Tuesday, June 27, 2017

Evaluasi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.

Lupa posting ._.
-
Hari 29
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Penentu dari setiap amal itu ada di penghujungnya…
Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa "Nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya." (HR. Ahmad)

Karena itu, perjuangan besar seharusnya kita lakukan ketika kita berada di penghujung amalan. Termasuk ketika di penghujung Ramadhan ini. Maka istimewakanlah akhir dari Ramadhan ini.

Al Imam Ibnu Al Jauziy rahimahullah berkata, "Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.  Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”

Hasan al Bashri mengatakan, "Perbaiki apa yang tersisa,  agar kesalahan yang telah lalu diampuni. Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.”

Janganlah termasuk bagian dari manusia yang hanya meraih rasa lapar dan haus di bulan yang agung ini.

Jangan termasuk bagian dari orang yang celaka karena tak meraih ampunan-Nya di bulan yang penuh rahmat ini.

Rasulallah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya amalan-amalan itu (standar penilaiannya) pada penghujungnya." (HR. Bukhari)

قال ابن رجب رحمه الله تعالى: يا
عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa  telah mengisinya dengan baik, hendaklah menyempurnakannya. Dan siapa tidak mengisinya dengan baik, hendaklah ia mengakhirinya dengan yang  baik."

قال ابن الجوزي رحمه الله :
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع

(Sekali lagi) Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Jika kuda pacu sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba.
Maka jangan sampai anda kalah cerdas dari kuda, karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.
Jika anda tidak menyambut Ramadhan dengan baik, paling tidak melepasnya dengan baik."

وقال ابن تيمية رحمه الله:
العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Yang menjadi tolak ukur adalah kesempurnaan di akhir amalan, bukan kekurangan di awalnya."

وقال الحسن البصري رحمه الله: أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله...

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah. (Bisa jadi di hari terakhir Ramadhan)

Abu Bakr as-Shiddiq berdoa kepada Allah,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك

"Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu." (HR. Ibnu Abi Syaibah)

#RamadhanKareem

Friday, June 23, 2017

Elegi Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim
-
Hari 28
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

mari merenung sejenak,
berikut ini nasyid lama yang rasanya boleh kita maknai tiap liriknya
diingatkan oleh sebuah grup wasap :'
-

tertatih aku mengejar bulan
mengais sisa-sisa Ramadhan
terjatuh, terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
syawal t'lah menjelang
tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
amal ibadah bagi insan beriman

duhai sahabat pilihan Allah
di sini, dipertigapuluh terakhir
kita bertemu dalam renungan
satu jiwa satu hati dan satu iman

-Illahi Rabbi- Kekalkan tali ini
Rekatkan dalam dzikir pada-Mu
biarkan rindu kian bersemayam
karena kasih dan cinta-Mu

duhai sahabat pilihan Allah
di hari ke tujuh ba'da Ramadhan
hati masih sedih ditinggalkan
seluruh jiwa terasa sakit
tiada kawan penghibur
kecuali Allah semata

hanya satu tumpuhan harapan
jumpa Ramadhan dengan izin Tuhan
madrasah perjuangan dan kesabaran
menuju Ar Rayyan yang dijanjikan

SuaraPersaudaraan
(╥﹏╥)
-

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, Perbaiki yang tersisa,  maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu.
Manfaatkan hari yang masih, karena anda tidak tahu kapan meraih rahmat Allah yang bisa jadi di hari terakhir Ramadhan datangnya…

Mudik

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 27
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

"Baju sudah di packing, oleh-oleh sudah, apa lagi ya?" gumam seorang calon pemudik.
Kawan,
Ketika kita memikirkan apa-apa saja yang akan kita bawa untuk mudik, pastikan ada niat yang tulus dalam daftar tersebut.ㅤ
Ini hal yang tidak boleh ketinggalan dalam mudik kita kali ini. Hal yang merubah biaya dan ongkos, keletihan, kemacetan berjam-jam dan pengorbanan selama mudik menjadi pahala.

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan niatnya tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatkan dalam rangka birrul waalidain, menyenangkan hati orang tua.
Niatkan silaturrahim, menjaga hubungan dengan sanak saudara di kampung halaman.
Dengan demikian, setiap langkah dan setiap kilometer yang kita lewati akan diberkahi oleh Allah. InsyaaAllah.

Dan...
jangan lupa membawa doa-doa terbaik kita.
Diawali dengan doa keluar rumah, doa safar, doa naik kendaraan, lalu iringi perjalanan dan kemacetan dengan permohonan dan harapan yang dipanjatkan.
Dalam suatu hadits disebutkan, "Ada 3 doa yang pasti diijabah tanpa diragukan lagi: doa orangtua, doa musafir (orang yang sedang dalam perjalanan jauh) dan doa orang yang terdzalimi." (HR. Tirmidzi)

Terakhir...
Pastikan tidak ada yang tertinggal selama perjalanan mudik kita, khususnya shalat.
Salah satu yang mengiris hati ini adalah saat wajah itu pucat ketika menyadari kardus bawaannya tertinggal di bus, tapi justru tanpa ekspresi saat shalat subuhnya sengaja ia tinggalkan...

Bagaimana mungkin mudik kita diberkahi jika kita tidak mau sujud dan rukuk kepada Allah?
Bagaimana mungkin mudik kita bernilai amal shalih sedangkan kita tidak menyambut panggilan Allah?
Tidak ada alasan untuk meninggalkannya, semua sudah dimudahkan, mulai dari mengqashar, menjama', serta keringanan-keringan yang lain.

 Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri

-
Semoga siapa saja yang mudik diberikan kelancaran selama perjalan dan juga selamat sampai dengan tempat tujuan. Aamiin.

Epilog...
akan tiba saatnya nanti dimana kita akan mudik bersama,
ke tempat tujuan akhir usai singgah di dunia,
maka jangan lupakan juga perbekalan untuk menghadapinya..
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Thursday, June 22, 2017

Lailatul Qadr

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 26
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Dalam suatu hadits Riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.

Dari Ibn Umar ra: Bahwa ada beberapa orang dari sahabat Nabi saw yang diperlihatkan Lailatul Qadar dalam mimpi mereka pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah saw bersabda:

Aku melihat bahwa mimpi kalian jatuh pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).
Selain itu, disebutkan pula bahwa,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ:

خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ.

Dari Ubadah ibn Al-Shamit, dia berkata: Nabi saw keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang beradu mulut. Maka beliau bersabda:

Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang (waktu terjadinya) Lailatul Qadar namun fulan dan fulan beradu mulut sehingga (kepastian waktunya) diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga saja ini lebih baik untuk kalian, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan).
Mengenai hal ini, Riwayat lain menceritakan bahwa malaikat hendak memberitahu Rasulullah kapan Lailatul qadar, namun ada dua sahabat yang bertengkar, hingga malaikat itu pergi dan waktu Lailatul qadar tidak diketahui. Namun Rasulullah berdoa agar itu menjadi yang terbaik untuk kita, dan memberitahu kita bahwa lailatul qadar ada di malam ke 9, 7 dan 5 terakhir Ramadhan.

