Wednesday, July 19, 2017

Sebuah Buku: "Tamasya Ke Alam Kubur & Kehidupan Setelahnya"

Bismillahirrahmanirrahim.

#Resensi Bulan Juli

 

Judul : Tamasya Ke Alam Kubur & Kehidupan Setelahnya
Penulis : Miftahul Asror Malik
Penerbit : Semesta Hikmah
ISBN : 978-602-7701-41-0
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2014
Tebal: 200 Halaman
Resensor: L. Yuniasari

***

Tamasya. Satu kata yang ketika kita pertama kali membaca atau mendengarnya tentu akan berpikir hal-hal berkaitan dengan bersenang-senang, refreshing, liburan ataupun jalan-jalan. Akan tetapi, apakah akan sama apabila kata berikutnya yang dimaksud adalah tamasya ke alam kubur?

Sebuah buku yang mengupas hal-hal berkaitan dengan kematian, alam kubur, serta kehidupan setelahnya...

Buku ini terdiri dari enam bab ini merupakan salah satu "santapan" yang cocok dijadikan bahan renungan bagi diri. Karena boleh jadi, terkadang atau justru sering kali diri ini melakukan kelalaian yang tidak hanya sekali-duakali atau bahkan diri ini begitu sibuk akan hal-hal berkaitan dengan duniawi. Astaghfirullah...

Tamasya kita bersama buku ini diawali dengan mengenal hakikat dari kematian, sakaratul maut, serta hal-hal yang mungkin menyengsarakan daripadanya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al-A'raf : 34)

Berikutnya, kita akan dibawa untuk mengenal alam kubur termasuk siksa dan fitnahnya.

Hani', budak Utsman bin 'Affan bercerita bahwa ketika Utsman bin 'Affan berdiri di atas kuburan, maka ia menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Ketika ingat surga dan neraka kamu tidak menangis, namun ketika teringat kubur mengapa kamu menangis?" 
Utsman menjawab, "Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Kubur adalah permulaan tempat akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya akan lebih mudah darinya, namun jika ia tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya itu lebih berat darinya.'" 
Utsman bin 'Affan melanjutkan, "Saya juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Saya tidak pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dari kubur.'"
(HR. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bab tiga akan membawa kita untuk mengenal Hari Kiamat dna juga Hari Kebangkitan, termasuk juga mengenai syafa'at-Nya.

Dalam Firman-Nya disebutkan,

"Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?" (QS. Al Baqarah : 255)

"Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah." (QS. Al Anbiya' : 28)

Berikutnya, bab empat akan mengajak kita mengenal Hisab dan Pembalasan. Di sini, kita akan diingatkan kembali bahwa segala macam hal yang kita perbuat selama di dunia, baik disengaja ataupun tidak, nantinya akan mendapat balasan yang sesuai dengan apa yang dikerjakan. Oleh karenanya, manfaatkan sisa waktu yang dimiliki untuk segala macam aktivitas yang memang DIA Ridhai :'

"Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS. Al Baqarah : 281)

Bab lima akan mengenalkan kita pada Mizan atau timbangan amal dan juga Sirath yang merupakan jembatan yang dikatakan begitu licin dan menggelincirkan. Satu-satunya yang nantinya akan menjadi penolong kita ketika hendak melewatinya adalah tabungan amal yang telah kita kumpulkan selama di dunia. Semoga aku, kamu, dia, mereka, dan kita semua merupakan golongan hamba-Nya yang senantiasa diberikan kemudahan ketika nanti akan melewatinya, melewati shirath yang pada hakikatnya di bawahnya terdapat api neraka yang menyala-nyala. Aamiin :'

Bab enam sekaligus bab terakhir dalam buku ini akan membawa kita mengenal surga dan juga neraka, mulai dari tingkatannya; golongan orang yang termasuk di dalamnya; sifatnya; serta amalan-amalan apa saja yang nantinya dapat mengantarkan kita menuju surga-Nya dan menjauhkan diri kita ini dari neraka-Nya.

Secara keseluruhan dapat saya katakan bahwa ini salah satu buku yang juga mengingatkan bahwa perjalanan kita ini masih panjang, karena setelah melewati alam dunia, kita melanjutkan perjalanan di negeri akhirat yang sudah menanti kita di depan sana. Sungguh, hal yang sebenarnya pendek adalah perjalanan kita selama di dunia. Maka, sudah sampai sejauh mana perbekalan yang disiapkan untuk nantinya kita bawa?

Saling mengingatkan dalam kebaikan.
Mohon maaf apabila tulisan ini memiliki begitu banyak kekurangan.

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Monday, July 3, 2017

Review: 僕だけがいない街 - Boku Dake ga Inai Machi

Bagaimana jika kau diberi kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi, akan tetapi bagaimana jika masih ada peluang kegagalan bagimu untuk memperbaikinya?
-



Title : 僕だけがいない街 (Boku Dake ga Inai Machi) 
Genre : Psychological, Seinen, Supernatural 
Total Episodes : 12 
Duration : +- 24 minutes /episode 
Release : 2016
 


 
Berkisahkan tentang seorang anak bernama Fujinuma Satoru, seorang pria berusia 29 tahun yang bekerja paruh waktu sebagai seorang pengantar pizza. Suatu ketika, dirinya menemui Ibunya yang tergeletak dalam rumah dengan pisau yang tertusuk di perutnya. Naasnya, Satoru yang sebenarnya merupakan orang pertama yang menemukan ibunya yang menjadi korban tersebut justru dianggap sebagai tersangka dari kasus pembunuhan itu.
 
Pada akhirnya Satoru, tokoh utama yang juga seorang komikus ini berusaha untuk melarikan diri karena dirinya merasa tak bersalah. Tidak lama setelah itu, sambil berusaha melarikan diri ternyata diketahui bahwa Satoru memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Hal inilah yang menjadi alasan sehingga untuk beberapa kali Satoru dapat mencegah berbagai kejadian, termasuk kecelakaan yang sebelumnya ditemuinya dalam perjalanan mengantar pizza.
 
 
 
Satoru kembali ke masa 18 tahun lalu untuk memperbaiki kesalahannya terhadap Kayo Hinazuki, salah seorang teman sekelasnya yang menyatakan bahwa ia ingin pergi jauh dari kehidupannya sekarang ini melalui karangan yang telah dibuatnya.
 
