Monday, October 14, 2013

Seminar Mahasiswa: “Peran Mahasiswa dalam Membentuk Peradaban Islam”

Oleh. Ust. Abdul Wahid, Lc, M. E. I
(Dengan beberapa ringkasan serta tambahan kata-kata dari saya pribadi)

Sisi-sisi bagi umat muslim:
  • Lingkungan keluarga
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim : 6)
  • Masjid
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” 
(QS- At-Taubah : 18)
  • Sekolah, Kampus, atau Majelis
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikaakan kepadau, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dkatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadillah : 11)

Apa saja yang harus dipersiapkan oleh pelajar atau mahasiswa sebagai kader dakwah?
  • MENTAL >>> Kita harus siap segala macam pemahaman yang mungkin akan berlainan, bahkan bertentangan.
  • NIAT >>> Kalau niat sejak awalnya sudah ngga benar, maka untuk ke depannya akan menjadi ngga benar juga. Naudzubillah.
Sebaiknya mengucapkan niat sebelum melaksanakan suatu hal, ketika melaksanakan hal tersebut, serta setelah melaksanaan hal itu.

Apakah ILMU yang kita cari?
  1. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran : 18)
  2. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan-nya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)

Nah, ilmu yang kita cari tuh jangan sampai membuat kita melupakan-Nya!
Inti dari sebuah ilmu adalah…RASA TAKUT
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (Azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS. Faathir : 37)

Maka, sebaik-baik ilmu adalah yang merupakan wahyu, berasal dari Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dikatakan bahwa, sungguh HINA jika seorang anak menyia-nyiakan segala peluh dan perjuangan seorang ayah. Karena beliau-lah yang bertanggung jawab atas keluarganya, serta atas hartanya. Tidak sedikit pula remaja ataupun anak-anak yang dalam usia menuju dewasa bahkan anak yang kiranya masih di bawah umur seringkali lebih mengutamakan untuk menjaga komunikasi dengan teman-teman ataupun orang yang bukan mahramnya melalui segala macam media sosial atau messenger (seperti: What’sApp, Line, WeChat, KakaoTalk, Y!Mail, Facebook, Twitter, Mig33, dan sebagainya). Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses itu semua. Dan sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu untuk berbincang atau chatting dengan teman mereka atau semacamnya, bukan kepada orangtua mereka yang seharusnya lebih mereka utamakan dari itu semua. Mereka lebih mengkhawatirkan orang lain, bukan orangtua mereka, seperti bertanya “sudah makan atau belum?” dan sebagainya. Pernahkah kita bertanya kepada Ayah atau Ibunda kita, apakah mereka sudah makan? Coba tanyakan hal tersebut pada pribadi masing-masing…~

Ada 2 kisah masyhur yang dapat kita teladani:
  1. Di suatu Universitas ada seorang dosen yang merupakan seorang pemikir yang luar biasa. Beliau telah menyalurkan pemikiran-pemikiran hebatnya ke dalam sebuah buku karyanya. Suatu ketika beliau mengatakan bahwa tak seharusnya umat Islam merasa kesal atas berbagai aksi pembakaran Al-Qur’an yang telah terjadi dibeberapa negara. Beliau melanjutkan bahwa Al-Qur’an yang sebenarnya hanya terdapat di lauh mahfuzh, beliau bahkan sampai menertawakan hal tersebut. Di saat yang bersamaan pula ada seorang mahasiswa yang dengan percaya dirinya, dia menghampiri sang dosen. Mahasiswa tersebut mengambil buku hasil karya sang dosen lalu meludahinya, kemudian menginjak buku tersebut di hadapan sang dosen dan rekan-rekannya. Tanpa pikir panjang, sang dosen pun marah dan memaki-maki mahasiswa tersebut atas apa yang telah dia lakukan. Dengan santainya mahasiswa tersebut berkata, “Mengapa Bapak marah karena saya menginjak buku karya Bapak?”. Sang dosen pun menjawab, “Jelas saja saya marah atas apa yang telah kamu lakukan terhadap buku itu, karena itu adalah buku yang berisi segala hasil pemikiran saya.” Mahasiswa tersebut pun menjawab, “Tidak seharusnya Bapak marah bahkan sampai memaki-maki saya karena ini hanya sebuah buku, sedangkan pemikiran Bapak hanya ada dalam otak Bapak.” Dan dalam waktu yang cukup singkat, sang dosen pun segera merapikan segala barang bawaan beliau lalu meninggalkan ruangan dengan rasa malu. Subhanallah :’)
  1. Suatu ketika ada seorang Ustadz dan pende** sedang melakukan percakapan. Sang pende** pun berkata, “Para penganut Agama Islam itu bodoh karena mereka menyembah apa yang tidak berwujud dan tidak nyata. Berbeda dengan agama saya yang menyembah ‘sesuatu’ yang benar-benar nyata.” Kemudian sang Ustadz pun beranjak dari tempat duduknya untuk membuat secangkir teh dengan gula yang agak dilebihkan. Kemudian Ustadz tersebut memberikan teh itu kepada pende**, kemudian sang Ustadz menanyakan bagaimana rasa teh tersebut. Maka pende** itu pun berkata bahwa teh yang diminumnya manis. Sang Ustadz bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama, maka pende** tersebut tetap berkata bahwa teh yang diminumnya itu manis. Kemudian sang Ustadz meminta pende** untuk menggambarkan bagaimana rasa manis yang ia maksudkan. Terdiam. Pende** itu berulang kali berkata bahwa teh itu manis, kemudian terdiam. Dan pada akhirnya sang Ustadz pun berkata bahwa Rabb yang disembah oleh umat Muslim itu seperti rasa manis yang dikatakan pende**. Yaitu merupakan sesuatu atau Dzat yang tidak dapat dilukiskan serta digambarkan secara nyata, tetapi itu tuh ada dan terasa secara nyata. Subhanallah :’)