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala. Selain itu, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah yang menyebutkan “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhaan:4)

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya yang menyebutkan bahwa “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan."
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a, serta kebajikan lainnya sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan dapat diartikan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Allah Ta'ala juga memberitahukan keutamaan lainnya yang diantaranya berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah.

Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr:5) Maksudnya bahwa malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikitpun ada kejelekan di dalamnya sampai dengan terbit fajar.

Di malam itu, para malaikat, termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan lainnya)

Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Waallahu’alam.

Mari kita Renungkan...

Jika sosok sekaliber Nabi yang akan membuka pintu Surga pertama kali di hari kiamat masih mencari malam tersebut, lalu bagaimana dengan kita?

Jika Kekasih Allah dan seseorang yang telah diampuni seluruh kekhilafannya masih mencari malam lailatul qadr, lalu apakah kita pantas santai-santai saja?

Jika Seorang Nabi terbaik bangun untuk menghidupkan malam-malamnya, lalu kita membaca doa tidur?

Jika Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam- sibuk membaca Alquran, lalu orang seperti kita sibuk nongkrong di luar?

Lalu,
apakah kita justru meremehkan?
:(

Kawan,
Ingatlah bahwa inilah babak final bulan suci

Dan ingatlah,
kekalahan yang paling menyakitkan adalah kekalahan ketika sampai di FINAL...

Lantas,
apa yang setelah ini akan kita lakukan?

Semoga ALLAH senantiasa memberikan taufiq untuk kita semua. Aamiin.

Selamat berjuang!

Wednesday, June 21, 2017

Zakat Fitrah

Bismillahirrahmanirrahim.

自動代替テキストはありません。
-
Hari 25
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Zakat Fitri atau Fitrah merupakan salah satu santapan ruhiyah yang ditunaikan pada bulan Ramadhan. Zakat Fitrah ini merupakan zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya dan hukumnya wajib.

Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

أي الزكاة التي تجب بالفطر من رمضان. وهي واجبة على كل فرد من المسلمين، صغير أو كبير، ذكر أو أنثى، حر أو عبد

Yaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

تجب على الحر المسلم، المالك لمقدار صاع، يزيد عن قوته وقوت عياله، يوما وليلة. وتجب عليه، عن نفسه، وعمن تلزمه نفقته، كزوجته، وأبنائه، وخدمه الذين يتولى أمورهم، ويقوم بالانفاق عليهم.

Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha’ makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

Diantara hikmah yang didapatkan dari menunaikan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

Dari Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليهوسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةًلِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”
(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakanbahwa sanad hadits inihasan)

Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupikesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujudsahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada.  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm.377)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatannya yang sia-sia dan perkataannya tidak baik (keji), serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shala ied, maka terhitung zakat fitrah, sedangkan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu tak lebih dari sedekah biasa.” (Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1420 dan Shahih Ibnu Majah, no. 1480)

Sayyid Sabiq berkata:

والفقراء هم أولى الاصناف بها

Orang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri.  (Fiqhus Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia,  perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan:  hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618)

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok:
  1. Waktu Wajib, yaitu ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.
  2. Waktu Jawaz, yaitu sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
  3. Waktu Fadhilah, yaitu setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.
  4. Waktu makruh, yaitu setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
  5. Waktu haram, yaitu setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram.
Sedangkan dari zakat yang dikeluarkan setelah tanggal 1 Syawwal adalah qodho’.

Jadi,
hari ini sudah semakin mendekati penghujung bulan Ramadhan
maka sudahkan zakat fitrah kita tunaikan?

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Monday, June 19, 2017

Hidupkan Malammu di Penghujung Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 24
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H



Ramadhan ternyata berjalan begitu cepat,
tanpa terasa kita sudah berada di hari keduapuluh empat…

Beberapa waktu lalu sempat diingatkan,
saat ini kita tengah memasuki waktu dimana kita harus merenungkan,
bagaimana hari-hari di bulan Ramadhan yang telah kita lewatkan?

Ramadhan sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita, dan kita tak bisa menahan laju perginya.

Satu yang mungkin bisa kita lakukan ialah dengan memaksimalkan waktu yang tersisa…

Ramadhan masih belum habis, kawan. Mari maksimalkan untuk beribadah serta memohon ampunan. Jangan segan juga untuk bersedekah serta menebar kebaikan.

Jangan sampai diri kita ini 'terperdaya', sehingga malah membuat kita lalai pada penghujung Ramadhan yang tersisa.

Bukankah kita sudah mengetahui sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang menyatakan bahwa amal-amal itu dilihat dari akhir penutupnya?

Bukankah kita sudah mengetahui sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa 'yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan penutupnya, bukan kekurangan yang terjadi di permulaannya'?

Ya,
Sebentar lagi Ramadhan akan meninggalkan kita…

Ibnu Rajab berkata, "Wahai hamba Allah, bulan Ramadhan telah bersiap-siap untuk berangkat." Tidak ada lagi yang tersisa kecuali saat-saat yang singkat.

Barangsiapa yang telah melakukan kebaikan selama ini, hendaklah ia menyempurnakannya. Barangsiapa yang justru malah berbuat sebaliknya, hendaklah ia memperbaikinya dalam waktu yang masih tersisa. Karena ingatlah bahwa amalan itu akan dinilai dari akhirnya.

Manfaatkanlah malam-malam dan hari-hari Ramadhan yang masih tersisa, serta titipkanlah amalan shalih yang dapat memberi kesaksian kepadamu nantinya dihadapan-Nya, Dzat Yang Menguasai Segalanya.

Lepaskanlah kepergian bulan Ramadhan dengan ucapan salam yang terbaik. Salam dari Ar Rahman (Allah) pada setiap zaman atas sebaik-baik bulan yang hendak berlalu. Salam atas bulan dimana puasa dilakukan. Sungguh, ia adalah bulan yang penuh rasa dengan aman dari Ar Rahman.

Apabila hari-hari berlalu tak terasakan. Maka sungguh, kesedihan hati untuk tak pernah hilang.

Ibnu Rajab berkata pula, "Dimana kepedihan (dan kesedihan) orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang hari Ramadhan? Dimanakah duka orang-orang yang shalat pada waktu malam?"

Jika demikian keadaan orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan selama Ramadhan, bagaimanakah keadaan orang-orang yang telah merugi pada siang dan malam di bulan Ramadhan?

Apakah manfaat tangisan mereka yang melalaikan bulan Ramadhan ini, sementara musibah yang akan menimpanya demikian besar?