 
 
Satoru yang mengaku bahwa dirinya ingin menjadi seorang Superhero nantinya akan dibantu oleh teman-temannya untuk dapat menuntaskan apa-apa saja yang sebelumnya dia sesalkan,
 
 
 
termasuk diantaranya oleh Kobayashi Kenya, salah seorang murid terpandai di kelas yang pada akhirnya pernah dikenakan hukuman oleh guru :'D
 
 
 
Salah satu hal yang membuat anime ini menarik bagi saya adalah alur cerita yang maju dan mundur, karena dalam anime ini diceritakan bahwa Satoru tidak hanya sekali melewati garis waktu untuk switch antara kehidupannya sebagai seorang pengantar pizza dengan masa ketika ia masih berada dibangku sekolah dasar. Nah, hal ini yang menurut saya justru merangsang penonton untuk ikut berpikir dan dag dig dugnya dapet bangetlah X'D
 
Sekilas ketika melihat anime ini mungkin akan teringat dengan Re-Life ataupun anime sejenis yang menceritakan bahwa si tokoh utama kembali ke masa lalu, termasuk dengan pintu ajaibnya Doraemon ya :'D
Akan tetapi, saya merasa bahwa anime ini juga memiliki daya tarik yang tidak se-mainstream itu kok, karena memang tiap anime memiliki keunikan dan nilai plus tersendiri bukan? ;;)
 
Btw ketika kita menonton anime ini (dan tontonan lainnya) juga dapat ditemani oleh...
 
kopi ataupun minuman lainnya :3
cemilan apapun itu :'D
bahkan makanan berat X'D
itu penting loh XD
-
 
Sedikit banyak, anime ini mengingatkan bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri...
 
 
 
karena pada kenyataannya masih ada orang-orang di sekitar kita yang bersedia mengulurkan tangan.
 
 
 
Secara keseluruhan, saya merasa bahwa anime ini cocok menjadi santapan mereka yang suka kisah fantasi, terlebih lagi yang dipadukan dengan pemecahan suatu misteri. Salah satu diantaranya adalah ketika Satoru melewatkan dua puluh empat tahun usianya tanpa adanya kesan, ingatan ataupun kenangan... Mengapa demikian?
 
 
 
Jadi, tertarik untuk menonton anime ini?
 
Yuk sharing review kalau sudah menonton,,
terakhir... ini ada titipan kedipan mata ;;)
  

Saturday, July 1, 2017

Review: Orange - 1.17 命懸けで闘った消防士の魂の物語 (Inochigake de Tatakatta Shouboushi no Monogatari)

Bismillahirrahmanirrahim.

-

Setiap pekerjaan tentu saja ada resikonya.
Lantas, pernahkah terpikir mengenai kemungkinan terburuk dari profesi yang dijalani?

Image result for orange 1.17
***

Film berjudul ORANGE 1.17 命懸けで闘った消防士の魂の物語 (Inochigake de Tatakatta Shouboushi no Monogatari) ini merupakan film yang ditayangkan pertama kali pada awal Januari 2015 lalu. Film yang telah cukup lama tak terjamah dalam salah satu folder saya ini ternyata menjadi satu diantara sekian banyak film yang saya rekomendasikan.

Film ini dapat dikategorikan dalam genre slice of life yang boleh jadi tak jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, salah satu yang membuat film ini menarik adalah jalan cerita yang mengambil sudut pandang dari sisi "kelompok oranye" atau pemadam kebakaran.

Film ini menceritakan perjalanan Kohinata Yuuji, tokoh utama dalam film ini sekaligus salah seorang pemadam kebakaran di kawasan Kobe.
 
 
Lebih jauh lagi, film yang berdurasi kurang lebih 110 menit atau 1 jam 50 menit ini menggambarkan bagaimana suka dukanya menjadi seorang pemadam kebakaran, apa saja resiko yang dihadapi ketika menjadi seorang pemadam kebakaran, bahkan termasuk alasan mengapa memilih untuk menjadi seorang pemadam kebakaran. Hal-hal seperti itu yang bagi saya pribadi hampir tidak pernah terpikirkan, tetapi justru membuat pikiran ini menjadi lebih terbuka atas hal-hal tersebut. Hal-hal yang boleh jadi tak kita ketahui, bahkan tidak kita pedulikan sebelumnya.

Dari film ini, saya baru menyadari bahwa memang bukan menjadi hal yang mudah ketika kita hendak terjun dalam suatu profesi.

ini salah satu latihan bagi seorang pemadam kebakaran

termasuk jungkir balik seperti ini :'

Tidak terlepas dari hal tersebut, ada kalanya perjuangan dan pengorbanan pemadam kebakaran seolah tidak dihargai karena boleh jadi mereka justru dianggap sebagai pelaku atas nyawa yang tidak terselamatkan akibat kebakaran :'


Tentu saja hal seperti itu juga menghiris hati, bahkan bagi seorang pemadam kebakaran yang 'kasarnya' dapat dikatakan bahwa nyawa yang diselamatkan tak ada kaitan dengannya.
 
 
Tetapi (lagi-lagi) semua itu menjadi kewajiban, tuntutan, serta satu dari sekian banyak resiko yang mau tak mau harus dihadapinya.
 
 
Seorang pemadam kebakaran akan merasa gagal memainkan peran serta menjalankan kewajibannya ketika angka yang tak terselamatkan lebih banyak dari yang mereka selamatkan, sekalipun semua diantaranya bukan bagian keluarga mereka :'


Bahkan nyawa mereka juga yang menjadi taruhannya...


Dapat saya katakan bahwa film ini boleh diapresiasi karena secara tidak langsung mengajarkan kita untuk lebih menghargai pekerjaan, apapun itu jenisnya. Jangan sampai kita memandang sebelah mata terhadap suatu pekerjaan atau profesi apapun, karena boleh jadi apa yang terkesan gagal atau sia-sia tetapi justru mendatangkan manfaat bagi yang lainnya. Sekecil apapun manfaat yang mungkin tidak dirasa secara nyata, tetapi ternyata berguna bahkan membuat orang sekitar merasa bahagia :')


Sebelum diakhiri, salah satu hal yang ingin saya sampaikan sekaligus mengingatkan diri sendiri adalah bahwa sebagai manusia, kita jangan sampai lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang di sekitar kita. Boleh jadi hal kecil seperti ucapan "terima kasih" kita dapat menjadi satu dari sekian banyak hal yang dapat menjadi penyemangat bagi mereka, termasuk para pelaku profesi yang sadar bahwa ada kewajiban yang harus mereka tunaikan, dalam hal ini pemadam kebakaran sebagai contoh diantaranya. Tujuan mereka mulia loh :')
 

Jadi, tertarik untuk menonton?
:)

Tuesday, June 27, 2017

Evaluasi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.

Lupa posting ._.
-
Hari 29
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Penentu dari setiap amal itu ada di penghujungnya…
Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa "Nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya." (HR. Ahmad)

Karena itu, perjuangan besar seharusnya kita lakukan ketika kita berada di penghujung amalan. Termasuk ketika di penghujung Ramadhan ini. Maka istimewakanlah akhir dari Ramadhan ini.

