Sunday, December 10, 2017

Sebuah Buku: "Hanya Sebutir Debu"

Bismillahirrahmanirrahim.
#ResensiDesember



Judul: Hanya Sebutir Debu
Penulis: Sandi Firly
Penerbit: Quanta
ISBN: 978-602-02-3762-6
Cetakan ke-: 1
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 183 halaman
Resensor: L. Yuniasari

"Ini memang bukan perjalanan panjang -tetapi adalah perjalanan pertamanya meninggalkan kota yang terkenal dengan para aulianya di Kalimantan Selatan dan bergelar Serambi Mekah itu."

Novel ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Rozan yang memulai perjalanannya ke sebuah kota bernama Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin. Perjalanan tersebut dilakukan atas permintaan dari ayahnya - yang merupakan seorang guru - yang selalu berpesan agar ia melakukan perjalanan ke berbagai tempat, sebelum nantinya ia menyesal.

Diceritakan bahwa kota Rantau merupakan kota yang sehari-harinya dipenuhi oleh aktivitas pertambangan. Hal tersebut yang hingga pada akhirnya membuat Rozan bertemu dengan berbagai pahit-manis kehidupan yang secara perlahan juga menyingkap satu per satu rahasia tentang dirinya. Di Kota ini, Rozan bertemu dengan Guru Zaman -orang yang harus ditemui olehnya atas permintaan ayahnya-, kemudian Pak Sawang dan Udin Tungkih, preman-preman lain, serta berbagai tokoh yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu (^^;)

Salah satu yang dapat dijadikan pelajaran dari novel ini adalah kenyataan bahwa kita memang harus tetap husnudzan sama DIA, karena atas Kuasa-Nya itulah yang nantinya juga menunjukkan hal-hal yang boleh jadi ingin kita ketahui kebenarannya. Selain itu, kita juga perlu bersyukur atas hadirnya mereka, orang-orang, siapapun itu yang telah hadir di kehidupan kita.

“Namun suatu saat ia juga akan tahu bahwa hanya ada dua kalimat yang indah, bahkan lebih indah dari puisi, yang diharapkan seorang perempuan. Pertama pinangan, dan kedua saat sang calon suami mengucapkan ijab Kabul di hadapan penghulu.” – Hal. 52

Selebihnya, silakan baca sendiri aja ya :p
“Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana…
Daaaan… aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin…”

Friday, December 8, 2017

Pengalihan

"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang dialihkan. Mohon tunggu sebentar."

-

Bismillahirrahmanirrahim.

Pernah mendapati jawaban seperti itu ketika bermaksud menghubungi seseorang? Lantas, apa yang terpikir ketika mendengar jawaban itu?
"Wah, dialihkan. Berarti pemilik nomor tujuan sedang ada kesibukan lain." | "Mungkin ada hal yang sedang tidak bisa ditinggalkan oleh pemilik nomor." | "....."

Ahh, itu tadi sekedar ilustrasi sekaligus kalimat pembuka.

Setiap orang, siapa saja tanpa terkecuali tentu memiliki skala prioritas yang berbeda. Bagi saya sendiri, salah satu yang dapat dijadikan sebagai titik tolak, tolak ukur atau acuan dalam menentukan skala prioritas adalah dengan melihat mana-mana saja yang lebih mendatangkan manfaat dan lebih minim mudharatnya.

Menuntut ilmu itu menjadi suatu kewajiban bagi Muslimin dan Muslimah, tanpa terkecuali. Dalam hal ini khususnya adalah mengenai ilmu Agama.

Lantas, bagaimana ketika kita dihadapkan dengan satu-dua-tiga aktivitas yang kesemuanya itu mengarah pada kebaikan, maksudnya insyaaAllah ada kebermanfaatan yang nantinya bisa kita dapatkan? Mana dari sekian pilihan yang ada tersebut yang pada akhirnya kita putuskan?

Untuk menjawab ini, saya menilai bahwa itu kembali pada sejauh mana kebermanfaatan yang akan kita dapatkan. Latar belakang jawaban tersebut adalah beberapa diskusi yang sebelumnya telah saya lakukan dengan beberapa orang yang juga merupakan orang berilmu, bukan orang yang berbicara tanpa ilmu dan tanpa landasan pada saat diskusi yang dilakukan.

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang memang tidak pernah puas akan sesuatu, bisa apapun itu. Hal ini juga dijelaskan berdasarkan ilmu, bukan semata-mata tuduhan yang mengada-ada.

Dalam kehidupan ini, selain ilmu Agama, kita juga sebisa mungkin menyeimbangkan antara ilmu Agama dengan ilmu dunia. Zaman sudah berkembang, maka sebagai seorang Muslim, kita juga harus menunjukkan bahwa Agama yang menjadi identitas kita-pun mengikuti perkembangan zaman. Oleh karenanya, sekali lagi, sebagai seorang Muslim-pun perlu menguasai berbagai macam bidang keilmuan, termasuk ilmu-ilmu dunia tanpa melanggar segala macam yang menjadi ketentuan dalam Agama kita.

Kembali lagi pada fitrahnya manusia yang tidak pernah merasa puas. Alangkah baiknya bagi kita untuk mengarahkan apa yang menjadi fitrah kita sebagai manusia ini dalam hal pencarian ilmu. Hauslah terus akan ilmu. Kalau dalam sebuah acara yang pekan lalu sempat saya ikuti, salah satu pembicara mengatakan "Ketika kita mendatangi suatu majelis ilmu, maka datanglah layaknya sebuah gelas kosong. Singkirkan sejenak 'isian' yang telah ada sebelumnya. Untuk apa? Hal tersebut dimaksudkan agar kita dapat menerima apa-apa saja yang disampaikan. Jadi, bukan hanya sekedar 'numpang lewat' kemudian dalam perjalanan pulang begitu saja terlupakan..." *Istighfar

Selanjutnya, untuk menjawab pertanyaan yang sempat dituliskan di awal postingan ini, saya menilai bahwa apabila kita dihadapkan dengan beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan, maka menjadi tugas kita untuk melihat sejauh mana kebermanfaatan yang bisa kita dapatkan. Mana yang lebih mendatangkan manfaat, kemudian mana yang justru lebih mendatangkan mudharat atau ke-tidak-manfaatan. Manfaat ataupun mudharat yang dimaksudkan tidak sebatas dalam hal kaitannya dengan dunia, -pun juga dengan 'kehidupan setelah di dunia'.

Setiap orang tentu mempunyai cara uniknya masing-masing dalam menyikapi suatu persoalan yang dihadapi. Untuk itu, perlu adanya pertimbangan yang mungkin tidak sekali-duakali dilakukan hingga akhirnya kita membuat suatu keputusan. Disadari ataupun tidak, seperti itu yang telah diri ini lakukan.

Ada beberapa hal yang terlintas di pikiran, tidak begitu saja dengan mudahnya tersampaikan. Akan tetapi, pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan bahwa jangan biarkan kita menilai sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Cobalah 'tengok' sudut pandang lainnya. Karena boleh jadi, ada kebaikan yang juga bisa kita dapatkan dari sudut pandang yang sebelumnya dinilai berseberangan. Hei, bukan tugas kita untuk menjadi tukang judge yang dengan sembarang memberi penilaian. Setidaknya itu sentilan halus yang sebelumnya saya dapatkan.

Terkait satu bahasan, barangkali ada satu-dua orang yang menilai bahwa diri ini 'sakit'. Sakit karena dalam artian yang "tidak seperti mereka". Akan tetapi, sekali lagi diri yang masih faqir ilmu ini belajar bahwa hidup di dunia ini bukan hanya untuk dipusingkan dengan pandangan yang hanya dari satu sisi saja. Sebisa mungkin diri ini perlu untuk bersikap terbuka, menerima segala macam pendapat dan pandangan yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, daripadanya diri ini bisa mendapatkan hal-hal baru lainnya yang mungkin sebelumnya ngga kepikiran. Kemudian terhadap hal-hal yang ternyata memang berseberangan dengan apa yang diajarkan dan diperintahkan, maka yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan. Bijaksanalah dalam meninggalkan. Tidak begitu mudah memang, tetapi sederhana bukan? Pada intinya prinsip dalam diri memang diperlukan.

