Wednesday, December 4, 2013

Detik-detik kematian Rasulullah.. :"

Bismillahirrahmanirrahim.
Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah Ta'ala melalui kehidupan Rasulnya. 
Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya.

"Wahai umatku... kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya, maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian yakni Al-Qur'an dan Sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau mencintai aku dan orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku..."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang dan menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca.
Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.
Usman menghela nafas panjang.
Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Isyarat itu telah datang, sudah tiba saatnya. Rasulullah akan meninggalkan kita semua." keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia...
Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu. 

Matahari semakin tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam. "Bolehkan saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maaf, Ayahku sedang demam." kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?". "Tak tahulah Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah seluruh sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya. "Ketahuilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut." kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakkan tangisnya.  

Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskanlah apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruh-mu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." kata Jibril. Tapi semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" Tanya Rasulullah. Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya." kata Jibril meyakinkan. 

Detik-detik wafatnya Rasulullah semakin dekat, saatnya izrail melakukan tugasnya. Perlahan-lahan Ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini..." perlahan desiran suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya sementara Ali yang ada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril pun memalingkan muka. "Jijik kah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasul pada malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal?" kata Jibril.
Sesaat kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Yaa Allah, dahsyat sekali maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukkan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatii.." Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan.
Mampukah kita mencintai Rasulullah sebagaimana beliau begitu peduli dengan nasib umatnya :"
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya...~~~

No comments:

Post a Comment