Al Imam Ibnu Al Jauziy rahimahullah berkata, "Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.  Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”

Hasan al Bashri mengatakan, "Perbaiki apa yang tersisa,  agar kesalahan yang telah lalu diampuni. Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.”

Janganlah termasuk bagian dari manusia yang hanya meraih rasa lapar dan haus di bulan yang agung ini.

Jangan termasuk bagian dari orang yang celaka karena tak meraih ampunan-Nya di bulan yang penuh rahmat ini.

Rasulallah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya amalan-amalan itu (standar penilaiannya) pada penghujungnya." (HR. Bukhari)

قال ابن رجب رحمه الله تعالى: يا
عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa  telah mengisinya dengan baik, hendaklah menyempurnakannya. Dan siapa tidak mengisinya dengan baik, hendaklah ia mengakhirinya dengan yang  baik."

قال ابن الجوزي رحمه الله :
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع

(Sekali lagi) Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Jika kuda pacu sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba.
Maka jangan sampai anda kalah cerdas dari kuda, karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.
Jika anda tidak menyambut Ramadhan dengan baik, paling tidak melepasnya dengan baik."

وقال ابن تيمية رحمه الله:
العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Yang menjadi tolak ukur adalah kesempurnaan di akhir amalan, bukan kekurangan di awalnya."

وقال الحسن البصري رحمه الله: أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله...

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah. (Bisa jadi di hari terakhir Ramadhan)

Abu Bakr as-Shiddiq berdoa kepada Allah,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك

"Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu." (HR. Ibnu Abi Syaibah)

#RamadhanKareem

Friday, June 23, 2017

Elegi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim
-
Hari 28
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

mari merenung sejenak,
berikut ini nasyid lama yang rasanya boleh kita maknai tiap liriknya
diingatkan oleh sebuah grup wasap :'
-

tertatih aku mengejar bulan
mengais sisa-sisa Ramadhan
terjatuh, terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
syawal t'lah menjelang
tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
amal ibadah bagi insan beriman

duhai sahabat pilihan Allah
di sini, dipertigapuluh terakhir
kita bertemu dalam renungan
satu jiwa satu hati dan satu iman

-Illahi Rabbi- Kekalkan tali ini
Rekatkan dalam dzikir pada-Mu
biarkan rindu kian bersemayam
karena kasih dan cinta-Mu

duhai sahabat pilihan Allah
di hari ke tujuh ba'da Ramadhan
hati masih sedih ditinggalkan
seluruh jiwa terasa sakit
tiada kawan penghibur
kecuali Allah semata

hanya satu tumpuhan harapan
jumpa Ramadhan dengan izin Tuhan
madrasah perjuangan dan kesabaran
menuju Ar Rayyan yang dijanjikan

SuaraPersaudaraan
(╥﹏╥)
-

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah yang bisa jadi di hari terakhir Ramadhan datangnya…

Mudik

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 27
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

"Baju sudah di packing, oleh-oleh sudah, apa lagi ya?" gumam seorang calon pemudik.
Kawan,
Ketika kita memikirkan apa-apa saja yang akan kita bawa untuk mudik, pastikan ada niat yang tulus dalam daftar tersebut.ㅤ
Ini hal yang tidak boleh ketinggalan dalam mudik kita kali ini. Hal yang merubah biaya dan ongkos, keletihan, kemacetan berjam-jam dan pengorbanan selama mudik menjadi pahala.

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan niatnya tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatkan dalam rangka birrul waalidain, menyenangkan hati orang tua.
Niatkan silaturrahim, menjaga hubungan dengan sanak saudara di kampung halaman.
Dengan demikian, setiap langkah dan setiap kilometer yang kita lewati akan diberkahi oleh Allah. InsyaaAllah.

Dan...
jangan lupa membawa doa-doa terbaik kita.
Diawali dengan doa keluar rumah, doa safar, doa naik kendaraan, lalu iringi perjalanan dan kemacetan dengan permohonan dan harapan yang dipanjatkan.
Dalam suatu hadits disebutkan, "Ada 3 doa yang pasti diijabah tanpa diragukan lagi: doa orangtua, doa musafir (orang yang sedang dalam perjalanan jauh) dan doa orang yang terdzalimi." (HR. Tirmidzi)

Terakhir...
Pastikan tidak ada yang tertinggal selama perjalanan mudik kita, khususnya shalat.
Salah satu yang mengiris hati ini adalah saat wajah itu pucat ketika menyadari kardus bawaannya tertinggal di bus, tapi justru tanpa ekspresi saat shalat subuhnya sengaja ia tinggalkan...

Bagaimana mungkin mudik kita diberkahi jika kita tidak mau sujud dan rukuk kepada Allah?
Bagaimana mungkin mudik kita bernilai amal shalih sedangkan kita tidak menyambut panggilan Allah?
Tidak ada alasan untuk meninggalkannya, semua sudah dimudahkan, mulai dari mengqashar, menjama', serta keringanan-keringan yang lain.

 Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri

-
Semoga siapa saja yang mudik diberikan kelancaran selama perjalan dan juga selamat sampai dengan tempat tujuan. Aamiin.

Epilog...
akan tiba saatnya nanti dimana kita akan mudik bersama,
ke tempat tujuan akhir usai singgah di dunia,
maka jangan lupakan juga perbekalan untuk menghadapinya..
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Thursday, June 22, 2017

Lailatul Qadr

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 26
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Dalam suatu hadits Riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.

Dari Ibn Umar ra: Bahwa ada beberapa orang dari sahabat Nabi saw yang diperlihatkan Lailatul Qadar dalam mimpi mereka pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah saw bersabda:

Aku melihat bahwa mimpi kalian jatuh pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).
Selain itu, disebutkan pula bahwa,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ:

خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ.

Dari Ubadah ibn Al-Shamit, dia berkata: Nabi saw keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang beradu mulut. Maka beliau bersabda:

Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang (waktu terjadinya) Lailatul Qadar namun fulan dan fulan beradu mulut sehingga (kepastian waktunya) diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga saja ini lebih baik untuk kalian, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan).
Mengenai hal ini, Riwayat lain menceritakan bahwa malaikat hendak memberitahu Rasulullah kapan Lailatul qadar, namun ada dua sahabat yang bertengkar, hingga malaikat itu pergi dan waktu Lailatul qadar tidak diketahui. Namun Rasulullah berdoa agar itu menjadi yang terbaik untuk kita, dan memberitahu kita bahwa lailatul qadar ada di malam ke 9, 7 dan 5 terakhir Ramadhan.