Betapa banyak nasihat telah diberikan kepada orang yang malang, namun tidak juga memberikan manfaat untuknya.
Betapa banyak ia telah diajak untuk melakukan perbaikan, namun ia tidak juga menyambutnya.
Betapa sering ia menyaksikan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, namun ia sendiri malah semakin jauh dari-Nya.

Alangkah seringnya berlalu di hadapannya, rombongan orang-orang yang menuju kepada-Nya sedangkan dia hanya duduk berpangku tangan seraya malas beribadah.

Hingga setelah waktu menyempit dan kemurkaan-Nya telah membayang, maka iapun menyesali kelalaiannya pada saat penyesalan tidak lagi bermanfaat dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan telah menghilang.

Beliau kembali berkata pula, "Wahai bulan Ramadhan.. berikanlah belas kasihmu, sementara air mata para pencinta mengalir dengan deras."

Hati mereka (gundah) akibat kepedihan perpisahan terbuai.
Semoga detik-detik perpisahan akan memadamkan api kerinduan yang membara.
Semoga saat-saat taubat akan melengkapi kekurangan puasa yang dilakukan.
Semoga pula orang-orang yang telah ketinggalan segera menyusul dan berjalan bersama.
Semoga para tawanan dosa segera dilepaskan, dan semoga orang (Islam) yang telah dinyatakan masuk Neraka segera dibebaskan.

Allahumma aamiin.

Jadi,
Ramadhan masih belum usai kawan…
Oleh karenanya, yuk sama-sama saling mengingatkan dan kita maksimalkan hari-hari di penghujung Ramadhan.

Maka itu,
selagi kita masih mampu
selagi kita masih diberi waktu
jangan biarkan diri ini justru menunda melulu
karena kita kan ngga ada yang tau,
sampai sejauh mana perjalanan kita di dunia yang fana lagi semu
jika menunda kebaikan, iya kalau memang kita masih bisa bertemu hari baru
lah, kalau sebaliknya? mana ada yang tau? :(

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

-
BerbagaiSumber

Sunday, June 18, 2017

Manfaatkan Sisa Waktu yang Kau Miliki

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 23
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rohimahulloh berkata:

"Manfaatkanlah  -semoga Alloh merahmatimu- hidupmu yang berharga ini, dan jagalah waktu-waktumu yang bernilai tinggi.

Ketahuilah bahwa jangka hidupmu terbatas dan napas-napasmu terhitung. Sebab, dengan setiap napas berkurang sebagian darimu.

Umur itu pendek, dan yang tersisa itu sedikit.

Setiap bagian dari umur adalah permata yang sangat berharga, yang tidak ada bandingannya dan tidak ada penggantinya.

Karena dengan kehidupan  yang singkat ini akan didapat keabadian dalam kenikmatan ataukah (keabadian) dalam adzab yang menyakitkan.

Apabila engkau bandingkan kehidupan ini dengan keabadian kelak, engkau akan tahu bahwa setiap hembusan napas sebanding dengan waktu yang lebih panjang dari 1000 x 1000 x 1000 tahun dalam kenikmatan yang tidak terbayangkan ataukah sebaliknya (dalam siksaan yang tak terperikan). Dan sesuatu yang keadaannya seperti ini tentunya tidak ada nilainya sama sekali.

Oleh karena itu, jangan engkau sia-siakan umurmu yang berharga ini tanpa amalan, dan jangan sampai engkau hilangkan tanpa dapat ganti.

Bersungguh-sungguhlah agar tidak kosong satu napas pun dari napas-napasmu kecuali dalam amalan ketaatan atau ibadah yang kamu mendekatkan diri (kepada Allah) dengannya.

Sesungguhnya engkau jika memiliki sebuah permata dari permata-permata dunia tentu apabila hilang akan menyedihkanmu. Lalu bagaimana bisa engkau sia-siakan waktumu !?

Bagaimana pula engkau tidak bersedih atas umurmu yang hilang tanpa dapat gantinya ?!"

📝 Diterjemahkan oleh Abu Zakaria Irham Al Jawiy -Waffaqohulloh-

Bismillah..
Allah memberikan waktu kepada manusia 24 jam. Orang yang hafal Al Qu'ran-pun diberikan waktu 24 jam. Orang yang kaya akan materi juga diberikan waktu 24 jam. Semua manusia, tanpa terkecuali-pun diberikan waktu yang sama yaitu 24 jam.

Pertanyaannya, dipergunakan untuk apa waktu selama 24 jam yang diberikan kepada kita itu?

Apakah untuk hal-hal yang bermanfaat atau justru untuk hal yang sia-sia? :(

Allah telah menciptakan malam agar manusia beristirahat dan siang untuk kembali beraktivitas. Atas Kuasa dan Kebesaran-Nya, semua itu telah DIA atur dengan sempurna. Hanya saja, sekali lagi, bagaimana dengan manusianya? :'

Waktu di dunia cepat sekali berlalu, dan itu semua tidak dapat kembali kita ulangi. Maka apabila diri kita ini salah jalan, yang ada nantinya justru penyesalan.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi)

Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengabdi kepada-Nya. Oleh karenanya, manfaatkanlah sisa waktu yang masih tersedia untuk kita dengan sebaik-baiknya.

"Perbaikilah sisa-sisa harimu, maka Allah akan mengampuni masa lalumu. Manfaatkanlah sebaik-baiknya, karena engkau tidak tahu kapan engkau 'kan berpulang ke rahmatullah..." (Hasan Al Bashri)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Al Hakim)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Letakkan Dunia dalam Genggaman

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 22
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H
♪ Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada sering dirisaukan. Nikmat yang dikejar baru 'kan terasa, bila hilang. Apa yang diburu, timbul rasa jemu bila sudah di dalam genggaman…

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut,

عن أبى هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: من طلب الدنيا أضر بالآخرة ، ومن طلب الآخرة أضر بالدنيا .فأضروا بالفاني للباقى.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang mengejar dunia maka ia telah merugikan akhiratnya. Dan barangsiapa yang mengejar akhirat maka ia telah merugikan dunianya. Maka tanggunglah kerugian di dunia yang fana demi keuntungan di akhirat yang kekal.' (HR. Ibnu Abi 'Aashim dalam az-Zuhd, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Ash-Shahihah no. 3287)

Apabila diperhatikan lebih lanjut, hadits tersebut mengingatkan kita agar senantiasa menjadikan keselamatan akhirat sebagai keinginan dan cita-cita kita meskipun harus ada lainnya yang kita korbankan, dalam hal ini kaitannya dengan perkara-perkara dunia. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita yakini adalah bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang memilih keselamatan akhirat serta bersungguh-sungguh dalam mengikuti ajaran-Nya juga Rasul-Nya. 

Apabila keselamatan akhirat menjadi pilihan, maka tegarlah di atas jalan kebenaran. Jangan lemah karena celaaan dan jangan mundur karena cobaan (!)