Mari rumuskan kesimpulan dalam kedua kisah yang subhanallah tersebut :’)
Salah satu poin yang cukup penting dari kedua cerita tersebut adalah “Kepercayaan diri seorang muslim itu harus terbina.” Dan itu hanya merupakan salah satu hikmah yang dapat kita simpulkan. Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan kunci utama yang memang harus kita jaga serta tanamkan dalam diri kita masing-masing.
Ada seorang pende** yang mengatakan, “Hilangkan Al-Qur’an dari dalam dada seorang muslim, maka itulah kehancuran muslim yang sesungguhnya.” Nah, terlihat jelas dari kalimat tersebut bahwa Al-Qur’an merupakan kunci utama umat Muslim. Ialah sebagai pedoman serta petunjuk dalam kehidupan untuk senantiasa menuju ke jalan-Nya. Maka apabila seorang Muslim tidak menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an, bersiaplah dia untuk merasakan yang namanya kehancuran. Naudzubillah. Semoga kita bukan merupakan golongan yang seperti itu.

Kembali lagi kepada ilmu, dalam menuntut ilmu itu kita harus memperhatikan ADAB. Sebagai contoh, seorang guru. Beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang juga sebagai panutan serta teladan bagi muridnya. Apabila guru bersikap terlalu hedonis, maka secara otomatis muridnya akan bertindak jauh lebih hedonis. Maka hati-hatilah dalam bertindak dan selalu waspada akan segala hal yang terjadi di sekeliling kita. Usahakan agar kita yang dapat membaur dengan sesama, jangan sampai melebur atau terbawa oleh arus yang dapat membawa kita kepada kehancuran. Kemudian sebagai seorang murid, kita tuh harus tetap hormat terhadap guru kita. Siapapun beliau dan seperti apapun beliau. Pokoknya jangan mau kalah sama 'KUNG FU PANDA' yang begitu mempunyai rasa hormat kepada gurunya.
Akidah yang benar itu tidak dapat menentukan bahwa orang yang memiliki akidah tersebut akan selalu benar. Tak menutup kemungkinan pula bahwa akidah seseorang itu memang tepat, tetapi orang tersebut tidak dapat menerapkan akidahnya sesuai dengan ilmu yang dia miliki. Dapat dikatakan bahwa dia hanya sekedar tau saja.

Nah, oleh karena itu.. Dalam menuntut ilmu, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:
  • Dimana kita dapat menerapkan ilmu itu?
  • Pada saat apa ilmu itu harus kita terapkan?
  • Bagaimana cara menerapkan ilmu tersebut?
Lalu, apakah selesai pencarian kita akan ilmu dengan sebatas penerimaan ijazah?
Tentu saja TIDAK !!!
Tugas kita sebagai mahasiswa sekaligus sebagai generasi penerus bangsa adalah untuk mengembalikan segala macam pandangan, pemikiran serta pemahaman dari orang-orang terdekat dan orang-orang di sekitar kita agar dapat sama-sama menuju ke suatu jalan yang benar-benar diridhai-Nya. Suatu hal penting yang harus diingat adalah AMANAH. Sesungguhnya AMANAH itu yang harus kita jaga, dan AMANAH itu bukan hanya berupa lembaran-lembaran.

Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi kita untuk lebih MANTAB ke depannya ;;)
*aamiin allahumma aamiin~

1 comment:

  1. Asik jjuga ni tulisan..., kayaknya butuh 4 jam nulis artikel ini .

    ReplyDelete