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala. Selain itu, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah yang menyebutkan “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhaan:4)

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya yang menyebutkan bahwa “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan."
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a, serta kebajikan lainnya sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan dapat diartikan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Allah Ta'ala juga memberitahukan keutamaan lainnya yang diantaranya berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah.

Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr:5) Maksudnya bahwa malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikitpun ada kejelekan di dalamnya sampai dengan terbit fajar.

Di malam itu, para malaikat, termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan lainnya)

Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Waallahu’alam.

Mari kita Renungkan...

Jika sosok sekaliber Nabi yang akan membuka pintu Surga pertama kali di hari kiamat masih mencari malam tersebut, lalu bagaimana dengan kita?

Jika Kekasih Allah dan seseorang yang telah diampuni seluruh kekhilafannya masih mencari malam lailatul qadr, lalu apakah kita pantas santai-santai saja?

Jika Seorang Nabi terbaik bangun untuk menghidupkan malam-malamnya, lalu kita membaca doa tidur?

Jika Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam- sibuk membaca Alquran, lalu orang seperti kita sibuk nongkrong di luar?

Lalu,
apakah kita justru meremehkan?
:(

Kawan,
Ingatlah bahwa inilah babak final bulan suci

Dan ingatlah,
kekalahan yang paling menyakitkan adalah kekalahan ketika sampai di FINAL...

Lantas,
apa yang setelah ini akan kita lakukan?

Semoga ALLAH senantiasa memberikan taufiq untuk kita semua. Aamiin.

Selamat berjuang!

Wednesday, June 21, 2017

Zakat Fitrah

Bismillahirrahmanirrahim.

自動代替テキストはありません。
-
Hari 25
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Zakat Fitri atau Fitrah merupakan salah satu santapan ruhiyah yang ditunaikan pada bulan Ramadhan. Zakat Fitrah ini merupakan zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya dan hukumnya wajib.

Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

أي الزكاة التي تجب بالفطر من رمضان. وهي واجبة على كل فرد من المسلمين، صغير أو كبير، ذكر أو أنثى، حر أو عبد

Yaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

تجب على الحر المسلم، المالك لمقدار صاع، يزيد عن قوته وقوت عياله، يوما وليلة. وتجب عليه، عن نفسه، وعمن تلزمه نفقته، كزوجته، وأبنائه، وخدمه الذين يتولى أمورهم، ويقوم بالانفاق عليهم.

Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha’ makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

Diantara hikmah yang didapatkan dari menunaikan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

Dari Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليهوسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةًلِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”
(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakanbahwa sanad hadits inihasan)

Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupikesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujudsahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada.  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm.377)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatannya yang sia-sia dan perkataannya tidak baik (keji), serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shala ied, maka terhitung zakat fitrah, sedangkan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu tak lebih dari sedekah biasa.” (Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1420 dan Shahih Ibnu Majah, no. 1480)

Sayyid Sabiq berkata:

والفقراء هم أولى الاصناف بها

Orang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri.  (Fiqhus Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia,  perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan:  hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618)

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok:
  1. Waktu Wajib, yaitu ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.
  2. Waktu Jawaz, yaitu sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
  3. Waktu Fadhilah, yaitu setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.
  4. Waktu makruh, yaitu setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
  5. Waktu haram, yaitu setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram.
Sedangkan dari zakat yang dikeluarkan setelah tanggal 1 Syawwal adalah qodho’.

Jadi,
hari ini sudah semakin mendekati penghujung bulan Ramadhan
maka sudahkan zakat fitrah kita tunaikan?

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Monday, June 19, 2017

Hidupkan Malammu di Penghujung Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 24
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H



Ramadhan ternyata berjalan begitu cepat,
tanpa terasa kita sudah berada di hari keduapuluh empat…

Beberapa waktu lalu sempat diingatkan,
saat ini kita tengah memasuki waktu dimana kita harus merenungkan,
bagaimana hari-hari di bulan Ramadhan yang telah kita lewatkan?

Ramadhan sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita, dan kita tak bisa menahan laju perginya.

Satu yang mungkin bisa kita lakukan ialah dengan memaksimalkan waktu yang tersisa…

Ramadhan masih belum habis, kawan. Mari maksimalkan untuk beribadah serta memohon ampunan. Jangan segan juga untuk bersedekah serta menebar kebaikan.

Jangan sampai diri kita ini 'terperdaya', sehingga malah membuat kita lalai pada penghujung Ramadhan yang tersisa.

Bukankah kita sudah mengetahui sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang menyatakan bahwa amal-amal itu dilihat dari akhir penutupnya?

Bukankah kita sudah mengetahui sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa 'yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan penutupnya, bukan kekurangan yang terjadi di permulaannya'?

Ya,
Sebentar lagi Ramadhan akan meninggalkan kita…

Ibnu Rajab berkata, "Wahai hamba Allah, bulan Ramadhan telah bersiap-siap untuk berangkat." Tidak ada lagi yang tersisa kecuali saat-saat yang singkat.

Barangsiapa yang telah melakukan kebaikan selama ini, hendaklah ia menyempurnakannya. Barangsiapa yang justru malah berbuat sebaliknya, hendaklah ia memperbaikinya dalam waktu yang masih tersisa. Karena ingatlah bahwa amalan itu akan dinilai dari akhirnya.

Manfaatkanlah malam-malam dan hari-hari Ramadhan yang masih tersisa, serta titipkanlah amalan shalih yang dapat memberi kesaksian kepadamu nantinya dihadapan-Nya, Dzat Yang Menguasai Segalanya.

Lepaskanlah kepergian bulan Ramadhan dengan ucapan salam yang terbaik. Salam dari Ar Rahman (Allah) pada setiap zaman atas sebaik-baik bulan yang hendak berlalu. Salam atas bulan dimana puasa dilakukan. Sungguh, ia adalah bulan yang penuh rasa dengan aman dari Ar Rahman.

Apabila hari-hari berlalu tak terasakan. Maka sungguh, kesedihan hati untuk tak pernah hilang.

Ibnu Rajab berkata pula, "Dimana kepedihan (dan kesedihan) orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang hari Ramadhan? Dimanakah duka orang-orang yang shalat pada waktu malam?"

Jika demikian keadaan orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan selama Ramadhan, bagaimanakah keadaan orang-orang yang telah merugi pada siang dan malam di bulan Ramadhan?

Apakah manfaat tangisan mereka yang melalaikan bulan Ramadhan ini, sementara musibah yang akan menimpanya demikian besar?