Apabila keridhaan Allah yang dituju, maka jangan pernah bosan untuk menuntut ilmu terlebih dahulu sehingga segala macam ucapan dan amalan kita sesuai dengan adab yang perlu kita tau.

Apabila hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya nafas sebagai bekal awal ketika hendak menjalani hidup ini, semoga hati kitapun senantiasa terjaga untuk tidak meletakkan dunia di dalamnya, melainkan meletakkannya (dunia) dalam genggaman tangan saja.

Meskipun dunia berada dalam genggaman, bukan berarti dunia juga tidak diutamakan. Porsi paling tepat adalah bagaimana kita dapat sama-sama menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan perbekalan menuju akhirat yang sudah harus kita persiapkan.

Meskipun derajat kita begitu tinggi di dunia ini, bukan berarti derajat kita pula yang tertinggi di hadapan Illahi Rabbi. Selama diri ini setia menghamba pada DIA, Dzat Yang Maha Segalanya, maka kitapun harus yakin pula bahwa kita takkan lama berada di dunia karena ke tanahlah kita pada akhirnya.
♪ Tuhan leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku,
kerana di situ tidakku mampu,
mengukur dua cinta
hanya cinta-Mu kuharap tumbuh, dibaja dipangkal dunia yang kuburu...
- The Zikr
(╥﹏╥)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Saturday, June 17, 2017

Kematian Nantinya Akan Mendatangi Kita

Bismillahirrahmanirrahim.

 
-
Hari 21
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Tak satu pun orang bisa menjamin dirinya
Selamat di saat ajal memanggilnya
Setitik kesalahan semua akan diperhitungkan
Semisal buih dosa telah kita kerjakan
Kehidupan dan kematian merupakan ujian untuk selalu memberikan yang terbaik kepada Allah. Hidup di dunia bukan merupakan kenikmatan hakiki, karena kenikmatan yang sesungguhnya itu setelah kematian.

"Dialah yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian yang paling baik amalnya." (QS. Al Mulk : 2)

Lantas, kita ingin mati seperti apa?
bekal apa saja yang nantinya akan kita bawa?

Kawan, kematian adalah sebuah keniscayaan. Tiap makhluk yang bernyawa pasti akan menjumpainya. Tak ada seorangpun yang mengetahui kapan kematian akan mendatanginya. Tak ada seorangpun juga yang dapat lari daripadanya.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al Anbiya : 35)

Setiap mata hati tangan kaki akan jadi saksi
Tiada dusta diri yang tak terhakimi
Duka sepi air mata tak berarti lagi
Akan terlambat segala sesal di waktu nanti
Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang justru melupakannya. Kematian yang sebenarnya nyata adanya justru dilupakan begitu saja. Bahkan tak sedikit pula diantara manusia yang terlena oleh kenikmatan dunia yang fana. Astaghfirullah :'

Datangnya kematian hanya diketahui oleh DIA, Dzat Yang Maha Pencipta. Datangnya kematian tidak mempedulikan siap atau tidaknya manusia. Oleh karenanya, kira-kira datangnya kematian nantinya akan kita beri sambutan seperti apa?

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Datangnya kematian tidak menunggu sehingga kamu akan menjadi lebih baik. Jadilah kamu orang baik dan tunggulah kematian"

Dalam suatu sumber dikatakan bahwa Hasan Al Basri pernah mengatakan bahwa, "Aku tahu kematian itu sudah menungguku. Karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah."

Pada kesempatan ini ingin mengingatkan, khususnya bagi diri ini yang dipenuhi oleh dosa dan kesalahan. Janganlah diri kita takut akan datangnya kematian. Tetapi jadikan kematian sebagai motivasi bagi diri untuk senantiasa berbuat kebaikan. Karena kehidupan yang kita rasakan saat ini merupakan suatu hal yang dirindukan. Dirindukan oleh mereka yang terlebih dahulu menjumpai kematian dengan penyesalan :(

Allah mohon jangan hukum kami dari dosa
Ampuni kami karena tak mungkin kami sanggup menahan pedih
Setitik Rahmat yang Kau beri lebih berarti dari segalanya
Setitik ampunanMu 'kan menghapus dosa kami
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Friday, June 16, 2017

Al Qur'an Kelak Akan Menjadi Penyelamat Kita

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 20
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Lupa itu hanya alasan belaka, tapi kalau ngga ingat yaaa namanya juga manusia 
-
Lembaran Al-Qur'an masih bertumpuk, lebih bertumpuk lagi dosa-dosa yang ada, namun Ramadhan bersisa lagi dan perlahan pergi
Rindu jauh dari kata terpuaskan, jumpa belum lama, namun perpisahan sudah di depan mata, entah kapan lagi berjumpa
Saat dia datang kita menganggapnya masih lama pergi, di pertengahannya kita melalaikan, di akhirnya tersisa penyesalan
...
(Felix Siauw)
-
Marhaban ya Ramadhan, bulan yang penuh barakah dan waktu yang mulia untuk melakukan kebaikan, ibadah dan ketaatan. Orang mukmin yang benar dengan keimanannya, semua bulan baginya adalah waktu untuk beribadah, dan seluruh umurnya adalah waktu melakukan ketaatan. 

Pada bulan Ramadhan semangatnya berlipat ganda untuk melakukan kebaikan dan lebih bersemangat untuk melakukan ibadah, dan dia menghadap (sepenuh hati) kepada Rabb-Nya. Maka segerakan menunaikan amal-amal shalih di bulan yang agung ini dan mengisinya dengan apa yang Allah ridhai dan mendatangkan kebahagiaan saat bertemu dengan-Nya. 

Hendaknya seorang hamba meluruskan akhlaknya di bulan ramadhan agar meraih derajat keimanan yang tinggi dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala yang direalisasikan dengan ibadah yang terbaik. Paling tidak ada beberapa perkara yang harus diseriusi orang-orang beriman didalam menjalankan ibadah puasa untuk memperoleh mahkota takwa, satu diantaranya adalah Tilawah Al-Qur’an.

Dengan membaca, mengkaji, dan mengamalkan Al-Qur’an maka akan menumbuhkan akhlak yang mulia. Ibnu Abbas r.a berkata:

‏ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺟْﻮَﺩَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺟْﻮَﺩُ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﻠْﻘَﺎﻩُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻠْﻘَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﻴُﺪَﺍﺭِﺳُﻪُ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥَ، ﻓَﻠَﺮَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺟْﻮَﺩُ ﺑِﺎﻟﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ ﺍﻟﻤُﺮْﺳَﻠَﺔِ ‏ 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril, dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan kemudian mengajarkannya Al-Qur’an. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia menjadi manusia yang paling pemurah dengan kebaikan seperti angina yang berhembus” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Shahih Bukhari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Sudah tidak diragukan lagi, bahwasannya bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur'an. Dalam bulan ini banyak kaum muslimin atau muslimah yang giat dan rajin membaca Al Qur'an bahkan sampai menghatamkannya. Satu hal yang tidak kalah pentingnya, coba kita tanya kepada diri kita, apa tujuan kita membaca Al Qur'an?