Hidup ini adalah pilihan. Bijaksanalah dalam memaksimalkan pilihan yang kita tentukan. Apabila yang dilakukan memang mengarah pada kebaikan, maka mengapa harus ragu untuk mengambil tindakan? 😏 *emot ngocol

Perlu diingat juga bahwa dari setiap pilihan yang kita tentukan, ada konsekuensi yang nantinya kita dapatkan. Namun, jangan biarkan resiko yang dihadapi kemudian justru membuat kita enggan dalam menentukan suatu pilihan. Karena seburuk-buruknya yang dilakukan adalah justru ketika memilih untuk menjadi 'penonton' di pinggir lapangan, padahal ada kesempatan, ada pilihan, dan ada peluang yang bisa kita manfaatkan... *sambil menatap ke depan kaca, kemudian berkaca tanpa berkaca-kaca

Alhamdulillah 'ala kulli haal.
Akhiru kalam, maafkan atas segala macam kekhilafan yang diri ini lakukan.
Mohon maaf lahir dan bathin.


Refleksi Jum'at pagi,
L.Y

Monday, December 4, 2017

Tentang Rasa: Serangkai Surat Untuk"mu", Sahabatku...

Bismillahirrahmanirrahim.

Sapaan itu bisa hadir dari mana saja, melalui siapa saja.

Kali ini, perkenankan diri untuk sekedar membagi rangkaian kalimat, tepatnya sebuah 'surat' karya Ahmad Rifa'i Rif'an yang secara tidak sengaja terbaca kembali. Ups, maaf, seseorang berkata bahwa tidak ada suatu kebetulan. Oleh karenanya, ketidak-sengajaan yang terjadi, barangkali sekaligus sebagai pengingat (kembali) khususnya bagi diri ini. Bagi diri yang boleh jadi telah "salah dalam menempatkan-Nya", baik untuk sekali, duakali, atau bahkan berkali-kali...

Benar. Ini adalah tentang 'rasa'. Suatu bahasan yang tidak akan ada habisnya. Suatu kata yang apabila salah mengendalikannya ketika itu menghampiri kehidupan kita, maka justru dapat merusak segalanya...


Berhentilah bertanya
bagaimana menemukan pasangan yang baik.
Mulailah menjadi orang yang baik
dan terus lebih baik,
maka akan terjawab sendiri pertanyaan ini.
-
Akan selalu ada laki-laki yang baik-baik
untuk wanita yang terus berusaha memperbaiki dirinya.
Juga, akan selalu ada, wanita yang baik-baik
untuk laki-laki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya.
– Tere Liye –


***

Assalamu'alaikum.


Untuk Sahabatku dan -mu,

K-A-M-U dan A-K-U

Dari Sahabatmu dan -ku,
A-K-U dan K-A-M-U

...Sebelumnya aku mohon maaf jika tulisan ini datang secara tiba-tiba kepadamu. Namun percayalah, bahwa hal ini sudah dalam skenario Allah. Karena tak ada satu pun peristiwa di dunia ini yang lepas dari campur tangan-Nya.
Anggaplah yang tersampaikan dari buku ini sebagai suratku untukmu. Anggaplah akulah yang menulis surat ini dengan keseriusan dan kesungguhan. Karena apa yang ingin kuungkapkan padamu, sungguh telah terwakili oleh rangkaian kalimat dalam buku ini.
Aku berpikir cukup panjang sebelum aku memutuskan untuk memberimu tulisan yang mungkin mengejutkan ini. Aku mempertimbangkan segala konsekuensi yang akan aku terima setelah aku melepas surat ini padamu. Aku pikirkan semua resiko atas apa yang akan terjadi setelah engkau membaca surat dariku ini.
Sahabatku, percayalah bahwa hingga hari ini, sebenarnya aku masih ingin bersamamu. Belum ada cinta lain yang menggantikan posisimu di hatiku. Namun yang membuatku ingin mengakhiri ini bukanlah karena rasa cintaku yang mulai luntur padamu. Tapi karena aku sadar, ekspresi cintaku padamu sangat tak tepat jika melalui hubungan yang tak diridhai-Nya.
Aku tertampar ketika membaca nasehat yang mulia dari Imam Syafi'i, "Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Karena jika Tuhan saja ia durhakai, apalagi dirimu." Maka aku merenung, jangan-jangan selama ini kita menjadi salah satu pendurhaka Allah, yang mudah meremehkan kemaksiatan.
Kita tahu bahwa hubungan spesial antara seorang lelaki dengan perempuan bukan mahram sebelum adanya tali pernikahan seringkali mendekatkan pada dosa. Kita tahu itu, tapi kita mengabaikannya hanya dengan dalih bahwa kita masih muda, punya banyak kesempatan memperbaiki diri.
Padahal kita juga tahu bahwa datangnya malaikat Izrail tak ada yang bisa menebak. Kita tahu bahwa datangnya kematian tak menunggu taubat kita. Wafatnya kita tak terkait dengan muda atau tua. Usia kita bisa berakhir kapan saja.
Maka betapa bodohnya jiwa yang sudah tahu bahwa dia bisa mati kapan saja, tetapi masih dengan santainya menunda taubatnya. Betapa bodohnya hati yang sudah sadar bahwa dia bisa memasuki alam Barzah kapan saja, tetapi masih dengan tenangnya menikmati beragam aktivitas dosa.
Kita berdalih di balik kata 'cinta'. Padahal cinta terbaik adalah ketika kau mencintai seorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa, taqwamu bertumbuh, cintamu pada-Nya juga bertumbuh. Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seorang yang membuat akhlaqmu makin indah, jiwamu makin damai, hatimu makin bijak.
Lantas bagaimana dengan perasaan yang ada di hati kita? Aku sangat khawatir jika yang kita rasakan selama ini cenderung kepada hawa nafsu, bukan cinta. Karena jika itu cinta yang suci, maka mustahil kita akan berani melanggar aturan-Nya.
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka jangan sekali-kali ia berduaan dengan wanita yang tidak ada bersama dia mahramnya. Karena kalau mereka berdua saja, maka syaithan yang menggenapkan mereka bertiga." [HR. Ahmad]
Tolong bantu aku memperbaiki diriku. Aku percaya bahwa ketika kita bersungguh-sungguh dalam upaya perbaikan diri, maka Allah pun akan mengaruniai nikmat agung yang akan kita jumpa di masa depan kita.
Bukankah ketika kita mencinta seseorang, sebenarnya kita ingin membahagiakan orang yang kita cintai? Maka aku sangat ingin dirimu bahagia. Bukan hanya bahagia dunia, tapi juga bahagia di akhirat nanti. Aku pun berharap engkau memiliki harapan yang sama, yakni ingin agar dunia dan akhiratku juga bahagia.
Saat hubungan tak halal ini kita pertahankan, aku khawatir jika murka Allah senantiasa bertambah. Karena sebenarnya ribuan nasehat kebaikan tak henti mengguyur kita. Tetapi kita abai terhadapnya. Kita lebih mementingkan hawa nafsu kita.
Saat berjumpa dengan jodoh nanti, aku tentu saja berharap jika jodohku adalah yang terbaik. Tetapi aku pun berpikir, apakah mungkin aku akan dikaruniai jodoh terbaik jika diriku tidak kunjung memperbaiki diri? Apakah pantas orang sepertiku diberi hadiah istimewa, sementara diri ini masih banyak kekurangan dan dosa?
Maka ketika bermimpi tinggi, tak ada langkah yang lebih bijak kecuali juga dengan upaya yang lebih tinggi pula. Aku tahu bahwa berpisah denganmu adalah hal yang berat bagiku. Tetapi jika aku tak berani mengambil keputusan berat ini, bagaimana aku bisa meraih yang kuimpikan?...
***

Ada rindu yang alangkah baiknya untuk tidak disampaikan. Rindu yang menjadi baik ketika tidak secara langsung disampaikan, tidak secara langsung diutarakan.