Betapa banyak nasihat telah diberikan kepada orang yang malang, namun tidak juga memberikan manfaat untuknya.
Betapa banyak ia telah diajak untuk melakukan perbaikan, namun ia tidak juga menyambutnya.
Betapa sering ia menyaksikan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, namun ia sendiri malah semakin jauh dari-Nya.

Alangkah seringnya berlalu di hadapannya, rombongan orang-orang yang menuju kepada-Nya sedangkan dia hanya duduk berpangku tangan seraya malas beribadah.

Hingga setelah waktu menyempit dan kemurkaan-Nya telah membayang, maka iapun menyesali kelalaiannya pada saat penyesalan tidak lagi bermanfaat dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan telah menghilang.

Beliau kembali berkata pula, "Wahai bulan Ramadhan.. berikanlah belas kasihmu, sementara air mata para pencinta mengalir dengan deras."

Hati mereka (gundah) akibat kepedihan perpisahan terbuai.
Semoga detik-detik perpisahan akan memadamkan api kerinduan yang membara.
Semoga saat-saat taubat akan melengkapi kekurangan puasa yang dilakukan.
Semoga pula orang-orang yang telah ketinggalan segera menyusul dan berjalan bersama.
Semoga para tawanan dosa segera dilepaskan, dan semoga orang (Islam) yang telah dinyatakan masuk Neraka segera dibebaskan.

Allahumma aamiin.

Jadi,
Ramadhan masih belum usai kawan…
Oleh karenanya, yuk sama-sama saling mengingatkan dan kita maksimalkan hari-hari di penghujung Ramadhan.

Maka itu,
selagi kita masih mampu
selagi kita masih diberi waktu
jangan biarkan diri ini justru menunda melulu
karena kita kan ngga ada yang tau,
sampai sejauh mana perjalanan kita di dunia yang fana lagi semu
jika menunda kebaikan, iya kalau memang kita masih bisa bertemu hari baru
lah, kalau sebaliknya? mana ada yang tau? :(

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

-
BerbagaiSumber

Sunday, June 18, 2017

Manfaatkan Sisa Waktu yang Kau Miliki

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 23
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rohimahulloh berkata:

"Manfaatkanlah  -semoga Alloh merahmatimu- hidupmu yang berharga ini, dan jagalah waktu-waktumu yang bernilai tinggi.

Ketahuilah bahwa jangka hidupmu terbatas dan napas-napasmu terhitung. Sebab, dengan setiap napas berkurang sebagian darimu.

Umur itu pendek, dan yang tersisa itu sedikit.

Setiap bagian dari umur adalah permata yang sangat berharga, yang tidak ada bandingannya dan tidak ada penggantinya.

Karena dengan kehidupan  yang singkat ini akan didapat keabadian dalam kenikmatan ataukah (keabadian) dalam adzab yang menyakitkan.

Apabila engkau bandingkan kehidupan ini dengan keabadian kelak, engkau akan tahu bahwa setiap hembusan napas sebanding dengan waktu yang lebih panjang dari 1000 x 1000 x 1000 tahun dalam kenikmatan yang tidak terbayangkan ataukah sebaliknya (dalam siksaan yang tak terperikan). Dan sesuatu yang keadaannya seperti ini tentunya tidak ada nilainya sama sekali.

Oleh karena itu, jangan engkau sia-siakan umurmu yang berharga ini tanpa amalan, dan jangan sampai engkau hilangkan tanpa dapat ganti.

Bersungguh-sungguhlah agar tidak kosong satu napas pun dari napas-napasmu kecuali dalam amalan ketaatan atau ibadah yang kamu mendekatkan diri (kepada Allah) dengannya.

Sesungguhnya engkau jika memiliki sebuah permata dari permata-permata dunia tentu apabila hilang akan menyedihkanmu. Lalu bagaimana bisa engkau sia-siakan waktumu !?

Bagaimana pula engkau tidak bersedih atas umurmu yang hilang tanpa dapat gantinya ?!"

📝 Diterjemahkan oleh Abu Zakaria Irham Al Jawiy -Waffaqohulloh-

Bismillah..
Allah memberikan waktu kepada manusia 24 jam. Orang yang hafal Al Qu'ran-pun diberikan waktu 24 jam. Orang yang kaya akan materi juga diberikan waktu 24 jam. Semua manusia, tanpa terkecuali-pun diberikan waktu yang sama yaitu 24 jam.

Pertanyaannya, dipergunakan untuk apa waktu selama 24 jam yang diberikan kepada kita itu?

Apakah untuk hal-hal yang bermanfaat atau justru untuk hal yang sia-sia? :(

Allah telah menciptakan malam agar manusia beristirahat dan siang untuk kembali beraktivitas. Atas Kuasa dan Kebesaran-Nya, semua itu telah DIA atur dengan sempurna. Hanya saja, sekali lagi, bagaimana dengan manusianya? :'

Waktu di dunia cepat sekali berlalu, dan itu semua tidak dapat kembali kita ulangi. Maka apabila diri kita ini salah jalan, yang ada nantinya justru penyesalan.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi)

Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengabdi kepada-Nya. Oleh karenanya, manfaatkanlah sisa waktu yang masih tersedia untuk kita dengan sebaik-baiknya.

"Perbaikilah sisa-sisa harimu, maka Allah akan mengampuni masa lalumu. Manfaatkanlah sebaik-baiknya, karena engkau tidak tahu kapan engkau 'kan berpulang ke rahmatullah..." (Hasan Al Bashri)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Al Hakim)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Letakkan Dunia dalam Genggaman

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 22
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H
♪ Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan. Nikmat yang dikejar baru 'kan terasa, bila hilang. Apa yang diburu, timbul rasa jemu bila sudah di dalam genggaman…

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut,

عن أبى هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: من طلب الدنيا أضر بالآخرة ، ومن طلب الآخرة أضر بالدنيا .فأضروا بالفاني للباقى.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang mengejar dunia maka ia telah merugikan akhiratnya. Dan barangsiapa yang mengejar akhirat maka ia telah merugikan dunianya. Maka tanggunglah kerugian di dunia yang fana demi keuntungan di akhirat yang kekal.' (HR. Ibnu Abi 'Aashim dalam az-Zuhd, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Ash-Shahihah no. 3287)

Apabila diperhatikan lebih lanjut, hadits tersebut mengingatkan kita agar senantiasa menjadikan keselamatan akhirat sebagai keinginan dan cita-cita kita meskipun harus ada lainnya yang kita korbankan, dalam hal ini kaitannya dengan perkara-perkara dunia. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang memilih keselamatan akhirat serta bersungguh-sungguh dalam mengikuti ajaran-Nya juga Rasul-Nya. 

Apabila keselamatan akhirat menjadi pilihan, maka tegarlah di atas jalan kebenaran. Jangan lemah karena celaaan dan jangan mundur karena cobaan (!)