Tujuan membaca Al Qur'an bisa terangkum dalam beberapa point betikut ini, diantaranya:
  • Mendapatkan pahala
  • Berinteraksi dengan Allah Ta'ala
  • Ingin mendapatkan kesembuhan
  • Ingin mendapatkan ilmu dari ayat yang kita baca
  • Ingin mengamalkan isi Al Qur'an
(Mafàtìhu tadabburil Quràn wa Najàhi fil hayàti, halaman 26, karya Dr. Kholid bin Abdul Karìm al Laahim)

-
Kawan, membaca Al Qur'an ayat demi ayat untuk mendapat pahala merupakan sesuatu yang dianjurkan. Namun, jangan sampai aqidah, ibadah, muamalah sikap dan akhlak kita jauh dari makna atau tuntunan ayat yang kita baca.

Hendaknya kita ingat bahwa Al Qur'an bisa jadi pembela kita di hari kiamat sebagaimana Al Qur'an bisa jadi bumerang bagi kita.

Jadi, seberapa banyak ayat dari surat cinta-Nya yang kita baca dan kita amalkan sampai dengan hari ini? #ntms

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Thursday, June 15, 2017

Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 19
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang orang yang tawadhu'karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)

Harta kita tidak akan berkurang lantaran bebuat sedekah. Apabila dianggap berkurang dari sisi nominal, maka sungguh harta tersebut bertambah dari sisi lain, seperti menjadi berkah, terhindar dari petaka dan bencana, terbebas dari berbagai keburukan, bahkan menjadi bertambahnya harta yang di infakkan tersebut, serta membukakan pintu rizki bagi pemiliknya.

Apakah sebanding berkurangnya harta tersebut bila disejajarkan aneka keberkahan dan selamat dari berbagai macam keburukan?

Sedekah yang dilakukan benar-benar karena mencari karunia Allah dan sesuai porsinya tidak akan mengurangi harta, hal ini sesuai apa yang dinyatakan Nabi صلى الله عليه وسلم, demikian pula kita saksikan banyak kejadian yang menjadi bukti.

Maka bersedekahlah, terlebih pada bulan yang mulia ini.

Ibnu Abbas -radhiallahu 'anhuma- mengatakan, "Dahulu Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Bulan Ramadhan... sungguh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika itu lebih dermawan dengan hartanya melebihi angin yang berhembus lepas." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedekah itu tidak hanya dilakukan dengan materi ataupun harta, karena memberi makanan atau minuman kepada orang yang berpuasa untuk mereka berbuka juga menjadi salah satu cara sedekah yang bisa kita lakukan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits yang artinya, "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka baginya pahala orang yang puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun." (HR. At Tirmidzi)

"Dan suntiklah semangat sedekah Anda di bulan ini dengan mengingat bahwa nanti di hari kiamat, setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya." (HR. Ahmad)

Satu hal lainnya yang perlu diingat adalah, jangan sekali-kali diri kita justru menunjukkan dengan bangga bahwa kita telah bersedekah sebanyak sekian dan sekian. Karena perlu diingat bahwa diantara tujuh golongan yang mendapat naungan istimewa dari Allah Ta'ala adalah "...Orang yang melakukan sedekah, lalu dia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Wednesday, June 14, 2017

Sebuah Buku: "Di Atas Titian Jahannam"

Bismillahirrahmanirrahim.

#Resensi bulan Juni

Image result for di atas titian jahannam

Judul Asli : Kaita Tanjû min Kirabish Shirâth 
Judul Terjemahan : Di Atas Titian Jahannam
 Penulis : Dr. Muhammad bin Ibrahim An Nuaim
 Penerbit : AQWAM 
ISBN : 978-979-3653-40-2
 Cetakan ke- : IV
 Tahun Terbit : 2012
 Tebal : 216 Halaman 
Resensor : L. Yuniasari

***
Degup jantung kencang berdetak, berpacu dengan perasaan gelisah nan mencekam. Sejurus, lolongan pilu terjerit dari mereka yang terjerembab kobaran api berjolak dari bawah. Laungan silu menyayat dari mereka yang terkoyak jejaring runcing di kiri-kanannya. Desir goncang hati melingkupi mereka yang tertatih-tatih dan hampir terpeleset. Namun, ada juga kilatan haru bahagia karena selamat melewati titian tersebut.
Buku ini mengingatkan kita agar tidak salah tujuan ketika hidup di dunia. Buku ini juga mengingatkan bahwa boleh jadi kita ini adalah satu dari sekin penghuni neraka, sekalipun mungkin lamanya disana yang akan berbeba. Innalillah...
Itulah shirath. Sebuah titian licin sekaligus tajam di atas neraka Jahannam, yang ujungnya adalah surga. Titian yang menentukan nasib akhir seseorang ke surga, ataukah ke neraka. Saat itu, hanya amal yang mampu menyelamatkan kita. Lalu, amal apa saja yang telah kita persiapkan agar selamat menghadapi ujian besar ini?
Membahas shirath berarti mengurai sebuah peristiwa dahsyat yang menakutkan. Namun, merasa takut dan waspada -agar kelak meraih surga di ujung titian- menjadi lebih baik daripada terlena di dunia hingga nantinya justru terjerembab ke dalam neraka. Na'udzubillah.

Begitu mengerikannya kondisi di titian sekaligus penyaring akhir untuk menentukan siapa saja yang termasuk dalam golongan penghuni surga, bahkan ada diantaranya yang tercabik serta terkoyak tubuhnya hingga kemudian terhempas dari titian ini ke dalam neraka. Lantas, posisi kita dimana?

Buku ini terdiri dari empat bab yang secara berurutan membahas mengenai Pengertian Shirath dan Ujiannya termasuk di dalamnya menggambarkan bagaimana keadaan manusia di atas shirath sampai dengan bentuk jatuhnya manusia dari shirath, Ujian di atas Shirath mulai dari jilatan api neraka dan azab serta amal perbuatan yang dapat menyelamatkan dari api neraka termasuk amalan-amalan alternatif, berikutnya Ujian Gelapnya Shirath yang menggambarkan kegelapan hakiki di atasnya serta amal perbuatan yang dapat memberikan cahaya di atasnya, serta Dosa-Dosa yang Menjerumuskan ke Neraka mulai dari segala perbuatan yang kita ketahui betul bahwa itu merupakan perbuatan dosa sampai dengan hal-hal kecil yang mungkin kita remehkan.

Ketika membaca buku ini, kita seolah digambarkan bagaimana situasi dan kondisi yang mungkin nantinya akan kita alami.

Secara keseluruhan dapat saya katakan bahwa buku yang terkesan menakutkan ini menjadi salah satu jenis 'santapan' yang sebenarnya perlu kita baca agar kita ingat bahwa diri kita ini butuh persiapan dan perbekalan untuk menghadapi datangnya hari kemudian.