"Merelakan bukan akhir dari segalanya, tapi sikap mulia yang dapat membuka babak baru dalam hidup kita..." [Arif Rahman Lubis]


Satu lainnya yang tidak boleh terlupa dari rindu itu adalah dengan merelakan. Rela agar masing-masing diri dapat secara maksimal melakukan pembenahan, perbaikan. Bukankah salah satu pinta kita adalah dipertemukan dengan dia yang dapat terus menuntun dalam kebaikan, dalam kebenaran? Maka, jadikanlah saat-saat bersama-Nya, saat kita berharap dan mendo'a pada-Nya sebagai sebaik-baik pelampiasan akan kerinduan...


Mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian di antara kabut pagi di sebuah padang rumput yang megah dan indah. Dan meski tidak tersampaikan, tidak terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta. Semoga besok lusa bisa menari bersama dalam ikatan yang direstui agama, dicatat oleh negara. [Tere Liye]



Melangitkan doa untuk cinta adalah

sebaik-baik mencintai dengan cara yang baik.
Aku mencintaimu dalam diamku. Meski diam,
bukan berarti aku tidak memperjuangkan.
[Dari sebuah buku]



---

Tuesday, November 14, 2017

Kasus Perdata Menjadi Pidana?


Kasus perdata dan pidana adalah dua kasus yang berbeda. Meski demikian, akhir-akhir ini tidak sedikit sebuah kasus perdata yang kemudian dibuat bias penafsiran dan batas-batasnya sehingga seolah-olah membuatnya menjadi kasus pidana. Dengan dua ruang yang jelas berbeda, mungkinkah sebuah kasus perdata menjadi kasus pidana?

Pada prinsipnya, kasus perdata tidak akan bisa menjadi sebuah kasus pidana. Apabila ada sebuah kasus perdata yang kemudian ditindaklanjuti di lembaga peradilan sebagai delik pidana, hal ini bukan berarti kedudukan kasus tersebut berganti. Alih-alih demikian, hal tersebut dapat terjadi karena pada dasarnya ada unsur tindak pidana yang terjadi di dalam kasus perdata yang tengah berlangsung.

Sebagai contoh, mari kita ambil sebuah perkara utang piutang alias pinjam-meminjam. Misal, A meminjam uang kepada B sebesar Rp 4.000.000,00. Kedua belah pihak membuat kesepakatan hitam di atas putih yang menjelaskan secara detail mengenai informasi data masing-masing, jumlah uang yang dipinjam, jumlah uang yang akan dibayarkan (termasuk bunga bila ada), keperluan penggunaan uang pinjaman, jangka waktu pembayaran, dan skema pembayaran.

Secara prinsip, urusan utang piutang merupakan hubungan keperdataan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pasal 1754 KUHPerdata mengenai definisi pinjam meminjam, “Suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberi kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabiskan karena pemakaian dengan syarat bahwa pihak yang terakhir ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari jenis dan mutu yang sama pula.”

Lantas, bagaimana urusan utang piutang tersebut yang jelas sebuah perdata dapat berubah menjadi tindak pidana?

Urusan tersebut dapat diperkarakan sebagai tindak pidana bila ditemukan unsur penipuan. Adapun yang dimaksud dengan penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP BAB XXV tentang Perbuatan Curang (bedrog) ialah “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan oang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”
Dengan demikian, A dapat memperkarakan B ke lembaga peradilan dengan gugatan pidana bilamana B melakukan unsur-unsur penipuan seperti yang tertuang dalam pasal di atas. Pada intinya, selama B tidak memiliki iktikad baik untuk menjalankan ketentuan sebagaimana yang disepakati bersama, A berhak untuk menggugat.

Namun perlu diingat, hal ini berbeda apabila terjadi pada kasus wanprestasi. Seperti contoh, B telah melakukan pembayaran sebesar Rp 3.000.000,00. Selang beberapa waktu dari tanggal jatuh tempo, B tidak kunjung melunasi kewajibannya karena ketidakmampuannya. Untuk kasus yang seperti ini, maka A tidak dapat menggugat B secara pidana karena pada dasarnya B telah memiliki iktikad baik untuk menjalankan kewajibannya.

Selagi B memiliki iktikad baik untuk memenuhi apa yang menjadi kewajibannya, maka tidak bisa dilakukan gugatan pidana. Mengingat Pasal 19 Ayat (2) Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “tidak seorang pun atas putusan pengadilan boleh dipidana penjara atau kurungan berdasarkan atas alasan ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban dalam perjanjian utang piutang” artinya pengadilan tidak bisa memidanakan seseorang lantaran ketidakmampuannya membayar utang.

Baca juga: Strategi pengajuan laporan pidana

Lain halnya jika sejak awal B mengetahui bahwa tidak ada uang yang bisa digunakan untuk membayar utangnya. Bila kasusnya seperti ini, maka B telah melakukan unsur penipuan sedari awal dengan sadar dan memiliki iktikad tidak baik.

Setiap perbuatan yang dapat diproses sebagai perkara pidana haruslah memiliki perbuatan (actus reus) dan niat jahat (mens rea). Siapapun boleh mengadukan perkara perdata yang dianggapnya seolah-olah menjadi sebuah pidana kepada pihak yang berwajib. Akan tetapi pada akhirnya, kejelian dan kebijakan dari penegak hukum tetap yang akan memutuskan apakah aduan tersebut dapat ditindaklanjuti sebagai pidana atau tidak.

Referensi : Bplawyers

Tuesday, November 7, 2017

Sebuah Buku: "Dari Mana Masuknya Setan"

Bismillahirrahmanirrahim.
#ResensiNovember


Judul Asli: Al Bayaanu Fi Madakhilisy Syaithan
Judul Terjemahan: Dari Mana Masuknya Setan
Penulis: Abdul Hamid Al Bilali
Penerjemah: Abdul Rokhim Mukti, Lc. MM
Penerbit: Gema Insani
ISBN: 979-561-971-3
Cetakan ke-: 1
Tahun Terbit: 2005
Tebal: 248 halaman
Resensor: L. Yuniasari
_

Tiap detik, menit, jam, dan hari, manusia akan terus diburu setan bahkan sampai di penghujung kehidupan di dunia sekalipun. Walaupun ghaib, setan mampu untuk menggoda serta menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan berbagai macam cara. Memang, itulah yang menjadi rencana besarnya. Ia punya berjuta cara jitu untuk bisa mewujudkannya. Lantas, bagaimana kita mengetahui dari mana saja setan masuk menggoda kita? Bagaimana cara mencegah masuknya ia agar tak lagi menggoda kita? Apa yang harus kita lakukan untuk dapat menghindarinya?

Dalam pengantar buku ini dikatakan bahwa adalah sebuah dendam abadi, mengapa permusuhan antara manusia dan iblis (juga keturunannya, setan) berlangsung hingga hari Kiamat. Penyebab pertama adalah karena Iblis membangkang perintah Allah,

ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻣَﻨَﻌَﻚَ ﺃَﻻَّ ﺗَﺴْﺠُﺪَ ﺇِﺫْ ﺃَﻣَﺮْﺗُﻚَ ۖ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺎ۠ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻨْﻪُ ﺧَﻠَﻘْﺘَﻨِﻰ ﻣِﻦ ﻧَّﺎﺭٍ ﻭَﺧَﻠَﻘْﺘَﻪُۥ ﻣِﻦ ﻃِﻴﻦٍ

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al A'raf : 12)

ﻗَﺎﻝَ ﻓَﭑﻫْﺒِﻄْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓَﻤَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻚَ ﺃَﻥ ﺗَﺘَﻜَﺒَّﺮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﭑﺧْﺮُﺝْ ﺇِﻧَّﻚَ ﻣِﻦَ ٱﻟﺼَّٰﻐِﺮِﻳﻦَ

Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS. Al A'raf : 13)

Penyebab kedua, karena Allah telah melarang Adam dan Hawa,

ﻭَﻗُﻠْﻨَﺎ ﻳَٰٓـَٔﺎﺩَﻡُ ٱﺳْﻜُﻦْ ﺃَﻧﺖَ ﻭَﺯَﻭْﺟُﻚَ ٱﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻛُﻼَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺭَﻏَﺪًا ﺣَﻴْﺚُ ﺷِﺌْﺘُﻤَﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺮَﺑَﺎ ﻫَٰﺬِﻩِ ٱﻟﺸَّﺠَﺮَﺓَ ﻓَﺘَﻜُﻮﻧَﺎ ﻣِﻦَ ٱﻟﻆَّٰﻠِﻤِﻴﻦَ

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah : 35)

Namun, Iblis lalu menggodanya,

ﻓَﻮَﺳْﻮَﺱَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ٱﻟﺸَّﻴْﻂَٰﻦُ ﻗَﺎﻝَ ﻳَٰٓـَٔﺎﺩَﻡُ ﻫَﻞْ ﺃَﺩُﻟُّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﺷَﺠَﺮَﺓِ ٱﻟْﺨُﻠْﺪِ ﻭَﻣُﻠْﻚٍ ﻻَّ ﻳَﺒْﻠَﻰٰ

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Taha : 120)

Hingga pada akhirnya Adam dan Hawa justru mengerjakan larangan-Nya, kemudian diperintahkan Allah agar keduanya turun ke bumi.