Apabila keridhaan Allah yang dituju, maka jangan pernah bosan untuk menuntut ilmu terlebih dahulu sehingga segala macam ucapan dan amalan kita sesuai dengan adab yang perlu kita tau.

Apabila hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya nafas sebagai bekal awal ketika hendak menjalani hidup ini, semoga hati kitapun senantiasa terjaga untuk tidak meletakkan dunia di dalamnya, melainkan meletakkannya (dunia) dalam genggaman tangan saja.

Meskipun dunia berada dalam genggaman, bukan berarti dunia juga tidak diutamakan. Porsi paling tepat adalah bagaimana kita dapat sama-sama menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan perbekalan menuju akhirat yang sudah harus kita persiapkan.

Meskipun derajat kita begitu tinggi di dunia ini, bukan berarti derajat kita pula yang tertinggi di hadapan Illahi Rabbi. Selama diri ini setia menghamba pada DIA, Dzat Yang Maha Segalanya, maka kitapun harus yakin pula bahwa kita takkan lama berada di dunia karena ke tanahlah kita pada akhirnya.
♪ Tuhan leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku,
kerana di situ tidakku mampu,
mengukur dua cinta
hanya cinta-Mu kuharap tumbuh, dibaja dipangkal dunia yang kuburu...
- The Zikr
(╥﹏╥)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Saturday, June 17, 2017

Kematian Nantinya Akan Mendatangi Kita

Bismillahirrahmanirrahim.

 
-
Hari 21
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Tak satu pun orang bisa menjamin dirinya
Selamat di saat ajal memanggilnya
Setitik kesalahan semua akan diperhitungkan
Semisal buih dosa telah kita kerjakan
Kehidupan dan kematian merupakan ujian untuk selalu memberikan yang terbaik kepada Allah. Hidup di dunia bukan merupakan kenikmatan hakiki, karena kenikmatan yang sesungguhnya itu setelah kematian.

"Dialah yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian yang paling baik amalnya." (QS. Al Mulk : 2)

Lantas, kita ingin mati seperti apa?
bekal apa saja yang nantinya akan kita bawa?

Kawan, kematian adalah sebuah keniscayaan. Tiap makhluk yang bernyawa pasti akan menjumpainya. Tak ada seorangpun yang mengetahui kapan kematian akan mendatanginya. Tak ada seorangpun juga yang dapat lari daripadanya.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al Anbiya : 35)

Setiap mata hati tangan kaki akan jadi saksi
Tiada dusta diri yang tak terhakimi
Duka sepi air mata tak berarti lagi
Akan terlambat segala sesal di waktu nanti
Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang justru melupakannya. Kematian yang sebenarnya nyata adanya justru dilupakan begitu saja. Bahkan tak sedikit pula diantara manusia yang terlena oleh kenikmatan dunia yang fana. Astaghfirullah :'

Datangnya kematian hanya diketahui oleh DIA, Dzat Yang Maha Pencipta. Datangnya kematian tidak mempedulikan siap atau tidaknya manusia. Oleh karenanya, kira-kira datangnya kematian nantinya akan kita beri sambutan seperti apa?

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Datangnya kematian tidak menunggu sehingga kamu akan menjadi lebih baik. Jadilah kamu orang baik dan tunggulah kematian"

Dalam suatu sumber dikatakan bahwa Hasan Al Basri pernah mengatakan bahwa, "Aku tahu kematian itu sudah menungguku. Karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah."

Pada kesempatan ini ingin mengingatkan, khususnya bagi diri ini yang dipenuhi oleh dosa dan kesalahan. Janganlah diri kita takut akan datangnya kematian. Tetapi jadikan kematian sebagai motivasi bagi diri untuk senantiasa berbuat kebaikan. Karena kehidupan yang kita rasakan saat ini merupakan suatu hal yang dirindukan. Dirindukan oleh mereka yang terlebih dahulu menjumpai kematian dengan penyesalan :(

Allah mohon jangan hukum kami dari dosa
Ampuni kami karena tak mungkin kami sanggup menahan pedih
Setitik Rahmat yang Kau beri lebih berarti dari segalanya
Setitik ampunanMu 'kan menghapus dosa kami
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Friday, June 16, 2017

Al Qur'an Kelak Akan Menjadi Penyelamat Kita

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 20
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Lupa itu hanya alasan belaka, tapi kalau ngga ingat yaaa namanya juga manusia 
-
Lembaran Al-Qur'an masih bertumpuk, lebih bertumpuk lagi dosa-dosa yang ada, namun Ramadhan bersisa lagi dan perlahan pergi
Rindu jauh dari kata terpuaskan, jumpa belum lama, namun perpisahan sudah di depan mata, entah kapan lagi berjumpa
Saat dia datang kita menganggapnya masih lama pergi, di pertengahannya kita melalaikan, di akhirnya tersisa penyesalan
...
(Felix Siauw)
-
Marhaban ya Ramadhan, bulan yang penuh barakah dan waktu yang mulia untuk melakukan kebaikan, ibadah dan ketaatan. Orang mukmin yang benar dengan keimanannya, semua bulan baginya adalah waktu untuk beribadah, dan seluruh umurnya adalah waktu melakukan ketaatan. 

Pada bulan Ramadhan semangatnya berlipat ganda untuk melakukan kebaikan dan lebih bersemangat untuk melakukan ibadah, dan dia menghadap (sepenuh hati) kepada Rabb-Nya. Maka segerakan menunaikan amal-amal shalih di bulan yang agung ini dan mengisinya dengan apa yang Allah ridhai dan mendatangkan kebahagiaan saat bertemu dengan-Nya. 

Hendaknya seorang hamba meluruskan akhlaknya di bulan ramadhan agar meraih derajat keimanan yang tinggi dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala yang direalisasikan dengan ibadah yang terbaik. Paling tidak ada beberapa perkara yang harus diseriusi orang-orang beriman didalam menjalankan ibadah puasa untuk memperoleh mahkota takwa, satu diantaranya adalah Tilawah Al-Qur’an.

Dengan membaca, mengkaji, dan mengamalkan Al-Qur’an maka akan menumbuhkan akhlak yang mulia. Ibnu Abbas r.a berkata:

‏ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺟْﻮَﺩَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺟْﻮَﺩُ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﻠْﻘَﺎﻩُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻠْﻘَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﻴُﺪَﺍﺭِﺳُﻪُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ، ﻓَﻠَﺮَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺟْﻮَﺩُ ﺑِﺎﻟﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ ﺍﻟﻤُﺮْﺳَﻠَﺔِ ‏ 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril, dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan kemudian mengajarkannya Al-Qur’an. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia menjadi manusia yang paling pemurah dengan kebaikan seperti angina yang berhembus” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Shahih Bukhari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Sudah tidak diragukan lagi, bahwasannya bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur'an. Dalam bulan ini banyak kaum muslimin atau muslimah yang giat dan rajin membaca Al Qur'an bahkan sampai menghatamkannya. Satu hal yang tidak kalah pentingnya, coba kita tanya kepada diri kita, apa tujuan kita membaca Al Qur'an?