Semoga diri kita ini termasuk dalam golongan hamba yang memang pantas ditempatkan di surga-Nya, Aamiin :'

I'tikaf

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 18
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Secara Bahasa (Lughah), I'tikaf merupakan Al Mulaazim yang artinya  berdiam, membiasakan, menetapi (Lihat Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/244. Mawqi’ Ruh Al Islam) 

يقال عكف على الشيء : إذا لازمه 

Dikatakan, ‘akafa ‘ala Asy Syai’  (Dia menetap di atas sesuatu), artinya dia selalu bersamanya. (Ibid)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

الاعتكاف لزوم الشئ وحبس النفس عليه، خيرا كان أم شرا 

I’tikaf adalah menetapi sesuatu dan menutup  diri, dalam hal baik atau buruk . (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Sedangkan secara Istilah (Syara’),

والاعتكاف في الشرع : ملازمة طاعة مخصوصة على شرط مخصوص 

Secara syara’: menetap dalam rangka taat secara khusus dengan syarat khusus pula. (Fathl Qadir, 1/245) 

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: 

والمقصود به هنا لزوم المسجد والاقامة فيه بنية التقرب إلى الله عزوجل. 

Yang dimaksud I’tikaf di sini adalah menetapi masjid dan menegakkan shalat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Perihal mengenai i'tikaf disebutkan dalam Al Qur'an dan Al Hadits,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ 

Janganlah kalian mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843,  Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijma’ tentang syariat I’tikaf:

وقد أجمع العلماء على أنه مشروع، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما. 

Ulama telah ijma’ bahwa I’tikaf adalah disyariatkan, Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Pada dasarnya memang tidak ada riwayat shahih berkaitan dengan keutamaan i'tikaf secara khusus. Akan tetapi, adanya riwayat bahwa Nabi, Istrinya dan para sahabat senantiasa melakukan i'tikaf setiap bulan Ramadhan secara tidak langsung menunjukkan keutamaan i'tikaf. Karena rasanya tidak mungkin mereka merutinkan amalan yang dianggap "biasa saja".

Apabila teringat diri yang malas beribadah, tapi mengharap lebih di bulan berkah, ingatlah doa Malaikat Jibril yang mustajabah, dan diaminkan oleh Rasul yang mulia,

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi sampai Ramadhan berakhir, ia belum juga diampuni.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahih Al-Adabil Mufrod: 501]

Terutama di bagian akhir yang tersisa, sepuluh malam yang paling indah, ada malam yang penuh berkah, raihlah dengan sholat malam berjama’ah,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa sholat malam ketika lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Muttafaqun 'alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Sang panutan pun memberikan teladan, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang; telah dianugerahi ampunan, dari Allah yang Maha Penyayang,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” [Muttafaqun 'alaih dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Inilah petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di sepuluh hari yang tersisa, beliau beri’tikaf agar lebih fokus dan lebih giat dalam beribadah kepada Allah ta’ala, memutuskan diri dengan aktifitas dunia, dan mengurangi interaksi dengan manusia,

“Makna i’tikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (beribadah secara totalitas) kepada Al-Khaliq.” [Lathooiful Ma’aarif: 191]

Disadari ataupun tidak, hal ini terlihat agak nerbeda dengan apa yang secara tidak langsung telah menjadi tradisi kita menjelang hari raya.

Nah, oleh karenanya, selagi kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya bulan yang mulia, maka alangkah baiknya kita-pun bersiap untuk melaksanakannya.

Satu catatan yang ingin ditekankan adalah bahwa,
I'tikaf ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada-Nya, terlebih di bulan yang mulia.

I'tikaf bukan justru menjadi momen untuk ngobrol ngalor ngidul, apalagi cuma numpang tidur :(
#ntms

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya

Monday, June 12, 2017

Shalat Tarawih

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 17
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H
Selamat malam, bagaimana kabar Ramadhannya?
Pada kesempatan kali ini, rasanya ingin membahas sedikit seputar shalat malam spesial yang hanya ada di bulan Ramadhan 
Dalam suatu sumber disebutkan,

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Manfaatkan baik-baik bulan Ramadhan, takut tahun yang akan datang kita meninggal dunia tidak mendapati lagi Ramadhan. Maka rajinlah solat Tarawih, pergilah ke masjid dengan penuh adab, perbanyakan selawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم dan perbanyakan baca Al-Qur'an." [Sayyidil Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Shahab]
-

Shalat Tarawih adalah,

قيام الليل جماعة في رمضان

“Qiyaamullail (shalat malam) secara berjama’ah di bulan Ramadhan." [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 14/210]

Adapun dilakukan secara berjama’ah di masjid maka itu lebih afdhal, dan boleh dikerjakan di rumah namun kurang pahalanya, kecuali bagi wanita lebih afdhal di rumah.... (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 7/199 no. 6914).

Shalat tarawih termasuk ibadah sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan), berdasarkan kesepakatan (ijma’) ulama, tidak ada perbedaan pendapat. (Lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 6/286 dan Al-Mughni, 2/601, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 316)

Akan tetapi, sekalipun merupakan ibadah sunnah, keutamaan di balik shalat tarawih sangat besar,
Diantaranya tersebut dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang artinya,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Dalam suatu sumber disebutkan bahwa keutamaan shalat tarawih hanya akan didapatkan dengan memenuhi empat syarat, dua syarat terdapat dalam hadits yang mulia ini dan dua syarat terdapat dalam hadits yang lain:
  1. Berdasarkan iman, yaitu iman kepada Allah dan semua yang Allah wajibkan untuk diimani, termasuk mengimani bahwa sholat tarawih termasuk sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
  2. Mengharapkan pahala, yaitu hanya mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, inilah hakikat keikhlasan.
  3. Meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam melakukannya. Berdasarkan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits yang lain,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

    “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
  4. Menjauhi dan taubat dari dosa besar, karena ini syarat mendapatkan ampunan dengan sebab amalan shalih.
-
Jadi, seberapa banyak jum'ah shaf dalam shalat tarawih di sekitar kalian? :)
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Makan Sahur

Bismillahirrahmanirrahim.

 
-
Hari 16
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

Makan sahur artinya,

كل طعامٍ أو شرابٍ يَتَغَذَّى به آخر الليل في السحر من أراد الصيام

“Setiap makanan dan minuman yang dimakan oleh orang yang hendak berpuasa di akhir malam, di waktu sahur.” (Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247)

Makan sahur hukumnya sunnah, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah (Lihat Fathul Baari, 4/139) Karena itu, makan sahur tidak mempengaruhi sah atau tidaknya puasa.

Apabila seseorang berpuasa tanpa makan sahur maka puasanya sah, bahkan tetap wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan walau tidak sempat makan sahur. Dan tidak ada dosa baginya apabila tidak makan sahur dengan sengaja, namun ia tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan sahur yang melimpah.