Buku yang berisi tujuh bab ini akan menjadi santapan yang tepat bagi kita untuk mempersiapkan diri agar bisa membentengi celah-celah yang boleh jadi menjadi tempat masuknya setan.

Bab pertama akan membawa kita pada permulaan. Cerita permulaan ini selalu berulang setiap hari. Bab ini akan mengisahkan bagaimana semua itu bermula hingga ketetapan-Nya yang pada akhirnya membawa Adam dan Hawa turun ke bumi.

Bab kedua sekaligus menjadi peringatan bagi kita. Di antara peringatan yang paling penting yang diberikan oleh Allah adalah jangan menjadi golongan yang beribadah kepada setan dan menjadikannya sebagai pemimpin selain Allah. Semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang tidak justru berpaling dari jalan kebenaran sebagaimana yang diridhai-Nya. Aamiin.

Bab ketiga akan membawa kita untuk mengenal bagaimana dan apa-apa saja yang menjadi sifat-sifat setan. Mulai dari yang boleh jadi tidak kita sadari, hingga yang sebenarnya kita ketahui tetapi pernah sekali-duakali justru tidak kita hindari. Astaghfirullah, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih berbenah lagi.

Bab keempat akan membawa kita untuk mengenal perbuatan setan, mulai dari perbuatan yang boleh jadi kita anggap sepele sehingga kitapun pernah menjadi pelakunya sampai dengan perbuatan kemungkaran yang mungkin mulai banyak dilakukan oleh manusia di luar sana. Semoga kita termasuk yang dapat terhindar daripadanya. Aamiin.

Bab kelima dalam buku ini menjelaskan mengenai pintu-pintu masuknya setan, termasuk di dalamnya mengenai penghiasan kecil dan besar daripada setan serta godaan setan.

Bab keenam akan membawa kita mengetahui konsekuensi apa saja yang akan didapatkan apabila ada seseorang yang menjadi pengikut setan. Mengenai konsekuensi ini tentu kita akan bicara ke arah kerugian-kerugian yang akan dirasakan. Boleh jadi memang tidak begitu saja dirasakan saat ini, ketika di dunia, melainkan konsekuensi tersebut -pun akan berdampak sampai dengan di 'kehidupan setelah dunia'. Na'udzubillah.

Bab ketujuh sekaligus bab terakhir dalam buku ini akan membawa kita pada pengobatan-pengobatan yang dapat kita lakukan sebagai upaya mencegah datangnya setan dalam keseharian kita.

Secara keseluruhan, buku ini dapat menjadi salah satu asupan yang sekaligus bisa membuat diri kita untuk selalu waspada akan kelalaian yang melenakan, agar tersadar akan kenikmatan yang boleh jadi justru menjerumuskan, serta agar kita dapat lebih pandai dalam memerangi godaan setan.

Semoga aku, kamu, kita semua senantiasa dapat terus dan terus melakukan perbaikan dan tidak bosan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Aamiin.

Monday, October 30, 2017

Sebuah Buku: "Kitab Al Hikam"

Bismillahirrahmanirrahim.

#ResensiBulanOktober

Judul : Kitab Al Hikam
Penulis : Syekh Ibnu Athaillah
Penerjemah: Imam Sibawah El Hasany
Penerbit : Zaman
ISBN : 978-602-1687-14-7
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2015
Tebal: 283 Halaman
Resensor: L. Yuniasari

Al Hikam merupakan sebuah kitab klasik yang berisikan berbagai macam hikmah yang sekaligus dapat membimbing kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Al Qur'an dan As Sunnah.

Al Hikam dipandang sebagai kitab 'kelas berat'. Hal ini bukan dikarenakan struktur kalimatnya yang sulit dimengerti, melainkan karena kedalaman makrifat yang diturunkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat.

Menurut saya, buku ini lebih cocok untuk "disantap" secara perlahan. Tidak dalam sekali habis. Salah satu yang menjadi alasannya mungkin karena pemilihan kata dan gaya bahasanya yang lebih asyik untuk dinikmati secara perlahan. Pelan-pelan.

"Di antara tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan."

Buku ini menyajikan tiga puluh bagian dengan judul yang beraneka ragam, mulai dari Berserah Pada Takdir dan Anugerah hingga Zikir dan Pikir.

Setiap bagiannya, kita akan menemukan beberapa paragraf terpisah yang berisikan untaian nasehat ditambah dengan penjelasan singkat yang menurut saya dikemas dengan bahasa yang apik.

Sebagai catatan singkat terakhir, ketika kita membaca buku ini dan mendapati kalimat atau kata yang tidak dipahami maka jangan segan dan ragu untuk bertanya kepada "guru ngaji" atau orang yang lebih mengerti. Hal ini dimaksudkan agar segala macam untaian nasehat yang disampaikan dalam buku ini-pun dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Allahumma aamiin.

"Ilmu yang bermanfaat adalah yang cahayanya melapangkan dada dan menyingkap tirai kalbu..."

Mohon maaf lahir dan bathin, barangkali saya sendiri juga masih perlu mempelajari kitab ini lebih dan lebih lagi.

Tetap semangat berbuat baik, wahai orang-orang baik!

Monday, October 9, 2017

Perbandingan Peran Audit di Indonesia & Pakistan


Sistem ekonomi Islam adalah temuan yang sangat berharga untuk mengatur perekonomian saat ini, perkembangan perbankan syariahpun begitu pesat di berbagai belahan dunia, salah satunya Negara Pakistan. Negara Pakistan atau bisa disebut juga Republik Islam Pakistan, dengan nama ibu kota Islamabad yang mayoritas penduduknya adalah muslim, penduduk muslimnya mencapai 919.000 jiwa. Pertumbuhan ekonomi islam pada Negara ini tumbuh dengan cukup pesat.

Dalam dua dasawarsa terakhir, menurut bank pemerintahan Pakistan melaporkan bahwa asset bank islam pada bulan September 2014 adalah 1102 miliar rupee dan deposito mereka tercatat adalah 934 miliar rupee, market share perbankan syariah asset dan simpanan di industri perbankan secara keseluruhan meningkat 10.7 persen pada akhir September 2014. Pada bulan September 2015 asset bank syariah mencapai 1511 miliar rupee dan deposito yang ada mencapai 1271 miliar rupee.

Hal ini menunjukan bahwa industri keuangan syariah diadopsi secara kumulatif sebagai perbandingan untuk perbankan konvensional. Hal itu menyebabkan menjadi peluang besar untuk melakukan banyak kecurangan. Setelah kejadian ini, bank pemerintahan Pakistan memutuskan untuk setiap lembaga keuangan syariah memiliki konsistensi dalam tata kelola keuangannya. Dengan adanya tata kelola dan cara yang sesuai dengan keuangan syariah yang berlaku, maka akan dapat memudahkan mendapatkan kebijakan yang tepat dan diterima oleh para pemangku kebijakan di bank syariah, seperti nasabah, investor, pemegang saham, karyawan, dan lain-lain.

Tentu dengan adanya tata kelola yang sesuai syariah belum cukup untuk menangani celah-celah kecurangan yang mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, audit syariah hadir di Pakistan atas dasar keprihatinan terhadap institusi keuangan islam di Pakistan. Dihadirkan pula para auditor syariah untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Pakistan.