Tujuan membaca Al Qur'an bisa terangkum dalam beberapa point betikut ini, diantaranya:
  • Mendapatkan pahala
  • Berinteraksi dengan Allah Ta'ala
  • Ingin mendapatkan kesembuhan
  • Ingin mendapatkan ilmu dari ayat yang kita baca
  • Ingin mengamalkan isi Al Qur'an
(Mafàtìhu tadabburil Quràn wa Najàhi fil hayàti, halaman 26, karya Dr. Kholid bin Abdul Karìm al Laahim)

-
Kawan, membaca Al Qur'an ayat demi ayat untuk mendapat pahala merupakan sesuatu yang dianjurkan. Namun, jangan sampai aqidah, ibadah, muamalah sikap dan akhlak kita jauh dari makna atau tuntunan ayat yang kita baca.

Hendaknya kita ingat bahwa Al Qur'an bisa jadi pembela kita di hari kiamat sebagaimana Al Qur'an bisa jadi bumerang bagi kita.

Jadi, seberapa banyak ayat dari surat cinta-Nya yang kita baca dan kita amalkan sampai dengan hari ini? #ntms

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Thursday, June 15, 2017

Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 19
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang orang yang tawadhu'karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)

Harta kita tidak akan berkurang lantaran bebuat sedekah. Apabila dianggap berkurang dari sisi nominal, maka sungguh harta tersebut bertambah dari sisi lain, seperti menjadi berkah, terhindar dari petaka dan bencana, terbebas dari berbagai keburukan, bahkan menjadi bertambahnya harta yang di infakkan tersebut, serta membukakan pintu rizki bagi pemiliknya.

Apakah sebanding berkurangnya harta tersebut bila disejajarkan aneka keberkahan dan selamat dari berbagai macam keburukan?

Sedekah yang dilakukan benar-benar karena mencari karunia Allah dan sesuai porsinya tidak akan mengurangi harta, hal ini sesuai apa yang dinyatakan Nabi صلى الله عليه وسلم, demikian pula kita saksikan banyak kejadian yang menjadi bukti.

Maka bersedekahlah, terlebih pada bulan yang mulia ini.

Ibnu Abbas -radhiallahu 'anhuma- mengatakan, "Dahulu Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Bulan Ramadhan... sungguh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika itu lebih dermawan dengan hartanya melebihi angin yang berhembus lepas." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedekah itu tidak hanya dilakukan dengan materi ataupun harta, karena memberi makanan atau minuman kepada orang yang berpuasa untuk mereka berbuka juga menjadi salah satu cara sedekah yang bisa kita lakukan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits yang artinya, "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka baginya pahala orang yang puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun." (HR. At Tirmidzi)

"Dan suntiklah semangat sedekah Anda di bulan ini dengan mengingat bahwa nanti di hari kiamat, setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya." (HR. Ahmad)

Satu hal lainnya yang perlu diingat adalah, jangan sekali-kali diri kita justru menunjukkan dengan bangga bahwa kita telah bersedekah sebanyak sekian dan sekian. Karena perlu diingat bahwa diantara tujuh golongan yang mendapat naungan istimewa dari Allah Ta'ala adalah "...Orang yang melakukan sedekah, lalu dia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Wednesday, June 14, 2017

Sebuah Buku: "Di Atas Titian Jahannam"

Bismillahirrahmanirrahim.

#Resensi bulan Juni

Image result for di atas titian jahannam

Judul Asli : Kaita Tanjû min Kirabish Shirâth 
Judul Terjemahan : Di Atas Titian Jahannam
 Penulis : Dr. Muhammad bin Ibrahim An Nuaim
 Penerbit : AQWAM 
ISBN : 978-979-3653-40-2
 Cetakan ke- : IV
 Tahun Terbit : 2012
 Tebal : 216 Halaman 
Resensor : L. Yuniasari

***
Degup jantung kencang berdetak, berpacu dengan perasaan gelisah nan mencekam. Sejurus, lolongan pilu terjerit dari mereka yang terjerembab kobaran api berjolak dari bawah. Laungan silu menyayat dari mereka yang terkoyak jejaring runcing di kiri-kanannya. Desir goncang hati melingkupi mereka yang tertatih-tatih dan hampir terpeleset. Namun, ada juga kilatan haru bahagia karena selamat melewati titian tersebut.
Buku ini mengingatkan kita agar tidak salah tujuan ketika hidup di dunia. Buku ini juga mengingatkan bahwa boleh jadi kita ini adalah satu dari sekin penghuni neraka, sekalipun mungkin lamanya disana yang akan berbeba. Innalillah...
Itulah shirath. Sebuah titian licin sekaligus tajam di atas neraka Jahannam, yang ujungnya adalah surga. Titian yang menentukan nasib akhir seseorang ke surga, ataukah ke neraka. Saat itu, hanya amal yang mampu menyelamatkan kita. Lalu, amal apa saja yang telah kita persiapkan agar selamat menghadapi ujian besar ini?
Membahas shirath berarti mengurai sebuah peristiwa dahsyat yang menakutkan. Namun, merasa takut dan waspada -agar kelak meraih surga di ujung titian- menjadi lebih baik daripada terlena di dunia hingga nantinya justru terjerembab ke dalam neraka. Na'udzubillah.

Begitu mengerikannya kondisi di titian sekaligus penyaring akhir untuk menentukan siapa saja yang termasuk dalam golongan penghuni surga, bahkan ada diantaranya yang tercabik serta terkoyak tubuhnya hingga kemudian terhempas dari titian ini ke dalam neraka. Lantas, posisi kita dimana?

Buku ini terdiri dari empat bab yang secara berurutan membahas mengenai Pengertian Shirath dan Ujiannya termasuk di dalamnya menggambarkan bagaimana keadaan manusia di atas shirath sampai dengan bentuk jatuhnya manusia dari shirath, Ujian di atas Shirath mulai dari jilatan api neraka dan azab serta amal perbuatan yang dapat menyelamatkan dari api neraka termasuk amalan-amalan alternatif, berikutnya Ujian Gelapnya Shirath yang menggambarkan kegelapan hakiki di atasnya serta amal perbuatan yang dapat memberikan cahaya di atasnya, serta Dosa-Dosa yang Menjerumuskan ke Neraka mulai dari segala perbuatan yang kita ketahui betul bahwa itu merupakan perbuatan dosa sampai dengan hal-hal kecil yang mungkin kita remehkan.