Waktu sahur adalah sepertiga malam yang terakhir sampai terbit fajar (Lihat Lisaanul Arab, 4/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247).

Disebut makan sahur karena dilakukan di waktu sahur, dan yang lebih afdhal dilakukan di akhir waktu sahur. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” (HR. Ibnu Adi dan Ad Dailami)

Tabi’in yang Mulia ‘Amr bin Maimun rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهَمْ سُحُورًا

“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” (HR. Al-Baihaqi)

Akhir waktu sahur adalah mendekati waktu Shubuh seukuran membaca 50 ayat, dan itulah waktu terbaik untuk makan sahur. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kemudian beliau bangkit untuk sholat Shubuh.” Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa jarak antara adzan dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) berkata: “Seukuran membaca 50 ayat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

“Seukuran 50 ayat adalah yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, tidak dibaca cepat dan tidak pula lambat.” (Fathul Baari, 4/138)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

خمسون آية: من عشر دقائق إلى ربع الساعة إذا قرأ الإنسان قراءة مرتلة أو دون ذلك وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر

“Seukuran membaca 50 ayat adalah sekitar 10 sampai 15 menit, apabila seseorang membaca dengan perlahan-lahan atau sedikit lambat. Dan ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu’alaihi wa sallam benar-benar mengakhirkan waktu makan sahur dan bahwa beliau bersegera untuk sholat Shubuh dan tidak terlambat.” (Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285)
-

[BerbagaiSumber]

Sunday, June 11, 2017

Karena Kita Butuh ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 15
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H

(Ketika kehilangan jaringan semalaman)

KITA butuh Allah
-
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات : ٥٦)

Artinya: "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat : 56)

Faidah dari Ayat ini :
  1. Kewajiban untuk mengesakan Allah dalam ibadah atas semua jin dan manusia.
  2. Penjelasan tentang hikmah penciptaan jin dan manusia.
  3. Allah sang Pencipta adalah zat yang satu-satunya berhak untuk diibadahi. Adapun selain Allah tidak berhak, karena tidak menciptakan apapun. Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap penyembah berhala dan semacam mereka.
  4. Penjelasan bahwa Allah tidak butuh terhadap makhluk-Nya dan makhluk sangat butuh kepada-Nya. Karena Allah adalah yang menciptakan makhluk, sedangkan makhluk diciptakan.
  5. Penetapan tentang bijaksananya perbuatan Allah subhanahu wa ta'aala.
-
kita ini butuh Allah,
kita butuh pertolongan-Nya,
kita butuh perhatian-Nya,
kita butuh kasih sayang-Nya,
dan benar.. kita butuh DIA
sedangkan ketika seseorang berhenti menunaikan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang hamba, maka Allah masih mempunyai hamba lain-Nya yang boleh jadi lebih taat dari diri orang itu
Oleh karenanya..
tanpa Allah, kita bukanlah apa-apa
tanpa Allah, kita bukanlah siapa-siapa
tanpa Allah, kita tidak punya apa-apa yang boleh jadi menjadi kebanggaan dalam diri kita..
-
Pernahkah kita merasa bahwa kita ini seperti debt collector yang kejam? Kita datang hanya untuk memenuhi tugas kita saja.

Banyak sekali orang yang shalat, tetapi hanya ingin menunaikan kewajiban saja, agar dicap sebagai orang muslim. Tidak ada kesadaran bahwa sebenarnya, kitalah yang butuh shalat itu. Puasa kita, zakat kita, semua itu adalah untuk diri kita sendiri.

Allah tidak butuh ibadah kita, Allah nggak butuh buat disembah. Tanpa kita sembah dan tanpa ibadah kita, Allah tetap Agung.

Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". (QS. Fatir : 15)

Selain itu, Allah SWT juga berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh". (QS. Adh Dhāriyāt : 56-58)

Melalui dua firman Allah tersebut, kita bisa tahu bahwa sebenarnya Allah tidak butuh untuk disembah ataupun diibadahi, tetapi kitalah yang membutuhkan semua itu.

Rasulullah bersabda, Allah SWT berfirman, "Wahai hambaKu, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaanKu". (HR. Muslim)

Maka dari itu, janganlah kita merasa sombong dengan shalat kita, ibadah kita, sedekah kita. Bacalah istighfar, mohon ampunlah kepada Allah karena telah menganggap Allah lah yang membutuhkan kita.

Dalam surah Al Isrā' ayat 7 disebutkan bahwa "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai."

(Sekali lagi)

...
Oleh karenanya..
tanpa Allah, kita bukanlah apa-apa
tanpa Allah, kita bukanlah siapa-siapa
tanpa Allah, kita tidak punya apa-apa yang boleh jadi menjadi kebanggaan dalam diri kita
Dan tanpa kita, DIA tetap menjadi Dzat Yang Begitu Luar Biasa
Ahh, kita ini memang bukan apa-apa...

#ntms (╥﹏╥)

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Referensi: Sebuah grup dan sebuah channel tele

Friday, June 9, 2017

Bersaing dalam Kebaikan

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 14
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H
PERSAINGAN
-

Hasan Al Bashri rahimahullah, Seorang ulama besar yang ketakwaan beliau dianggap oleh beberapa pakar sangat mirip dengan sahabat Nabi SAW pernah bertutur:

"Barangsiapa yang berusaha menyaingi agamamu, maka berkompetisilah dan kalahkan dia, dan barangsiapa yang berusaha menyaingi duniamu, maka biarkanlah dia dengan dunia." (Adabul Hasan Al Bashri : 68)

Saudaraku, persaingan yang sehat itu dalam kebajikan.

ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرٰتِ 

"…Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan." (QS. Al Baqarah : 148)

Ketertinggalan seseorang dalam kehidupannya ialah tertinggalnya ia dalam memenuhi panggilan kebaikan. Sesungguhnya, berlomba-lomba dalam sebuah kebaikan merupakan perilaku yang sangat dianjurkan.

Seperti apapun perkembangan zaman, seharusnya bisa semakin membuat seseorang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, dalam hal ini, peranan iman sangat diperlukan untuk menghadapi segala gejolak kehidupan.

Tidak ada manusia yang hidup tanpa persoalan, tetapi dengan persoalan tersebut bagaimana manusia dapat meningkatkan potensi kebaikannya yang nantinya dapat meningkatkan keimanan dalam dirinya.

Kebiasaan kita untuk saling berlomba, misalnya untuk bangun di tengah malam dan melakukan shalat malam, patut untuk kita pertahankan dan selalu istiqomah.

Marilah kita pacu semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, agar kebaikan itu muncul ke permukaan bumi. Sebab, apabila orang-orang baik tak tergerak untuk berbuat baik, maka sungguh nantinya keburukanlah yang akan hadir di kehidupan.