Berbeda hal dengan audit syariah di Indonesia, jika audit di Pakistan hadir karena masih banyak celah kecurangan dalam pelaksanaan dan tata kelolanya, di Indonesia para auditor syariah hadir untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Indonesia. Seharusnya yang menjadi auditor syariah adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS), tapi dalam pratiknya yang menjalankan tugas audit bukanlah DPS.

Dewan Pengawas Syariah adalah sebuah fitur istimewa dalam lembaga keuangan syariah dan di anggap ‘supra authority’. Hal ini dikarenakan DPS adalah lapisan tambahan dalam struktur dewan, untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap kegiatan operasional bank syariah. Lebih jelasnya, peran dan tanggung jawab yang diberikan Dewan Syariah Nasional (DSN) kepada Dewan Pengawas Syariah dalam surat keputusan DSN MUI No.Kep-98/MUI/III/2001 tentang susunan pengurus DSN MUI masa bakti Th. 2000-2005 :
  1. Melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah.
  2. Mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan dan kepada DSN.
  3. Melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah yang diawasi kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran.
  4. Merumuskan permasalahan yang memerlukan pembahasan dengan DSN.
Audit syariah juga disebut sebagai akuntan publik yang mengaudit dan memberikan kesimpulan dari laporan keuangan suatu lembaga/perusahaan sebagaimana akuntan publik lainnya. Namun, auditor syariah hanya mengaudit lembaga/perusahaan yang melaksanakan ekonomi syariah saja. Akan tetapi, auditor syariah yang ada saat ini masih sangat minim dan kompetensinya belum mampu berbuat banyak atas permasalahan yang terjadi dalam ekonomi syariah, sehingga banyak akuntan publik yang belum berpengalaman dalam keuangan syariah dijadikan sebagai auditor keuangan oleh lembaga yang menjalankan perekonomian syariah. Karena hal tersebut, tantangan kompetensi auditor syariah di Indonesia menjadi sangat berat dan harus secepat mungkin untuk ditutupi kekurangannya agar perekonomian syariah mampu dievaluasi dan dapat dipercaya kebenaran syariahnya oleh masyarakat umum.

Jadi, kesimpulan yang ada ialah bahwa di Negara Pakistan, seorang auditor hadir karena masih banyaknya kekurangan yang ada pada sistem dan tata kelola pada lembaga-lembaga syariah dan perbankan syariah. Sedangkan di Indonesia, auditor hadir sebagai suatu lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan mengevaluasi setiap pelaksanaan ekonomi syariah di berbagai lembaga yang menjalani perekonomian syariah di Indonesia.

***
Referensi :
  • Journal of Internet Banking and Commerce ( CPMPETENCY OF SHARIAH AUDITHORS: ISSUES AND CHALLENGES IN PAKISTAN)
Penulis :
Azzam Fadhlullah
Mahasiswa STEI SEBI

Friday, September 29, 2017

Sebuah Buku: "Saat Malaikat Maut Menjemput Orang-Orang Shaleh"

Bismillahirrahmanirrahim.


Judul : Saat Malaikat Maut Menjemput Orang-Orang Shaleh
Penulis : Syaikh DR. Musthafa Murad
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
ISBN : 979-592-563-3
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2003
Tebal: 300 Halaman
Resensor: L. Yuniasari
 

---

Kehidupan dan kematian sejatinya menjadi dua peristiwa alamiah yang harus dialami setiap makhluk. Ada saatnya manusia menikmati kehidupan sebagaimana ada waktunya untuk merasakan kematian.

Apabila disadari, sudah begitu banyak waktu serta kejadian yang kita alami. Lantas, sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kematian yang datangnya pasti?

Baru saja siang tadi, diri ini diingatkan kembali bahwa ada yang tengah mengikuti di belakang kita dan bisa secara tiba-tiba ia menghampiri. Tepat. Ia adalah ajal. Kematian.

Apabila kita melihat lebih jauh ke sekitar, tidak sedikit orang-orang bahkan yang berada dekat dengan kita yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini. Mereka, satu per satu pergi. Mereka tidak membawa harta dan tahta dunia yang sebelumnya telah dicari. Hanya amal perbuatan merekalah yang mengiringi. Lantas, bagaimana dengan kita nanti?

Di antara orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkan kita, ada yang menyisakan sejarah beraroma kurang baik. Ia justru mewariskan keburukan yang tak terkira, hingga "kembali" pada-Nya dengan tangan hampa. Ia dirundung penyesalan di akhir, bahkan meninggalpun dalam keadaan hina. Ia adalah pendosa dan pembangkang apa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Agama. Na'udzubillah. Semoga kita bukan termasuk satu diantaranya.

Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mewariskan sejarah beraroma semerbak mewangi. Kepergiannya meninggalkan dunia ini begitu ditangisi. Tidak hanya makhluk-Nya, bahkan duniapun ikut menangisi. Ia dijemput untuk "kembali" ke haribaan-Nya dalam sebaik-baik iman, ketakwaan, serta keshalehan dalam dada. MasyaaAllah. Semoga aku, kamu, dia, mereka dan kita semua termasuk satu diantaranya. Allahumma aamiin :'

Allah SWT berfirman,

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." 
- QS. Al-Baqarah 2 : 281

Buku ini berisikan bagaimana perjalanan menuju kematian sampai dengan berbagai macam kisah penuh hikmah mengenai bagaimana orang-orang terdahulu ketika menghadapi kematiannya.

Buku yang terdiri dari banyak sekali sub-judul ini menjadi bacaan yang pas sebagai refleksi diri untuk mengingat pemutus segala kenikmatan. Ya, untuk mengingat kematian.

Kisah-kisah mereka yang Husnul Khatimah, bahkan Su'ul Khatimah (Na'udzubillah) secara tidak langsung dapat menjadi pelajaran sekaligus pengingat diri bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia ini. Akan tetapi, kehidupan yang sesungguhnya ialah kehidupan di akhirat nanti. Semoga surga-Nya menjadi tempat dimana kita dipertemukan kembali. Aamiin.

Maka cukuplah kematian itu sebagai nasehat.

Buku setebal 300 halaman ini diakhiri dengan beberapa sub-judul sebagai renungan yang juga mengingatkan pada diri ini untuk mulai mempersiapkan perbekalan untuk menyambut datangnya kematian...

Wahai manusia, bangunlah dari tidurmu dan bangkitlah dari pembaringanmu. Cukuplah kematian sebagai pengingat. Kematian seakan berkata kepada semua orang untuk segera mewasiatkan segala harta kekayaan yang telah dikumpulkan sebelum dirinya terlepas dari dunia. Menyedekahkan kekayaannya sebelum dirinya menuju ke alam akhirat...

"Yaa Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shaleh lagi shaleha."

Allahumma aamiin..

Wednesday, August 16, 2017

Sebuah Buku: "Piagam Madinah"

Bismillahirrahmanirrahim.

Resensi Bulan Agustus


Judul : Piagam Madinah
Penulis : H. Zainal Abidin Ahmad
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
ISBN : 978-979-592-672-6
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2014
Tebal: 268 Halaman
Resensor: L. Yuniasari
 
***

"Surat yang memuat peraturan ini, yang orang dapati bunyinya termaktub dalam kitab karangan Ibn Hisyam, sungguh-sungguh menunjukkan kebesaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sangat luas pikirannya dan terang pandangannya, yang berdiri atas petunjuk Allah dan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepadanya..." - H.O.S Tjokroaminoto

Piagam Madinah merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia yang lahir di Semenanjung Arab, bukan di belahan Asia lainnya, bukan di Afrika, Amerika ataupun Eropa. Salah satu hal menarik lainnya yang perlu diketahui adalah bahwa kelahiran konstitusi bagi sebuah ummah baru di Yatsrib kala itu juga berkaitan langsung dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Salah satu hal menarik dari Piagam Madinah yang saya dapati adalah isinya yang meluas dan terbilang cukup lengkap karena mencakup beberapa hal diantaranya yang berkaitan dengan negara, hak asasi manusia, pejabat, rakyat, dan hal-hal lainnya.