Ketika membaca buku ini, kita seolah digambarkan bagaimana situasi dan kondisi yang mungkin nantinya akan kita alami.

Secara keseluruhan dapat saya katakan bahwa buku yang terkesan menakutkan ini menjadi salah satu jenis 'santapan' yang sebenarnya perlu kita baca agar kita ingat bahwa diri kita ini butuh persiapan dan perbekalan untuk menghadapi datangnya hari kemudian.

Semoga diri kita ini termasuk dalam golongan hamba yang memang pantas ditempatkan di surga-Nya, Aamiin :'

I'tikaf

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 18
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Secara Bahasa (Lughah), I'tikaf merupakan Al Mulaazim yang artinya  berdiam, membiasakan, menetapi (Lihat Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/244. Mawqi’ Ruh Al Islam) 

يقال عكف على الشيء : إذا لازمه 

Dikatakan, ‘akafa ‘ala Asy Syai’  (Dia menetap di atas sesuatu), artinya dia selalu bersamanya. (Ibid)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

الاعتكاف لزوم الشئ وحبس النفس عليه، خيرا كان أم شرا 

I’tikaf adalah menetapi sesuatu dan menutup  diri, dalam hal baik atau buruk . (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Sedangkan secara Istilah (Syara’),

والاعتكاف في الشرع : ملازمة طاعة مخصوصة على شرط مخصوص 

Secara syara’: menetap dalam rangka taat secara khusus dengan syarat khusus pula. (Fathl Qadir, 1/245) 

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: 

والمقصود به هنا لزوم المسجد والاقامة فيه بنية التقرب إلى الله عزوجل. 

Yang dimaksud I’tikaf di sini adalah menetapi masjid dan menegakkan shalat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Perihal mengenai i'tikaf disebutkan dalam Al Qur'an dan Al Hadits,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ 

Janganlah kalian mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843,  Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijma’ tentang syariat I’tikaf:

وقد أجمع العلماء على أنه مشروع، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما. 

Ulama telah ijma’ bahwa I’tikaf adalah disyariatkan, Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Pada dasarnya memang tidak ada riwayat shahih berkaitan dengan keutamaan i'tikaf secara khusus. Akan tetapi, adanya riwayat bahwa Nabi, Istrinya dan para sahabat senantiasa melakukan i'tikaf setiap bulan Ramadhan secara tidak langsung menunjukkan keutamaan i'tikaf. Karena rasanya tidak mungkin mereka merutinkan amalan yang dianggap "biasa saja".

Apabila teringat diri yang malas beribadah, tapi mengharap lebih di bulan berkah, ingatlah doa Malaikat Jibril yang mustajabah, dan diaminkan oleh Rasul yang mulia,

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi sampai Ramadhan berakhir, ia belum juga diampuni.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahih Al-Adabil Mufrod: 501]

Terutama di bagian akhir yang tersisa, sepuluh malam yang paling indah, ada malam yang penuh berkah, raihlah dengan sholat malam berjama’ah,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa sholat malam ketika lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Muttafaqun 'alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Sang panutan pun memberikan teladan, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang; telah dianugerahi ampunan, dari Allah yang Maha Penyayang,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” [Muttafaqun 'alaih dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Inilah petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di sepuluh hari yang tersisa, beliau beri’tikaf agar lebih fokus dan lebih giat dalam beribadah kepada Allah ta’ala, memutuskan diri dengan aktifitas dunia, dan mengurangi interaksi dengan manusia,

“Makna i’tikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (beribadah secara totalitas) kepada Al-Khaliq.” [Lathooiful Ma’aarif: 191]

Disadari ataupun tidak, hal ini terlihat agak nerbeda dengan apa yang secara tidak langsung telah menjadi tradisi kita menjelang hari raya.

Nah, oleh karenanya, selagi kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya bulan yang mulia, maka alangkah baiknya kita-pun bersiap untuk melaksanakannya.

Satu catatan yang ingin ditekankan adalah bahwa,
I'tikaf ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada-Nya, terlebih di bulan yang mulia.

I'tikaf bukan justru menjadi momen untuk ngobrol ngalor ngidul, apalagi cuma numpang tidur :(
#ntms

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya

Monday, June 12, 2017

Shalat Tarawih

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 17
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H
Selamat malam, bagaimana kabar Ramadhannya?
Pada kesempatan kali ini, rasanya ingin membahas sedikit seputar shalat malam spesial yang hanya ada di bulan Ramadhan 
Dalam suatu sumber disebutkan,

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Manfaatkan baik-baik bulan Ramadhan, takut tahun yang akan datang kita meninggal dunia tidak mendapati lagi Ramadhan. Maka rajinlah solat Tarawih, pergilah ke masjid dengan penuh adab, perbanyakan selawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم dan perbanyakan baca Al-Qur'an." [Sayyidil Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Shahab]
-

Shalat Tarawih adalah,

قيام الليل جماعة في رمضان

“Qiyaamullail (shalat malam) secara berjama’ah di bulan Ramadhan." [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 14/210]

Adapun dilakukan secara berjama’ah di masjid maka itu lebih afdhal, dan boleh dikerjakan di rumah namun kurang pahalanya, kecuali bagi wanita lebih afdhal di rumah.... (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 7/199 no. 6914).

Shalat tarawih termasuk ibadah sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan), berdasarkan kesepakatan (ijma’) ulama, tidak ada perbedaan pendapat. (Lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 6/286 dan Al-Mughni, 2/601, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 316)

Akan tetapi, sekalipun merupakan ibadah sunnah, keutamaan di balik shalat tarawih sangat besar,
Diantaranya tersebut dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang artinya,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Dalam suatu sumber disebutkan bahwa keutamaan shalat tarawih hanya akan didapatkan dengan memenuhi empat syarat, dua syarat terdapat dalam hadits yang mulia ini dan dua syarat terdapat dalam hadits yang lain:
  1. Berdasarkan iman, yaitu iman kepada Allah dan semua yang Allah wajibkan untuk diimani, termasuk mengimani bahwa sholat tarawih termasuk sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
  2. Mengharapkan pahala, yaitu hanya mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, inilah hakikat keikhlasan.
  3. Meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam melakukannya. Berdasarkan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits yang lain,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

    “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
  4. Menjauhi dan taubat dari dosa besar, karena ini syarat mendapatkan ampunan dengan sebab amalan shalih.
-
Jadi, seberapa banyak jum'ah shaf dalam shalat tarawih di sekitar kalian? :)
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.