Janganlah mudah berpaling ke belakang dan mundur dari arena perlombaan ini. Tujuannya ialah tak lain, yaitu agar syiar kebaikan ini tumbuh dan berkembang ke seluruh penjuru dunia.

Yuk saling menasehati dalam hal-hal baik!

Jadi, sudah siap untuk berlomba dalam kebaikan? 

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

-
Referensi dari KUTUB, disertai dengan tambahan (^^;)

Jadilah Golongan yang Sedikit

Bismillahirrahmanirrahim.

-
Hari 13
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


JADILAH DARI YANG SEDIKIT
-
Ketika Umar bin al-Khattab (رضي الله عنه) sedang berjalan di pasar, ia melewati seorang pria yang sedang memohon,

اللهم اجعلني من القليل اللهم اجعلني من القليل

"Ya Allah, jadikan saya dari yang sedikit! Ya Allah jadikan saya dari yang sedikit!"

Lalu 'Umar berkata kepadanya, "Dari mana kamu mendapatkan doa ini' (permohonan) ini?"

Dan orang itu berkata, "Allah di dalam Kitab-Nya berfirman :

و قليل من عبادي الشكور

"Dan (hanya) sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba' : 13)

Lalu 'Umar menangis dan menegur dirinya, "Orang-orang lebih berpengetahuan daripada kamu, yaa Umar! Ya Allah jadikan kami dari yang sedikit dari hamba-Mu.."

Kadang-kadang ketika kita menasehati seseorang untuk meninggalkan dosa, mereka merespon dengan berkata, "Tapi semua orang melakukannya, itu bukan hanya aku!"

Subhanallah..

Tapi jika kita mencari kata-kata "kebanyakan orang" dalam Al-Qur'an, maka kita akan menemukan bahwa kebanyakan orang:

ولكن اكثرهم لا يعلمون

"Namun kebanyakan orang tidak mengetahui." (Al A'raf : 187)

ولكن أكثرهم لا يشكرون

"Dan kebanyakan orang tidak menunjukkan rasa terima kasih." (Al Baqarah : 243)

و لكن اكثر الناس لا يؤمنون

"Dan kebanyakan orang tidak beriman." (Hud : 17)

Dan jika kita mencari kata "sebagian besar dari mereka", kita akan menemukan bahwa sebagian besar dari mereka adalah:

و آن أكثرهم فاسقون

"...pasti tidak (taat) Fasiq" (Al Maidah : 59)

و لكن أكثرهم يجهلون

"...tidak mengetahui." (Al An'am : 111)

بل أكثرهم لا يعلمون الحق فهم معرضون

"...berpaling" (Al Anbiyaa : 24)

Maka, jadilah golongan yang "sedikit..."

Allah Ta'ala telah berfirman tentang mereka:

و قليل من عبادي الشكور

"Dan (hanya) sedikit dari hamba-Ku yang berterima kasih." (Saba' : 13)

و ما امن معه الا قليل

"Tapi tidak ada yang percaya dengan Dia, kecuali sedikit." (Hud : 40)

في جنات النعيم ثلة من الاولين و قليل من الآخرين

"Berada dalam Surga kenikmatan, segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian." (Al Wãqi'ah : 12-14)

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan hamba-Nya yang sedikit. Aamiin.

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Wednesday, June 7, 2017

Berbaik Sangka kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 12
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


"Tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, kecuali Allah akan memberinya sesuai dengan persangkaan tersebut, hal itu karena kebaikan semuanya berada di tangan-Nya." (HR. Abu Dawud)
-
Kadang Allah ingin selalu dekat dengan hambanya dengan cara yang unik.
Saat kita tidak paham maksud Allah, tetaplah memilih percaya.
Saat kita tertekan oleh kekecewaan, tetaplah memilih bersyukur.
Saat rencana hidup berantakan, tetaplah memilih berserah diri.
Saat putus asa melingkupi, tetaplah memilih untuk maju.
Rencana Allah selalu lebih baik dari yang kita rencanakan. Tetap berusaha, berdoa dan tetap berbaik sangka atas ketetapan-Nya.

D.E.P
-

Rasulullah SAW bersabda:
"Segala sesuatu itu ada hakikatnya. Seorang hamba tidak akan sampai kepada hakekat iman sampai ia meyakini bahwa apapa yang (ditakdirkan) menimpanya, tidak akan meleset darinya. Dan apapa yang (ditakdirkan) tidak menimpanya maka tak akan menimpanya." (HR Ahmad)

Hadits ini menunjukkan bahwa beriman kepada takdir adalah hakekat iman.
Walaupun manusia berusaha tapi bila Allah tidak menakdirkan untuknya, ia tak akan meraihnya.
Walaupun usaha itu perkara yang diperintahkan oleh Allah, namun kewajiban kita hanyalah berusaha. Allah yang menentukan.
Lalu ridha-lah dengan semua ketentuan Allah atasnya dan berbaik sangkalah, serta yakin bahwa Allah pasti sayang pada hamba-Nya.

(Ustadz Badrusalam)

-

Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Dan Allah Maha Mengetahui dan kalian tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216)

Lantas, kita sebagai manusia tau apa sih?

Sungguh.. Allah mengabulkan harap dan pinta kita melalui berbagai cara, diantaranya dengan menggantikan apa yang kita inginkan dengan apa yang kita butuhkan.

Boleh jadi di balik kejadian-kejadian yang kita jumpai tiap harinya, baik suka ataupun duka, tersimpan suatu makna di dalamnya. Menyenangkan ataupun tidak, tentu saja itu karena Kuasa dan Kebesaran-Nya. Dan boleh jadi DIA tengah 'menitipkan pesan' melalui berbagai macam peristiwa serta kejadian yang ada di sekeliling kita.

Oleh karenanya, tetaplah berbaik sangka. Karena sungguh, yang mengetahui apa-apa saja yang baik bagi seorang hamba adalah DIA, Dzat Yang Maha Pencipta, bukan kita, manusia yang berkewajiban menjalankan tugas sebagai seorang hamba…

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

-

Jangan Meremehkan Kebaikan Kecil

Bismillahirrahmanirrahim.


-
Hari 11
#RamadhanAsyik
#Ramadhan1438H


Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun itu

:)

Ini merupakan salah satu nasehat Lukman kepada anaknya,
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman : 18)

Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan berwajah cerialah di hadapan orang lain.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56)

Jika kita menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika kita membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Jika kita memberikan sebuah pena pada saudara kita agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik.

Dalam suatu hadits juga dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya,
“Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itu menjadi salah satu yang bisa kita renungkan. Bagaimana apabila Allah sampai menolong kita? Bukankah tentu saja persoalan yang terkesan sulit dapat diselesaikan dengan mudah bahkan tak terduga ketika DIA Menolong kita? Maka yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Oleh karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain.

Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum, yang seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita, hendaklah dengan wajah yang tersenyum. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian.

-

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Referensi rumaysho 

-