Buku ini memuat isi Piagam Madinah dalam teks asli dalam bahasa Arab dan juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, dalam buku ini disajikan lima bagian serta lampiran-lampiran yang secara tidak langsung sekaligus mengenalkan kembali akan dokumen sejarah yang dapat dikatakan bernilai tinggi ini.

Terakhir yang ingin saya sampaikan sebagaimana juga dituliskan dalam pengantar penerbit, kita ini, sebagai kaum muslimin memang patut berbangga bahwa diantara segelintir cendekiawan Muslim yang meneliti Piagam Madinah ini adalah seorang putra asli Melayu-Indonesia. Oleh karenanya, dengan mengetahui adanya Piagam Madinah ini, dapat dikatakan ibarat menemukan harta karun yang sekian lama terpendam.

Jadi, tertarik untuk membacanya?

Wednesday, July 19, 2017

Sebuah Buku: "Tamasya Ke Alam Kubur & Kehidupan Setelahnya"

Bismillahirrahmanirrahim.

#Resensi Bulan Juli

 

Judul : Tamasya Ke Alam Kubur & Kehidupan Setelahnya
Penulis : Miftahul Asror Malik
Penerbit : Semesta Hikmah
ISBN : 978-602-7701-41-0
Cetakan ke- : 1
Tahun Terbit : 2014
Tebal: 200 Halaman
Resensor: L. Yuniasari

***

Tamasya. Satu kata yang ketika kita pertama kali membaca atau mendengarnya tentu akan berpikir hal-hal berkaitan dengan bersenang-senang, refreshing, liburan ataupun jalan-jalan. Akan tetapi, apakah akan sama apabila kata berikutnya yang dimaksud adalah tamasya ke alam kubur?

Sebuah buku yang mengupas hal-hal berkaitan dengan kematian, alam kubur, serta kehidupan setelahnya...

Buku ini terdiri dari enam bab ini merupakan salah satu "santapan" yang cocok dijadikan bahan renungan bagi diri. Karena boleh jadi, terkadang atau justru sering kali diri ini melakukan kelalaian yang tidak hanya sekali-duakali atau bahkan diri ini begitu sibuk akan hal-hal berkaitan dengan duniawi. Astaghfirullah...

Tamasya kita bersama buku ini diawali dengan mengenal hakikat dari kematian, sakaratul maut, serta hal-hal yang mungkin menyengsarakan daripadanya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al-A'raf : 34)

Berikutnya, kita akan dibawa untuk mengenal alam kubur termasuk siksa dan fitnahnya.

Hani', budak Utsman bin 'Affan bercerita bahwa ketika Utsman bin 'Affan berdiri di atas kuburan, maka ia menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Ketika ingat surga dan neraka kamu tidak menangis, namun ketika teringat kubur mengapa kamu menangis?" 
Utsman menjawab, "Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Kubur adalah permulaan tempat akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya akan lebih mudah darinya, namun jika ia tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya itu lebih berat darinya.'" 
Utsman bin 'Affan melanjutkan, "Saya juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Saya tidak pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dari kubur.'"
(HR. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bab tiga akan membawa kita untuk mengenal Hari Kiamat dna juga Hari Kebangkitan, termasuk juga mengenai syafa'at-Nya.

Dalam Firman-Nya disebutkan,

"Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?" (QS. Al Baqarah : 255)

"Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah." (QS. Al Anbiya' : 28)

Berikutnya, bab empat akan mengajak kita mengenal Hisab dan Pembalasan. Di sini, kita akan diingatkan kembali bahwa segala macam hal yang kita perbuat selama di dunia, baik disengaja ataupun tidak, nantinya akan mendapat balasan yang sesuai dengan apa yang dikerjakan. Oleh karenanya, manfaatkan sisa waktu yang dimiliki untuk segala macam aktivitas yang memang DIA Ridhai :'

"Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS. Al Baqarah : 281)

Bab lima akan mengenalkan kita pada Mizan atau timbangan amal dan juga Sirath yang merupakan jembatan yang dikatakan begitu licin dan menggelincirkan. Satu-satunya yang nantinya akan menjadi penolong kita ketika hendak melewatinya adalah tabungan amal yang telah kita kumpulkan selama di dunia. Semoga aku, kamu, dia, mereka, dan kita semua merupakan golongan hamba-Nya yang senantiasa diberikan kemudahan ketika nanti akan melewatinya, melewati shirath yang pada hakikatnya di bawahnya terdapat api neraka yang menyala-nyala. Aamiin :'

Bab enam sekaligus bab terakhir dalam buku ini akan membawa kita mengenal surga dan juga neraka, mulai dari tingkatannya; golongan orang yang termasuk di dalamnya; sifatnya; serta amalan-amalan apa saja yang nantinya dapat mengantarkan kita menuju surga-Nya dan menjauhkan diri kita ini dari neraka-Nya.

Secara keseluruhan dapat saya katakan bahwa ini salah satu buku yang juga mengingatkan bahwa perjalanan kita ini masih panjang, karena setelah melewati alam dunia, kita melanjutkan perjalanan di negeri akhirat yang sudah menanti kita di depan sana. Sungguh, hal yang sebenarnya pendek adalah perjalanan kita selama di dunia. Maka, sudah sampai sejauh mana perbekalan yang disiapkan untuk nantinya kita bawa?

Saling mengingatkan dalam kebaikan.
Mohon maaf apabila tulisan ini memiliki begitu banyak kekurangan.

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Monday, July 3, 2017

Review: 僕だけがいない街 - Boku Dake ga Inai Machi

Bagaimana jika kau diberi kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi, akan tetapi bagaimana jika masih ada peluang kegagalan bagimu untuk memperbaikinya?
-



Title : 僕だけがいない街 (Boku Dake ga Inai Machi) 
Genre : Psychological, Seinen, Supernatural 
Total Episodes : 12 
Duration : +- 24 minutes /episode 
Release : 2016
 


 
Berkisahkan tentang seorang anak bernama Fujinuma Satoru, seorang pria berusia 29 tahun yang bekerja paruh waktu sebagai seorang pengantar pizza. Suatu ketika, dirinya menemui Ibunya yang tergeletak dalam rumah dengan pisau yang tertusuk di perutnya. Naasnya, Satoru yang sebenarnya merupakan orang pertama yang menemukan ibunya yang menjadi korban tersebut justru dianggap sebagai tersangka dari kasus pembunuhan itu.
 
Pada akhirnya Satoru, tokoh utama yang juga seorang komikus ini berusaha untuk melarikan diri karena dirinya merasa tak bersalah. Tidak lama setelah itu, sambil berusaha melarikan diri ternyata diketahui bahwa Satoru memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Hal inilah yang menjadi alasan sehingga untuk beberapa kali Satoru dapat mencegah berbagai kejadian, termasuk kecelakaan yang sebelumnya ditemuinya dalam perjalanan mengantar pizza.
 
 
 
Satoru kembali ke masa 18 tahun lalu untuk memperbaiki kesalahannya terhadap Kayo Hinazuki, salah seorang teman sekelasnya yang menyatakan bahwa ia ingin pergi jauh dari kehidupannya sekarang ini melalui karangan yang telah dibuatnya.
 
 
 
Satoru yang mengaku bahwa dirinya ingin menjadi seorang Superhero nantinya akan dibantu oleh teman-temannya untuk dapat menuntaskan apa-apa saja yang sebelumnya dia sesalkan,
 
 
 
termasuk diantaranya oleh Kobayashi Kenya, salah seorang murid terpandai di kelas yang pada akhirnya pernah dikenakan hukuman oleh guru :'D
 
 
 
Salah satu hal yang membuat anime ini menarik bagi saya adalah alur cerita yang maju dan mundur, karena dalam anime ini diceritakan bahwa Satoru tidak hanya sekali melewati garis waktu untuk switch antara kehidupannya sebagai seorang pengantar pizza dengan masa ketika ia masih berada dibangku sekolah dasar. Nah, hal ini yang menurut saya justru merangsang penonton untuk ikut berpikir dan dag dig dugnya dapet bangetlah X'D
 
Sekilas ketika melihat anime ini mungkin akan teringat dengan Re-Life ataupun anime sejenis yang menceritakan bahwa si tokoh utama kembali ke masa lalu, termasuk dengan pintu ajaibnya Doraemon ya :'D
Akan tetapi, saya merasa bahwa anime ini juga memiliki daya tarik yang tidak se-mainstream itu kok, karena memang tiap anime memiliki keunikan dan nilai plus tersendiri bukan? ;;)
 
Btw ketika kita menonton anime ini (dan tontonan lainnya) juga dapat ditemani oleh...
 
kopi ataupun minuman lainnya :3
cemilan apapun itu :'D
bahkan makanan berat X'D
itu penting loh XD
-
 
Sedikit banyak, anime ini mengingatkan bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri...
 
