga keuangan syariah dan di anggap ‘supra authority’. Hal ini dikarenakan DPS adalah lapisan tambahan dalam struktur dewan, untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap kegiatan operasional bank syariah. Lebih jelasnya, peran dan tanggung jawab yang diberikan Dewan Syariah Nasional (DSN) kepada Dewan Pengawas Syariah dalam surat keputusan DSN MUI No.Kep-98/MUI/III/2001 tentang susunan pengurus DSN MUI masa bakti Th. 2000-2005 :
  1. Melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah.
  2. Mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan dan kepada DSN.
  3. Melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah yang diawasi kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran.
  4. Merumuskan permasalahan yang memerlukan pembahasan dengan DSN.
Audit syariah juga disebut sebagai akuntan publik yang mengaudit dan memberikan kesimpulan dari laporan keuangan suatu lembaga/perusahaan sebagaimana akuntan publik lainnya. Namun, auditor syariah hanya mengaudit lembaga/perusahaan yang melaksanakan ekonomi syariah saja. Akan tetapi, auditor syariah yang ada saat ini masih sangat minim dan kompetensinya belum mampu berbuat banyak atas permasalahan yang terjadi dalam ekonomi syariah, sehingga banyak akuntan publik yang belum berpengalaman dalam keuangan syariah dijadikan sebagai auditor keuangan oleh lembaga yang menjalankan perekonomian syariah. Karena hal tersebut, tantangan kompetensi auditor syariah di Indonesia menjadi sangat berat dan harus secepat mungkin untuk ditutupi kekurangannya agar perekonomian syariah mampu dievaluasi dan dapat dipercaya kebenaran syariahnya oleh masyarakat umum.

Jadi, kesimpulan yang ada ialah bahwa di Negara Pakistan, seorang auditor hadir karena masih banyaknya kekurangan yang ada pada sistem dan tata kelola pada lembaga-lembaga syariah dan perbankan syariah. Sedangkan di Indonesia, auditor hadir sebagai suatu lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Indonesia.

***
Referensi :
  • Journal of Internet Banking and Commerce ( CPMPETENCY OF SHARIAH AUDITHORS: ISSUES AND CHALLENGES IN PAKISTAN)
Penulis :
Azzam Fadhlullah
Mahasiswa STEI SEBI

Friday, September 29, 2017

Sebuah Buku: "Saat Malaikat Maut Menjemput Orang-Orang Shaleh"

Bismillahirrahmanirrahim.


Judul : Saat Malaikat Maut Menjemput Orang-Orang Shaleh
Penulis : Syaikh DR. Musthafa Murad
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
ISBN : 979-592-563-3
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2003
Tebal: 300 Halaman
Resensor: L. Yuniasari
 

---

Kehidupan dan kematian sejatinya menjadi dua peristiwa alamiah yang harus dialami setiap makhluk. Ada saatnya manusia menikmati kehidupan sebagaimana ada waktunya untuk merasakan kematian.

Apabila disadari, sudah begitu banyak waktu serta kejadian yang kita alami. Lantas, sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kematian yang datangnya pasti?

Baru saja siang tadi, diri ini diingatkan kembali bahwa ada yang tengah mengikuti di belakang kita dan bisa secara tiba-tiba ia menghampiri. Tepat. Ia adalah ajal. Kematian.

Apabila kita melihat lebih jauh ke sekitar, tidak sedikit orang-orang bahkan yang berada dekat dengan kita yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini. Mereka, satu per satu pergi. Mereka tidak membawa harta dan tahta dunia yang sebelumnya telah dicari. Hanya amal perbuatan merekalah yang mengiringi. Lantas, bagaimana dengan kita nanti?

Di antara orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkan kita, ada yang menyisakan sejarah beraroma kurang baik. Ia justru mewariskan keburukan yang tak terkira, hingga "kembali" pada-Nya dengan tangan hampa. Ia dirundung penyesalan di akhir, bahkan meninggalpun dalam keadaan hina. Ia adalah pendosa dan pembangkang apa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Agama. Na'udzubillah. Semoga kita bukan termasuk satu diantaranya.

Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mewariskan sejarah beraroma semerbak mewangi. Kepergiannya meninggalkan dunia ini begitu ditangisi. Tidak hanya makhluk-Nya, bahkan duniapun ikut menangisi. Ia dijemput untuk "kembali" ke haribaan-Nya dalam sebaik-baik iman, ketakwaan, serta keshalehan dalam dada. MasyaaAllah. Semoga aku, kamu, dia, mereka dan kita semua termasuk satu diantaranya. Allahumma aamiin :'

Allah SWT berfirman,

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." 
- QS. Al-Baqarah 2 : 281

Buku ini berisikan bagaimana perjalanan menuju kematian sampai dengan berbagai macam kisah penuh hikmah mengenai bagaimana orang-orang terdahulu ketika menghadapi kematiannya.

Buku yang terdiri dari banyak sekali sub-judul ini menjadi bacaan yang pas sebagai refleksi diri untuk mengingat pemutus segala kenikmatan. Ya, untuk mengingat kematian.

Kisah-kisah mereka yang Husnul Khatimah, bahkan Su'ul Khatimah (Na'udzubillah) secara tidak langsung dapat menjadi pelajaran sekaligus pengingat diri bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia ini. Akan tetapi, kehidupan yang sesungguhnya ialah kehidupan di akhirat nanti. Semoga surga-Nya menjadi tempat dimana kita dipertemukan kembali. Aamiin.

Maka cukuplah kematian itu sebagai nasehat.

Buku setebal 300 halaman ini diakhiri dengan beberapa sub-judul sebagai renungan yang juga mengingatkan pada diri ini untuk mulai mempersiapkan perbekalan untuk menyambut datangnya kematian...

Wahai manusia, bangunlah dari tidurmu dan bangkitlah dari pembaringanmu. Cukuplah kematian sebagai pengingat. Kematian seakan berkata kepada semua orang untuk segera mewasiatkan segala harta kekayaan yang telah dikumpulkan sebelum dirinya terlepas dari dunia. Menyedekahkan kekayaannya sebelum dirinya menuju ke alam akhirat...

"Yaa Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shaleh lagi shaleha."

Allahumma aamiin..

Wednesday, August 16, 2017

Sebuah Buku: "Piagam Madinah"

Bismillahirrahmanirrahim.

Resensi Bulan Agustus


Judul : Piagam Madinah
Penulis : H. Zainal Abidin Ahmad
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
ISBN : 978-979-592-672-6
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2014
Tebal: 268 Halaman
Resensor: L. Yuniasari
 
***

"Surat yang memuat peraturan ini, yang orang dapati bunyinya termaktub dalam kitab karangan Ibn Hisyam, sungguh-sungguh menunjukkan kebesaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sangat luas pikirannya dan terang pandangannya, yang berdiri atas petunjuk Allah dan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepadanya..." - H.O.S Tjokroaminoto

Piagam Madinah merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia yang lahir di Semenanjung Arab, bukan di belahan Asia lainnya, bukan di Afrika, Amerika ataupun Eropa. Salah satu hal menarik lainnya yang perlu diketahui adalah bahwa kelahiran konstitusi bagi sebuah ummah baru di Yatsrib kala itu juga berkaitan langsung dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Salah satu hal menarik dari Piagam Madinah yang saya dapati adalah isinya yang meluas dan terbilang cukup lengkap karena mencakup beberapa hal diantaranya yang berkaitan dengan negara, hak asasi manusia, pejabat, rakyat, dan hal-hal lainnya.

Buku ini memuat isi Piagam Madinah dalam teks asli dalam bahasa Arab dan juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, dalam buku ini disajikan lima bagian serta lampiran-lampiran yang secara tidak langsung sekaligus mengenalkan kembali akan dokumen sejarah yang dapat dikatakan bernilai tinggi ini.

Terakhir yang ingin saya sampaikan sebagaimana juga dituliskan dalam pengantar penerbit, kita ini, sebagai kaum muslimin memang patut berbangga bahwa diantara segelintir cendekiawan Muslim yang meneliti Piagam Madinah ini adalah seorang putra asli Melayu-Indonesia. Oleh karenanya, dengan mengetahui adanya Piagam Madinah ini, dapat dikatakan ibarat menemukan harta karun yang sekian lama terpendam.

Jadi, tertarik untuk membacanya?