 
 
karena pada kenyataannya masih ada orang-orang di sekitar kita yang bersedia mengulurkan tangan.
 
 
 
Secara keseluruhan, saya merasa bahwa anime ini cocok menjadi santapan mereka yang suka kisah fantasi, terlebih lagi yang dipadukan dengan pemecahan suatu misteri. Salah satu diantaranya adalah ketika Satoru melewatkan dua puluh empat tahun usianya tanpa adanya kesan, ingatan ataupun kenangan... Mengapa demikian?
 
 
 
Jadi, tertarik untuk menonton anime ini?
 
Yuk sharing review kalau sudah menonton,,
terakhir... ini ada titipan kedipan mata ;;)
  

Saturday, July 1, 2017

Review: Orange - 1.17 命懸けで闘った消防士の魂の物語 (Inochigake de Tatakatta Shouboushi no Monogatari)

Bismillahirrahmanirrahim.

-

Setiap pekerjaan tentu saja ada resikonya.
Lantas, pernahkah terpikir mengenai kemungkinan terburuk dari profesi yang dijalani?

Image result for orange 1.17
***

Film berjudul ORANGE 1.17 命懸けで闘った消防士の魂の物語 (Inochigake de Tatakatta Shouboushi no Monogatari) ini merupakan film yang ditayangkan pertama kali pada awal Januari 2015 lalu. Film yang telah cukup lama tak terjamah dalam salah satu folder saya ini ternyata menjadi satu diantara sekian banyak film yang saya rekomendasikan.

Film ini dapat dikategorikan dalam genre slice of life yang boleh jadi tak jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, salah satu yang membuat film ini menarik adalah jalan cerita yang mengambil sudut pandang dari sisi "kelompok oranye" atau pemadam kebakaran.

Film ini menceritakan perjalanan Kohinata Yuuji, tokoh utama dalam film ini sekaligus salah seorang pemadam kebakaran di kawasan Kobe.
 
 
Lebih jauh lagi, film yang berdurasi kurang lebih 110 menit atau 1 jam 50 menit ini menggambarkan bagaimana suka dukanya menjadi seorang pemadam kebakaran, apa saja resiko yang dihadapi ketika menjadi seorang pemadam kebakaran, bahkan termasuk alasan mengapa memilih untuk menjadi seorang pemadam kebakaran. Hal-hal seperti itu yang bagi saya pribadi hampir tidak pernah terpikirkan, tetapi justru membuat pikiran ini menjadi lebih terbuka atas hal-hal tersebut. Hal-hal yang boleh jadi tak kita ketahui, bahkan tidak kita pedulikan sebelumnya.

Dari film ini, saya baru menyadari bahwa memang bukan menjadi hal yang mudah ketika kita hendak terjun dalam suatu profesi.

ini salah satu latihan bagi seorang pemadam kebakaran

termasuk jungkir balik seperti ini :'

Tidak terlepas dari hal tersebut, ada kalanya perjuangan dan pengorbanan pemadam kebakaran seolah tidak dihargai karena boleh jadi mereka justru dianggap sebagai pelaku atas nyawa yang tidak terselamatkan akibat kebakaran :'


Tentu saja hal seperti itu juga menghiris hati, bahkan bagi seorang pemadam kebakaran yang 'kasarnya' dapat dikatakan bahwa nyawa yang diselamatkan tak ada kaitan dengannya.
 
 
Tetapi (lagi-lagi) semua itu menjadi kewajiban, tuntutan, serta satu dari sekian banyak resiko yang mau tak mau harus dihadapinya.
 
 
Seorang pemadam kebakaran akan merasa gagal memainkan peran serta menjalankan kewajibannya ketika angka yang tak terselamatkan lebih banyak dari yang mereka selamatkan, sekalipun semua diantaranya bukan bagian keluarga mereka :'


Bahkan nyawa mereka juga yang menjadi taruhannya...


Dapat saya katakan bahwa film ini boleh diapresiasi karena secara tidak langsung mengajarkan kita untuk lebih menghargai pekerjaan, apapun itu jenisnya. Jangan sampai kita memandang sebelah mata terhadap suatu pekerjaan atau profesi apapun, karena boleh jadi apa yang terkesan gagal atau sia-sia tetapi justru mendatangkan manfaat bagi yang lainnya. Sekecil apapun manfaat yang mungkin tidak dirasa secara nyata, tetapi ternyata berguna bahkan membuat orang sekitar merasa bahagia :')


Sebelum diakhiri, salah satu hal yang ingin saya sampaikan sekaligus mengingatkan diri sendiri adalah bahwa sebagai manusia, kita jangan sampai lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang di sekitar kita. Boleh jadi hal kecil seperti ucapan "terima kasih" kita dapat menjadi satu dari sekian banyak hal yang dapat menjadi penyemangat bagi mereka, termasuk para pelaku profesi yang sadar bahwa ada kewajiban yang harus mereka tunaikan, dalam hal ini pemadam kebakaran sebagai contoh diantaranya. Tujuan mereka mulia loh :')
 

Jadi, tertarik untuk menonton?
:)

Tuesday, June 27, 2017

Evaluasi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.

Lupa posting ._.
-
Hari 29
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Penentu dari setiap amal itu ada di penghujungnya…
Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa "Nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya." (HR. Ahmad)

Karena itu, perjuangan besar seharusnya kita lakukan ketika kita berada di penghujung amalan. Termasuk ketika di penghujung Ramadhan ini. Maka istimewakanlah akhir dari Ramadhan ini.

Al Imam Ibnu Al Jauziy rahimahullah berkata, "Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.  Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”

Hasan al Bashri mengatakan, "Perbaiki apa yang tersisa,  agar kesalahan yang telah lalu diampuni. Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.”

Janganlah termasuk bagian dari manusia yang hanya meraih rasa lapar dan haus di bulan yang agung ini.

Jangan termasuk bagian dari orang yang celaka karena tak meraih ampunan-Nya di bulan yang penuh rahmat ini.

Rasulallah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya amalan-amalan itu (standar penilaiannya) pada penghujungnya." (HR. Bukhari)

قال ابن رجب رحمه الله تعالى: يا
عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa  telah mengisinya dengan baik, hendaklah menyempurnakannya. Dan siapa tidak mengisinya dengan baik, hendaklah ia mengakhirinya dengan yang  baik."

قال ابن الجوزي رحمه الله :
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع

(Sekali lagi) Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Jika kuda pacu sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba.
Maka jangan sampai anda kalah cerdas dari kuda, karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.
Jika anda tidak menyambut Ramadhan dengan baik, paling tidak melepasnya dengan baik."

وقال ابن تيمية رحمه الله:
العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Yang menjadi tolak ukur adalah kesempurnaan di akhir amalan, bukan kekurangan di awalnya."

وقال الحسن البصري رحمه الله: أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله...

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah. (Bisa jadi di hari terakhir Ramadhan)

Abu Bakr as-Shiddiq berdoa kepada Allah,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك

"Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu." (HR. Ibnu Abi Syaibah)

#RamadhanKareem

Friday, June 23, 2017

Elegi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim
-
Hari 28
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

mari merenung sejenak,
berikut ini nasyid lama yang rasanya boleh kita maknai tiap liriknya
diingatkan oleh sebuah grup wasap :'
-

tertatih aku mengejar bulan
mengais sisa-sisa Ramadhan
terjatuh, terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
syawal t'lah menjelang
tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
amal ibadah bagi insan beriman

duhai sahabat pilihan Allah
di sini, dipertigapuluh terakhir
kita bertemu dalam renungan
satu jiwa satu hati dan satu iman

-Illahi Rabbi- Kekalkan tali ini
Rekatkan dalam dzikir pada-Mu
biarkan rindu kian bersemayam
karena kasih dan cinta-Mu

duhai sahabat pilihan Allah
di hari ke tujuh ba'da Ramadhan
hati masih sedih ditinggalkan
seluruh jiwa terasa sakit
tiada kawan penghibur
kecuali Allah semata

hanya satu tumpuhan harapan
jumpa Ramadhan dengan izin Tuhan
madrasah perjuangan dan kesabaran
menuju Ar Rayyan yang dijanjikan

SuaraPersaudaraan
(╥﹏╥)
-

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah yang bisa jadi di hari terakhir Ramadhan datangnya…

Mudik

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 27
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

"Baju sudah di packing, oleh-oleh sudah, apa lagi ya?" gumam seorang calon pemudik.
Kawan,
Ketika kita memikirkan apa-apa saja yang akan kita bawa untuk mudik, pastikan ada niat yang tulus dalam daftar tersebut.ㅤ
Ini hal yang tidak boleh ketinggalan dalam mudik kita kali ini. Hal yang merubah biaya dan ongkos, keletihan, kemacetan berjam-jam dan pengorbanan selama mudik menjadi pahala.

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan niatnya tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatkan dalam rangka birrul waalidain, menyenangkan hati orang tua.
Niatkan silaturrahim, menjaga hubungan dengan sanak saudara di kampung halaman.
Dengan demikian, setiap langkah dan setiap kilometer yang kita lewati akan diberkahi oleh Allah. InsyaaAllah.

Dan...
jangan lupa membawa doa-doa terbaik kita.
Diawali dengan doa keluar rumah, doa safar, doa naik kendaraan, lalu iringi perjalanan dan kemacetan dengan permohonan dan harapan yang dipanjatkan.
Dalam suatu hadits disebutkan, "Ada 3 doa yang pasti diijabah tanpa diragukan lagi: doa orangtua, doa musafir (orang yang sedang dalam perjalanan jauh) dan doa orang yang terdzalimi." (HR. Tirmidzi)

Terakhir...
Pastikan tidak ada yang tertinggal selama perjalanan mudik kita, khususnya shalat.
Salah satu yang mengiris hati ini adalah saat wajah itu pucat ketika menyadari kardus bawaannya tertinggal di bus, tapi justru tanpa ekspresi saat shalat subuhnya sengaja ia tinggalkan...

Bagaimana mungkin mudik kita diberkahi jika kita tidak mau sujud dan rukuk kepada Allah?
Bagaimana mungkin mudik kita bernilai amal shalih sedangkan kita tidak menyambut panggilan Allah?
Tidak ada alasan untuk meninggalkannya, semua sudah dimudahkan, mulai dari mengqashar, menjama', serta keringanan-keringan yang lain.

 Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri

-
Semoga siapa saja yang mudik diberikan kelancaran selama perjalan dan juga selamat sampai dengan tempat tujuan. Aamiin.

Epilog...
akan tiba saatnya nanti dimana kita akan mudik bersama,
ke tempat tujuan akhir usai singgah di dunia,
maka jangan lupakan juga perbekalan untuk menghadapinya..
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Thursday, June 22, 2017

Lailatul Qadr

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 26
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Dalam suatu hadits Riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.

Dari Ibn Umar ra: Bahwa ada beberapa orang dari sahabat Nabi saw yang diperlihatkan Lailatul Qadar dalam mimpi mereka pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah saw bersabda:

Aku melihat bahwa mimpi kalian jatuh pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).
Selain itu, disebutkan pula bahwa,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ:

خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ.

Dari Ubadah ibn Al-Shamit, dia berkata: Nabi saw keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang beradu mulut. Maka beliau bersabda:

Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang (waktu terjadinya) Lailatul Qadar namun fulan dan fulan beradu mulut sehingga (kepastian waktunya) diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga saja ini lebih baik untuk kalian, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan).
Mengenai hal ini, Riwayat lain menceritakan bahwa malaikat hendak memberitahu Rasulullah kapan Lailatul qadar, namun ada dua sahabat yang bertengkar, hingga malaikat itu pergi dan waktu Lailatul qadar tidak diketahui. Namun Rasulullah berdoa agar itu menjadi yang terbaik untuk kita, dan memberitahu kita bahwa lailatul qadar ada di malam ke 9, 7 dan 5 terakhir Ramadhan.

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala. Selain itu, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah yang menyebutkan “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhaan:4)

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya yang menyebutkan bahwa “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan."
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a, serta kebajikan lainnya sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan dapat diartikan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Allah Ta'ala juga memberitahukan keutamaan lainnya yang diantaranya berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah.

Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr:5) Maksudnya bahwa malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikitpun ada kejelekan di dalamnya sampai dengan terbit fajar.

Di malam itu, para malaikat, termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan lainnya)

Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Waallahu’alam.

Mari kita Renungkan...

Jika sosok sekaliber Nabi yang akan membuka pintu Surga pertama kali di hari kiamat masih mencari malam tersebut, lalu bagaimana dengan kita?

Jika Kekasih Allah dan seseorang yang telah diampuni seluruh kekhilafannya masih mencari malam lailatul qadr, lalu apakah kita pantas santai-santai saja?

Jika Seorang Nabi terbaik bangun untuk menghidupkan malam-malamnya, lalu kita membaca doa tidur?

Jika Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam- sibuk membaca Alquran, lalu orang seperti kita sibuk nongkrong di luar?

Lalu,
apakah kita justru meremehkan?
:(

Kawan,
Ingatlah bahwa inilah babak final bulan suci

Dan ingatlah,
kekalahan yang paling menyakitkan adalah kekalahan ketika sampai di FINAL...

Lantas,
apa yang setelah ini akan kita lakukan?

Semoga ALLAH senantiasa memberikan taufiq untuk kita semua. Aamiin.

Selamat berjuang!

Wednesday, June 21, 2017

Zakat Fitrah

Bismillahirrahmanirrahim.

自動代替テキストはありません。
-
Hari 25
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Zakat Fitri atau Fitrah merupakan salah satu santapan ruhiyah yang ditunaikan pada bulan Ramadhan. Zakat Fitrah ini merupakan zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya dan hukumnya wajib.

Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

أي الزكاة التي تجب بالفطر من رمضان. وهي واجبة على كل فرد من المسلمين، صغير أو كبير، ذكر أو أنثى، حر أو عبد

Yaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

تجب على الحر المسلم، المالك لمقدار صاع، يزيد عن قوته وقوت عياله، يوما وليلة. وتجب عليه، عن نفسه، وعمن تلزمه نفقته، كزوجته، وأبنائه، وخدمه الذين يتولى أمورهم، ويقوم بالانفاق عليهم.

Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha’ makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

Diantara hikmah yang didapatkan dari menunaikan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

Dari Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليهوسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةًلِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”
(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakanbahwa sanad hadits inihasan)

Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupikesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujudsahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada.  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm.377)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatannya yang sia-sia dan perkataannya tidak baik (keji), serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shala ied, maka terhitung zakat fitrah, sedangkan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu tak lebih dari sedekah biasa.” (Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1420 dan Shahih Ibnu Majah, no. 1480)

Sayyid Sabiq berkata:

والفقراء هم أولى الاصناف بها

Orang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri.  (Fiqhus Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia,  perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan:  hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618)

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok:
  1. Waktu Wajib, yaitu ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.
  2. Waktu Jawaz, yaitu sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
  3. Waktu Fadhilah, yaitu setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.
  4. Waktu makruh, yaitu setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
  5. Waktu haram, yaitu setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram.
Sedangkan dari zakat yang dikeluarkan setelah tanggal 1 Syawwal adalah qodho’.

Jadi,
hari ini sudah semakin mendekati penghujung bulan Ramadhan
maka sudahkan zakat fitrah kita tunaikan?

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.